Menulisi Ramadhan

Sejak menulis artikel “konsisten kapan-kapan” termasuk mengingat betapa saya sudah lama berniat konsisten menulis tapi tak kunjung berbuat demikian, akhirnya Ramadhan pun saya jadikan momentum untuk membentuk kebiasaan.

Dulu, saya cermati Om Ir pernah bikin tantangan menulis di bulan April. Itu berbarengan dengan saya mengikuti event menulisi April di Instagram. Di akhir, Om Ir rampung. Sementara saya tidak. Saya cuma bertahan 15 hari, lalu lenyap. Entah bagaimana struggle-nya Om Ir menyelesaikan tantangan yang ia buat sendiri itu. Yak, memang kadang kelewat sehari lalu postingannya di rapel. It’s normal.

Juga ketika melihat anggota-anggota grup menulis menyelesaikan tantang 30 hari ODOC (One Day One Chapter), saya cuma berdecak kagum saja. Padahal diantara mereka profesinya beragam sekali. Ada mahasiswa, ada murid sekolahan, ada pegawai kantoran, ibu rumah tangga dan lain-lain yang tentunya memiliki kesibukan utama dalam kehidupannya. Tapi, mengikuti event menulis sparta begitu…. Keren!

Saya juga gak mau ketinggalan keren. Dong. Saya akan mencoba menulisi bulan Ramadhan. Setiap hari saya akan posting artikel dengan tema bebas. Ya, bebas saja lah. Bingung juga mau bikin kategori tema-nya. Di ARC Ramadhan ini, saya bebas menulis.

Tantangan menulis di Bulan Ramadhan

Ada yang mau ikutan? Tenang saja. Program one month khatam-mu tidak akan terbengkalai kok. Tantangan menulis ini cuma buat habit-habit-an saja. Yang jelas, ketika menulis sudah menjadi kesenangan, intuisi juga semakin tajam. Yang sederhana dapat didedah secara menarik. Tak perlu tema yang rumit. Yang menyehari-hari saja. Kalau mau semacam “mistik keseharian” ala Heidegger (?)

Itung-itung tafakur juga. Biasanya kan kalau baca al-Qur’an di bulan Ramadhan banyak merenungnya begitu. Tangkaplah renungan itu menjadi sebentuk wujud yang dapat didialektikakan bersama. Siapa tahu ketika dibaca dapat membuka pintu hidayah :mrgreen: Menjadi wasilah kebaikan, berpahala lhoo~

Atau Ramadhan ini momentumnya sering hadir di kajian, bukan? Maka alangkah menyenangkan bisa berbagi ilmu melalui postingan sederhana di blog. Lagipula, kalau keseringan mendengarkan tausyiah juga suka lupa kan? Nah, ikatlah memori itu dengan menuliskannya :mrgreen:

Yuk lah. Mulai berderap kepada kebermanfaatan. Bukan melulu pada menulis sih. Istilah “menulisi Ramadhan” hanya ungkapan penggerak gen kebaikan (*ceileh!) saja. Intinya, mari jalani bulan Ramadhan ini dengan suka cita, tanggung-jawab dan jangan lupa berbagi.

Mau bagi-bagi takjil buat saya, boleh~

Iyeay ❤ !

Iklan