Mainstream Baper Nikah

daripada Kurang Mafhumnya

Ada hal yang sesungguhnya menggelitik pikiran saya untuk direnungkan lebih dalam. Sebagian besar motifnya mungkin berangkat dari rasa skeptis terhadap sesuatu yang umum terjadi tapi tidak touching my heart, sehingga membuat saya harus mengulik hal ini agar dianggap dewasa dan berakal sehat.

floating leaf

Arus (kultur) apakah itu?

Apa lagi kalau bukan soal pernikahan. Minimal kode pernikahan lah kalau tidak gentle-gentle amat membicarakan secara gamblang “progress” ikhtiyar dalam rangka mencari dream husband to-be nya. Pada masa twenty something begini biasanya perempuan single memiliki slot diskusi sendiri soal serba-serbi munakahat. Teman-teman saya tenggelam dalam euforia munakahat tersebut. Hanya beberapa orang yang saya rasa tidak terlalu ambil pusing dengan berbagai sebab musabab baper nikah. Dan tipikal orang yang tidak baperan itu kebetulan seorang yang ber-mindset sosial, berjiwa pergerakan dan berpendirian continuous improver. Alias orang-orang yang punya agenda besar. Pun saya. Meski implementasinya masih keong. Saya senang dengan teman-teman yang seperti itu. Meski biasanya mereka agak songong ha ha:mrgreen: (apakah saya ternyata belajar songong dari mereka? Saa). Baca lebih lanjut

Iklan