BAHASA : Pelajaran yang Ribet

Apa sih pelajaran yang paling susah? Kalau menurut saya sih Matematika. Mengingat rumus, main logika/ analogi matematis, dan menghitung cepat-tepat adalah sesuatu yang terlalu keren untuk ukuran otak saya yang mini. Tapi, belajar bahasa juga susah lho. Setidaknya, harus kuat di ingatan karena sering menghapal kosakata atau istilah. Beruntunglah kalau bahasa yang hendak di pelajari adalah bahasa alfabetik yang tidak berjenis kelamin. Tapi, bagaimana kalau bahasa itu ternyata memakai huruf simbol dan berjenis kelamin? Itu ribet yang pertama :mrgreen:

Untitled

jangan setengah-setengah

Saat ini, saya punya tujuan untuk bisa membaca referensi berbahasa arab. Saya belajar bahasa Arab dari nol (gak nol juga sih, kan dari bocah sudah hapal huruf hijaiyah dan bisa ngaji—meski belum tartil-tartil amat). Referensi berbahasa Arab itu bisa al-Qur’an, Hadis, kitab fikih atau buku modern lainnya.

Baca lebih lanjut

Iklan

Ketika kamu dan buku punya frekuensi getaran sama, kalian akan beresonansi, dan secara ideal akan menciptakan gelombang yang memberdayakan sekitar

Buku itu cermin pikiranmu.

Yeay! Akhirnya saya  update lagi setelah seminggu hilang tanpa jejak :mrgreen: Kalau lagi di rumah memang malas untuk buat draft artikel. Lagipula, saya kan lebih suka mengonsep ketimbang mengeksekusi #tabok

Ada ungkapan yang mengatakan bahwa kamu adalah apa yang kamu baca. Goal achievement seseorang bisa dinilai dari koleksi perpustakaannya, terutama buku yang paling sering ia pegang. Keintiman kamu dengan buku (dengan tema) tertentu itu (bisa jadi buku lebih dari satu) sesungguhnya mencerminkan apa yang sedang kamu pikirkan dan akan lakukan. Baca lebih lanjut

Sebutkan Hal Aneh dari Dirimu! 

Setiap orang punya kebiasaan. Baik itu kebiasaan umum maupun kebiasaan aneh. Budaya yang dianut berpengaruh besar terhadap terbentuknya kebiasaan.

Papan tulis

Misal, kalangan yang memiliki budaya baca yang cukup tinggi akan punya kebiasaan beli buku dari alokasi anggaran beli pakaian. Atau kebiasaan mencium buku baru. Atau kebiasaan menaruh tanggal beli di buku baru. Dan lain-lain. Dan lain sebagainya.
Tapi, adakah kalian punya kebiasaan yang bagimu biasa saja, tapi bagi orang lain sangat aneh? Saya punya! :mrgreen: Kebiasaan ini saya sebut dengan ciri  khas anti-mainstream seorang saya khi khi…

1. Meremas buku biar gampang dibuka

Buku baru, otomatis kertasnya masih rapi dan cenderung menempel satu sama lain. Untuk memudahkan saya menemukan materi yang ada di halaman tengah, biasanya sambil baca, sambil saya remas-remas kertas itu sampai lusuh. Tanpa melihat daftar isi, biasanya saya cepat menemukan.

Ini aneh? Ya Sangat aneh bagi orang lain. Kok rusakin barangnya sendiri? Memang gak sayang bukunya dikucel-kucel begitu? Bagi saya mah ini tindakan yang efisien. Saya justru aneh punya buku kok tampilannya masih sangat bagus. Kepada beberapa buku saya yang masih rapi bersinar, artinya saya jarang baca buku itu. Bagaimana dengan buku pinjaman? Biasanya saya tetap nekat kucel-kucel, di-stabilo-in atau digarisi dengan pulpen warna. Sebodo, ha ha… :mrgreen:

2. Pakai setelan baju tidur beda warna

Entah sejak kapan kebiasaan ini dimulai. Karena saya moody, saya biasanya menciptakan suasana yang bisa mengembalikan produktivitas secara mandiri. Mengapa harus mengandalkan dukungan dari luar kalau diri sendiri bisa bertindak nyleneh dan itu menyenangkan? Tapi setelan tak nyambung ini cuma berlaku untuk baju tidur. Kalau keluar pakaiannya nyleneh kan malu sendiri…

3. Menyebut semua benda lucu dengan sebutan “dedek sayang”

Sejak kecil saya sudah kecanduan Geographic Channel. Di sana kan banyak video dokumenter flora-fauna. Jadi, semua binatang (kecuali babi) dan tanaman saya sebut dengan dedek sayang. Kenapa? Karena saya sangat suka mereka. Mereka banyak ragamnya, dengan cara bertahan hidup yang unik dan sifat-sifat yang khas.

Selain flora-fauna, saya menyebut semua benda milik saya dengan sebutan dedek sayang juga. Boneka, smartphone, notebook, buku (terutama), dan semuanya. Pokoknya semuanya. Entah kenapa saya menyayangi mereka. Apa karena sense belonging saya di atas rata-rata orang?  Saya cuma bepikir harus menjaga barang dengan baik. Saat ini saya masih pakai helm yang sama pas SMA lho. Padahal sudah beberapa tahun yang lalu.

Frasa “dedek sayang” membuat saya menjaga barang dengan baik. Tapi, kembali ke sifat alami saya. Kalau ada satu barang yang fungsinya hilang, meski barang itu masih bagus, pasti saya buang atau jual. Keep it simple.

4. Menarik wafer kalengan baru bukan pada wafer yang ada plastiknya (ini yang paling saya suka!)

Saya orang yang cenderung taat aturan, tapi untuk hal-hal seperti ini saya biasanya cari cara sendiri untuk melakukannya. Wafer kalengan baru adalah benda paling menyenangkan bagi saya. Entah kenapa selalu ada dorongan untuk saya menarik wafer yang tidak ada plastiknya. Susah? Iya susah. Tapi di situ sisi menyenangkannya. Senang itu memang sederhana, kan? 😀

Kalau kalian, punya kebiasaan aneh apa? Komen yuk (^_^)/

Malam yang Filosofis

Baru pertama kali ini saya jadi anak asrama. Rasanya aneh. Saya yang biasanya nyuci sendiri, tidur sendiri, makan sendiri, apa-apa sendiri, sekarang di asrama, kami berbagi. Alarm ke-independen-an saya menyala. Ini privasi! Begitu teks notifikasinya.

batu air

Fyuuhh~

Tapi pikiran selfish saya perlahan bisa diperbaiki kok. Kalau punya goal achievement yang jelas mah, rintangan internal apapun mestinya tidak menyurutkan langkah :mrgreen:

Malam itu saya sebut sebagai malam filosofis karena diadakan acara rapat penghuni asrama. Tak seberapa gimana sih sebenarnya. Tapi, lagi-lagi ini pertama kalinya untuk saya. Cuma membahas masalah kebersihan dan jadwal kegiatan mengaji plus pengembangan diri. Kesannya pun seperti ngobrol biasa saja, tidak formal-formal amat. Nyaman lah. Baca lebih lanjut