Kumpulan Kesialan dan Kebodohan

Judul : Kritikus Adinan
Genre : Fiksi/ Kumpulan Cerpen
Pengarang : Budi Darma
Penyunting : Adham T. Fusama
Penerbit : Bentang Pustaka
Cetakan : Pertama, Mei 2017
Halaman : 274 hlm
ISBN : 978-602-291-389-4

Kritikus Adinan via imgrum

“Kau merasa menjadi raja karena membaca kata-kata, tapi kau bukanlah apa-apa karena kata-kata itu hanyalah udara hampa.”

Sama seperti kebanyakan tokoh dalam kumpulan cerpen ini, Kritikus Adinan digambarkan sebagai sosok yang kritis, tenang-bersahaja, baik dan tidak suka berbuat ribut-ribut.

Tapi dari sana lah orang-orang inosen macam itu menemui kesialannya. Gambaran sosok yang kemudian pasrah, nrima, bebas-terserah, dan penuh kesabaran menyiratkan sebuah pembacaan terhadap jiwa-jiwa yang menyerah. Kritikus Adinan lelah menulis kritiknya yang tak lagi diminati. Kritikus Adinan lelah dengan perjuangannya akan keadilan.

Sama seperti kebanyakan tokoh riil dalam kumpulan cerita kehidupan ini, adakalanya idealisme yang tak berujung pada ketercapaian membuat seseorang ‘lari’ dari kejaran prinsipnya sendiri dengan membangun prinsip ‘aman’ di kepalanya demi membaik-baik diri bahwa ‘kekalahan’ tidak pernah terjadi, yang ada hanya ketidaksesuaian-ketidaksesuaian realitas yang tak perlu dirisaukan karena itu terjadi sesuai dengan hukum alam dan hukum alam diluar pekerjaan dirinya.

Cara ‘lari’ yang tampak elegan bagi Kritikus Adinan. Dikisahkan dengan penggambaran watak sopan, sabar, tidak suka ribut-ribut dan menuruti birokrasi dengan baik, Kritikus Adinan menjual citranya dengan sempurna hingga pembaca kisahnya mulai bersimpati.

Tapi kecacatan merupakan tema sentral dalam kumpulan cerpen ini. Sosok inosen Kritikus Adinan mendapat celanya terbuka ketika ia terus digambarkan mengikuti prosedur Pengadilan yang mengadilinya tanpa sebab yang masuk akal.

Tampak bahwa terdapat pembacaan ganda dalam cerpen ini. Sosok seorang idealis yang layu ditelan komoditas dan sosok hakim yang kurang amanah dalam menjalankan kewajibannya. ‘Pertemuan’ mereka layaknya ‘orang bodoh’ saja yang akhirnya berujung pada ‘kesialan’ tokoh yang lebih lemah kedudukannya dari tokoh yang lain.

Selain kisah sang Kritikus Adinan, masih ada empat belas cerita dalam kumpulan cerpen Budi Darma ini yang memilik kemiripan kesialan dan kebodohan.

Tak tanggung-tanggung, beberapa diantaranya Budi Darma mengisahkan tokoh perempuan dengan karakternya yang menjijikan, hina dan jalang. Agaknya cerita-cerita di sini mengusung adagium, “Wanita-racun dunia”. Segala kelihaian yang ada pada diri wanita dapat membius banyak laki-laki dan mereka ribut-riut karenanya bahkan rela mati karenanya. Sebagaimana kisahnya dalam Tiga Laki-laki Terhormat, Laki-laki Lain dan Potret itu, Gelas itu, Pakaian itu. Sungguh bodoh. Dan merupakan pembacaan terhadap kebodohan yang nyata.

Selain soal bodoh, kesialan yang sebenar-benarnya sial pun terangkum dalam cerita Senapan. Mengisahkan dua orang yang bersikukuh dengan obsesi absurdnya sendiri hingga masing-masing diantara mereka terperangkap dalam perjanjian konyol yang membuat masing-masing tampak bodoh satu sama lain. Bukan hanya bodoh karena kurang pekerjaan, tapi bodoh karena sudah mempertaruhkan nyawa hanya untuk muslihat-muslihat keabsurdan.

Salah satu cerita yang menarik dan bertempo cepat ada pada kisah Penyair Besar, Penyair Kecil. Penggambaran dua tokoh yang memiliki perbedaan keluasan sudut pandang membuat pembaca akan melihat kemirisan demi kemirisan yang jamak ada dalam setiap perjuangan. Begitu pun dalam cerita Bambang Subali Budiman. Penggambarannya sebagai cerpen ‘tavelling’ sangat menarik, berbau mistis, dan yang tak kalah menariknya ada pada kisah bertumpuk di dalamnya.

Dalam kumpulan lima belas cerpen tentang manusia ini, Budi Darma berhasil baik memadukan berbagai keabsurdan, kebodohan dan kesialan menjadi jalinan cerita yang menarik sekaligus sindiran yang sukses dan masih relevan. Ada kemiripan besar dalam cerpen-cerpennya di sini. Yaitu berawal dengan keanehan, keabsurdan dan keserba-entahan, kemudian berakhir juga dengan keanehan, keabsurdan dan keserba-entahan. Seperti sebuah visual dari satu potongan sobekan-sobekan poto yang ditampilkan dalam pigura, membuat pembaca melihatnya sebagai sesuatu yang mengandung pertanyaan.

Sebagaimana tuturan Budi Darma sendiri dalam pengantarnya mengenai obsesi kepengarannya, bahwa serangkaian pertanyaan yang terus menerus merupakan pendorong seorang pengarang untuk menulis. Agaknya ungkapan ini menunjukkan betapa luasnya cakup pandangnya terhadap kejamakan-kejamakan dan fenomena-fenomena hingga dengan kemampuan berkata-kata lihai, Budi Darma menyusunnya menjadi kisah-kisah absurd yang memberi ruang pengertian bagi satu sudut kehidupan. Jika tidak satu, ya dua. Atau barangkali tiga…

:mrgreen:

Iklan