Sastra untuk Pendidikan

Menyoal Kualitas Pendidikan

LIS.TEN | pic via pinterest

Sesuatu yang telah jamak diketahui bahwa globalisasi yang kemudian memunculkan generasi materialis-konsumeris-individualis mengakibatkan nilai-nilai kehidupan dalam masyarakat makin terdistorsi. Solidaritas sosial makin rapuh, kekerasan sosial merebak, dan aspek-aspek kehidupan makin tergiring ke arah neoliberlisme. Menurut YB Mangunwijaya, dalam suasana inilah kemudian pendidikan dikemas sebagai komoditas dan pemerolehannya sebagai persaingan. Berbasiskan kecenderungan hasrat politik (berkuasa) dan ekonomi (keuntungan), substansi pendidikan filosofis tergeser kepada ancangan pragmatis. Akibatnya, banyak orang berpendidikan tetapi sesungguhnya tidak terlalu banyak menunjukkan kualitas keterdidikannya. Baca lebih lanjut

Iklan

Indonesia (suruh) Membaca

beradu pikiran

Ada yang menarik dari ungkapan Seno Gumira Ajidarma dalam pidatonya di Bangkok saat penerimaan Hadiah Sastra Asia Tenggara berikut :

“Masyarakat kami adalah masyarakat yang hanya membaca untuk mencari alamat, membaca untuk tahu harga-harga, membaca untuk melihat lowongan kerja, membaca untuk menengok hasil pertandingan sepak bola, membaca karena ingin tahu berapa persen besar diskon obral di pusat perbelanjaan dan akhirnya membaca subtitle opera-opera sabun di TV untuk sekedar hiburan.

Sementara itu bagi lingkaran eksklusif kaum intelektual di negeri kami, apa yang disebut puisi, cerpen, atau novel barangkali hanya dianggap mainan remaja saja….”—(Anton Kurnia : 2016).

Baca lebih lanjut