Ramadhan 03 : Awal yang Tidak Keren Berakibat Pada Ending yang Kacau

tak.jil | makanan yang disajikan saat berbuka puasa

Niat Picik dan Akibatnya.

Selama kuliah dan mengalami Ramadhan di perantauan, saya tidak pernah berburu bukaan gratis yang biasa disediakan masjid-masjid. Dulu saya hanya “berburu” suasana tarawih di beda masjid saja. Apalagi masjid-masjid yang punya sejarah.

Baru kali lah ini saya melakukan safari berbuka bersama teman. Benar-benar pengalaman asing… Baca lebih lanjut

Iklan

Menulisi Ramadhan

Sejak menulis artikel “konsisten kapan-kapan” termasuk mengingat betapa saya sudah lama berniat konsisten menulis tapi tak kunjung berbuat demikian, akhirnya Ramadhan pun saya jadikan momentum untuk membentuk kebiasaan.

Dulu, saya cermati Om Ir pernah bikin tantangan menulis di bulan April. Itu berbarengan dengan saya mengikuti event menulisi April di Instagram. Di akhir, Om Ir rampung. Sementara saya tidak. Saya cuma bertahan 15 hari, lalu lenyap. Entah bagaimana struggle-nya Om Ir menyelesaikan tantangan yang ia buat sendiri itu. Yak, memang kadang kelewat sehari lalu postingannya di rapel. It’s normal.

Juga ketika melihat anggota-anggota grup menulis menyelesaikan tantang 30 hari ODOC (One Day One Chapter), saya cuma berdecak kagum saja. Padahal diantara mereka profesinya beragam sekali. Ada mahasiswa, ada murid sekolahan, ada pegawai kantoran, ibu rumah tangga dan lain-lain yang tentunya memiliki kesibukan utama dalam kehidupannya. Tapi, mengikuti event menulis sparta begitu…. Keren!

Saya juga gak mau ketinggalan keren. Dong. Saya akan mencoba menulisi bulan Ramadhan. Setiap hari saya akan posting artikel dengan tema bebas. Ya, bebas saja lah. Bingung juga mau bikin kategori tema-nya. Di ARC Ramadhan ini, saya bebas menulis.

Tantangan menulis di Bulan Ramadhan

Ada yang mau ikutan? Tenang saja. Program one month khatam-mu tidak akan terbengkalai kok. Tantangan menulis ini cuma buat habit-habit-an saja. Yang jelas, ketika menulis sudah menjadi kesenangan, intuisi juga semakin tajam. Yang sederhana dapat didedah secara menarik. Tak perlu tema yang rumit. Yang menyehari-hari saja. Kalau mau semacam “mistik keseharian” ala Heidegger (?)

Itung-itung tafakur juga. Biasanya kan kalau baca al-Qur’an di bulan Ramadhan banyak merenungnya begitu. Tangkaplah renungan itu menjadi sebentuk wujud yang dapat didialektikakan bersama. Siapa tahu ketika dibaca dapat membuka pintu hidayah :mrgreen: Menjadi wasilah kebaikan, berpahala lhoo~

Atau Ramadhan ini momentumnya sering hadir di kajian, bukan? Maka alangkah menyenangkan bisa berbagi ilmu melalui postingan sederhana di blog. Lagipula, kalau keseringan mendengarkan tausyiah juga suka lupa kan? Nah, ikatlah memori itu dengan menuliskannya :mrgreen:

Yuk lah. Mulai berderap kepada kebermanfaatan. Bukan melulu pada menulis sih. Istilah “menulisi Ramadhan” hanya ungkapan penggerak gen kebaikan (*ceileh!) saja. Intinya, mari jalani bulan Ramadhan ini dengan suka cita, tanggung-jawab dan jangan lupa berbagi.

Mau bagi-bagi takjil buat saya, boleh~

Iyeay ❤ !

Malam yang Filosofis

Baru pertama kali ini saya jadi anak asrama. Rasanya aneh. Saya yang biasanya nyuci sendiri, tidur sendiri, makan sendiri, apa-apa sendiri, sekarang di asrama, kami berbagi. Alarm ke-independen-an saya menyala. Ini privasi! Begitu teks notifikasinya.

batu air

Fyuuhh~

Tapi pikiran selfish saya perlahan bisa diperbaiki kok. Kalau punya goal achievement yang jelas mah, rintangan internal apapun mestinya tidak menyurutkan langkah :mrgreen:

Malam itu saya sebut sebagai malam filosofis karena diadakan acara rapat penghuni asrama. Tak seberapa gimana sih sebenarnya. Tapi, lagi-lagi ini pertama kalinya untuk saya. Cuma membahas masalah kebersihan dan jadwal kegiatan mengaji plus pengembangan diri. Kesannya pun seperti ngobrol biasa saja, tidak formal-formal amat. Nyaman lah. Baca lebih lanjut