Dari Pak Guru ke Pikiran Saya

Ini teman-teman (celeno) saya, saya yang fotoin. Yang di tengah adalah Master kami. Wakalas saat berada di IPA 1 selama 2 tahun. We are ADIDAS alias Anak DIDik A Satu atau Anak DIdik DAdang Suherman. Iyeay!

Alkisah, sekawanan anak bebek kami berkumpul di titik persimpangan untuk bersilaturahmi ke rumah Pak Guru Wakalas SMA.

Singkat cerita, sekawanan anak bebek (ok, saya mulai suka istilah ini) ini duduk lesehan saling melingkar. Pembicaraan kala itu seputar kuliah, kesibukan dan jodoh. Well, jujur saja, tidak ada yang begitu spesial dalam pembicaraan tersebut sampai ada dua ungkapan Pak Guru yang membuat saya tertarik. Baca lebih lanjut

Iklan

Parade Sebelum Lebaran : Sunshine Blogger Award

Saya kaget tiba-tiba Bang Desfortin memberi message via WA tentang ternominasinya saya dalam award ini. Saya kira beliau hanya jahil belaka atau sedang mencoba trend Mama Minta Pulsa. Waktu itu saya agak kelimpungan membaca postingannya karena sedang kumpul bukber bersama kawan SMA.

Walhasil, setelah dicek secara saksama, award ini ternyata perihal asik-asikan saja karena saya tidak menemukan siapa host award ini. Kedua, yang paling penting, tidak ada hadiahnya. Ha ha…

Dan seperti namanya, award Sunshine Blogger, nampaknya memberi kesan bahwa yang menerimanya adalah blogger yang postingannya bersinar (let say akibat stats-nya yang tinggi) atau malah orangnya yang mengeluarkan sinar semacam glow in the dark. Entahlah, saya kurang paham. Tapi karena menarik, saya terima saja award ini. Meski tak ada hadiahnya, itung-itung ngaraketkeun silaturahmi antar sesama blogger saja. Dan big thanks juga buat Bang Des sudah link saya dalam artikelnya tersebut.

* * *

Sebenarnya award ini lebih mirip challenge. Untuk yang tertarik (maksudnya yang saya tarik nanti), berikut aturan mainnya :

  1. Terimalah orang yang menominasikan Anda dalam posting blog dan link kembali ke blognya.
  2. Jawablah 11 pertanyaan yang diberikan oleh orang yang menominasikan Anda.
  3. Nominasikan 11 blog baru untuk menerima penghargaan dan tuliskan pertanyaan baru.
  4. Cantumkan peraturan dan tampilkan logo Sunshine Blogger Award di postingan Anda (bisa copas pic dia atas).

* * * 

Ini pertanyaan Bang Desfortin untuk saya. Akan saya jawab secara singkat saja karena kalau kepanjangan takut malah curhat :mrgreen:

(1) Apakah bakat menulis itu memang ada, atau itu hanya omong kosong? Mohon alasan logisnya!

Wah, biar saya intro dulu supaya tidak dianggap hoax. Saya orangnya kadang kurang logis. Titik. Jadi jawaban saya : bakat menulis itu ada. Kalau mengikuti penjelasannya Pak Agus Haryo Sudarmojo (penulis buku DNA Muhammad), bakat menulis bisa dimaknai dengan sifat cenderung senang curah gagasan dalam bentuk tulis (gen yang menyebabkan sesuatu, yaitu pandai menulis). Gen yang terkait dengan sifat-sifat pembentuk manusia atau yang sifatnya menyebabkan sesuatu dapat diaktifkan melalui cara berpikir. Jadi, bakat menulis yang masih off di tubuhmu tidak akan pernah jadi bakat kalau tidak diaktifkan. Atau dalam kata lain, jika tidak diaktifkan, maka kamu akan bilang ‘tidak punya bakat’. Padahal setiap orang punya potensi untuk ‘sesuatu’.

(2) Mengapa Anda memilih blog gratisan di wordpress?

Ah, selama yang gratis masih ada, kenapa tidak? Toh, saya tidak berniat untuk monetizing. Kalau untuk bisnis, saya lebih suka di bidang ekonomi riil saja. Jadi pedagang siomay misal. Dan perihal memilih wordpress, karena lebih enteng load-nya di HP ketimbang blogspot.

(3) Pilih mana, blog niche atau gado-gado? Mengapa?

Kalau saya berpikir profesional, pasti saya pilih blog niche. Banyak anime yang saya tonton, chara utamanya selalu punya SATU mimpi, dan dia KONSISTEN sampai akhir kisah untuk menggapai itu. Seperti Hoshitani Yuuta (anime Starmyu – anime musikal) yang bermimpi untuk bisa sepanggung dengan orang yang ia kagumi. Atau tim Demon Devil Bats yang ngebet ingin mengalahkan tim White Knight di anime Eyeshield 21. Tapi saya memang tidak berniat jadi pro di dalam dunia blogging. Blog cukup sebagai sarana latihan menulis saja. Jadi blog saya masih gado-gado.

(4) Sejauh mana pentingnya blogwalking dan saling komen untuk meningkatkan stats blog Anda?

Penting. Dengan blogwalking dan komen pastilah jejak kita ditelusuri balik oleh si dia yang kita kepoi blognya. Lama-lama stats makin meningkat. Tapi jangan lupakan update postingan berkualitas juga. Supaya blogger lain tidak asal kesasar saja hehe :mrgreen: *saya usahaken~

(5) Pernahkah Anda mengalami Writer’s Blog (mungkin writer’s block) dan bagaimana cara Anda mengatasinya?

Hem. Setiap orang yang masih berperasaan pasti mengalaminya. Writer’s block itu timbul dari rasa berupa jenuh, diterjemahkan akal berupa tak ada ide dan dieksekusi oleh tindakan berupa kemalasan.

Kalau saya mengalami ini, saya tinggal berhenti menulis dan mencari pelarian saja, semisal hunter buku hingga otak ini kembali tergelitik untuk menuliskan sebuah opini. Writer’s block saya memang biasanya akibat kurang baca atawa kurang ngaji :mrgreen: Jadi, kalau sudah ada ‘teori’ dari buku, gelitik-gelitik di otak itu bisa segera saya garuk.

(6) Apakah Anda aktif di media sosial dan mengapa? Kalau Anda berkenan memberitahu, sebutkan!

Oh berkenan sekali Bang Desfortin. Kan ini salah satu bentuk promosi he he. Media sosial itu memiliki fungsi sebagai celoteh singkat saja. Semacam media untuk menyampaikan kuot-kuot. Sayang kalau punya kuot ganteng tapi tidak dibagi. Membagi kebahagiaan kan termasuk ibadah. Saya sering merasa bahagia sehabis membaca suatu buku. Facebook saya : Mulya Saadi sementara Instagram saya  : @mulya.sama. Silaken kalau mau kepo. Hati-hati tapi :mrgreen:

(7)  Bisakah Anda menyebutkan postingan blog Anda yang paling berarti bagi Anda dan mengapa?

Pertanyaan sulit. Boleh pass? Pasalnya saya tidak menemukan jawabannya. Semua postingan saya acak-adut. Kalaupun blog After Reading Panic diblokir, ya saya tidak merasa kecewa atau apa, wong isinya cuma postingan curhat kok.

(8) Apa mata pelajaran favorit atau yang paling Anda sukai ketika masih sekolah, dan alasan Anda menyukainya?

Hem. Tidak ada Bang. Semua mata pelajaran menarik dengan caranya masing-masing. Pada dasarnya saya memang suka belajar. Jadi pelajaran apapun bisa terkategori favorit tergantung motifnya. Tapi kalau pertanyaannya berupa “Apa mapel yang paling bagus nilainya”, saya jawab : Biologi. Dulu pas bocah saya bercita-cita jadi zoologist.

(9)  Apa arti guru bagi hidup Anda? Apakah Anda setuju kalau guru itu disebut pahlawan tanpa tanda jasa?

Wah, saya mesti hati-hati pada pertanyaan ini pasalnya Bang Desfortin ini seorang guru khi khi. Guru itu sangat berarti bagi saya. Baik guru formal maupun guru nonformal, mereka adalah pembuka kesempatan bagi saya mengetahui banyak hal. Bahkan sampai sekarang saya ingin sekali dapat seorang guru yang senantiasa memberi nasihat pada saya. Bang Des mau jadi guru saya? 😛

Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Ya, memang kenyataannya begitu bukan? Maksudnya ini sudah jadi anggapan umum bahwa guru tidak punya penghargaan tanda jasa atau bintang pangkat khusus seperti di militer. Padahal tugas guru setara dengan pertahanan dan keamanan negara. Hanya bentuknya saja dalam bentuk pendidikan intelektual dan moral. Sosok guru adalah representasi tujuan nasional ketiga, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Guru itu kesibukan yang sangat ketje.

(10) Apakah Anda punya musik atau lagu favorit? Seberapa sering Anda menikmatinya?

Punya dong. Cukup sering. Setiap kali menulis biasanya telinga saya disumpel earphone.

(11) Apa saran atau pendapat Anda agar konsisten menulis?

Hem, coba saja ajak teman untuk membuat sebuah kesepakatan yang sifatnya reward dan punishment. Kalau perlu dibikin hitam di atas putih dan dimaterai lalu disahkan oleh notaris dan dicatat di Kementerian Hukum dan HAM lalu jika ada sengketa diselesaikan di BASYARNAS (oke lebay, dikira kegagalan komitmen menulis itu sengketa perdata).

Adakalanya dorongan kuat itu justru berasal dari luar. Seperti adakalanya menginginkan orang lain bahagia adalah ‘syarat’ untuk merasa bahagia. Pun konsisten menulis. Bisa dilakukan kalau ‘dipaksa’ dari luar.

* * * 

Fyuuh selesai. Akhirnya terjawab juga. Curhat banget lah postingan ini. Ok, saatnya saya menunaikan aturan main ketiga. Inilah kesebelas pertanyaan saya :

  1. Apa di balik nama blog Anda?
  2. Kapan kenal dunia blog? Dan masih ingatkah siapa komentator pertamanya?
  3. Pernah gabung di forum diskusi online situs ‘kongkow’ (seperti Kaskus) atau game (seperti Dragonadopters) atau fandom (seperti Fanpop) tertentu? Sekarang masih aktif atau tidak? Coba ceritakan sedikit.
  4. Siapa blogger favaorit Anda? Kenapa?
  5. Apa yang hendak  Anda capai dari aktivitas blogging?
  6. Anda punya laman ‘About Me’? Seberapa penting menurut Anda? Kalau tidak punya, kenapa tidak punya?
  7. Apa Anda suka me-like postingan Anda sendiri? Kenapa?
  8. Anda suka kucing atau tidak? Sebutkan alasannya! 
  9. Kapan Anda meniqa *coret* terakhir kali potong rambut? Di mana? Coba ceritakan.
  10. Lagi baca buku apa? Coba ceritakan.
  11. Coba pilih satu kata yang mewakili diri Anda. Kenapa ambil kata itu? Jelakan kurang dari 50 kata saja.

Dan berikut ini 11 blogger yang jadi target kejahilan saya :

  1. Mbak Cinta
  2. Mbak Ikha
  3. Bang Fadel si Semut Hitam
  4. Bang Ical
  5. Bang Dikakusuma
  6. Nurdana
  7. Mbak Kunu
  8. Mbak Gadis
  9. Mbak Momotaro
  10. Mbak Rissaid
  11. Review Umami

Yeay! Untuk kesebelas blogger ketje di atas yang belum pernah dinominasikan atau yang sudah dinominasikan dan belum posting, silaken dilanjut paradenya. Kalau tidak berkenan, abaiken saja. Anggap link post ini semacam Mama Minta Pulsa.  Dan untuk teman-teman yang membalas posting ini, semoga Anda semakin bersinar~

Ramadhan 23 : Hijab dan Realita

Tidak terasa sudah ramadhan yang ke-23. Dan tidak terasa pula postingan arc ini jadi bolong-bolong :mrgreen: . Saya bukannya tidak mau posting, tapi yaa begitu lah. Mari bernyanyi Si Kancil Anak Nakal sama-sama…

Kemarin saya dan pasukan habis ngomporin para remaja pakai hijab syar’i di balai desa. Jadi, tulisan ini akan menyinggung soal hijab syar’i saja. Mumpung masih hangat. Menurut pengertian yang paling umum, hijab syari’i adalah hijab (penutup) yang menutupi seluruh bagian yang wajib ditutupi menurut syari’at. Baca lebih lanjut

Ramadhan 15 : BAIK 0.2

Sebagian ulama berpandangan bahwa ucapan yang paling baik itu bisa terjadi pada gaya bahasa dan maknanya. Gaya bahasa yang diutarakan dengan penuh kelembutan dan kesantunan, tidak keras atau kasar. Sementara baik pada maknanya adalah apabila kata-kata itu menghadirkan kebaikan, karena pada hakikatnya semua ucapan yang baik itu membawa manfaat dan semua ucapan yang bermanfaat membawa kebaikan.

Baca lebih lanjut

Ramadhan 11 : BAIK

berilmu, sopan dan bertutur santun

Kata Baik dan Kasih Sayang

Kita bisa menilai seseorang dari penampilan, perilaku, dan tutur katanya. Khusus pada poin tutur kata, kita bisa menelaah sifat orang tersebut dari kesantunannya menyampaikan gagasan dan kesopanannya dalam berdialog. Kesantunan itu akhirnya akan melahirkan kasih sayang terhadapnya. Karena setiap orang suka dengan orang yang sopan.

Dalam pembahasan akhlak, tutur kata selalu jadi yang utama. Penyampaian dakwah dan kegiatan hisbah pasti menggunakan tutur kata. Presiden mengatur negara dengan kata-kata (konstitusi). Blog ini, sekali pun ditulis juga pakai kata-kata. Pictures, sekalipun cuma gambar, juga merepresentasikan sebuah kata. 

Betapa kata-kata dan bertutur kata merupakan dasar dari segala hal. Ibadah pun tidak lepas dari kata-kata. Setidak-tidaknya pada level niat. Sudah pasti niat mengandung kata-kata, baik terucap secara lisan maupun yang disuarakan dalam hati.

Ada yang bilang bahwa :

“Orang dikatakan berakhlak baik jika tutur katanya baik.”

Indikator ini memang tidak berlebihan. Karena adakalnya kita memberi tahu kebenaran pada orang yang belum mengaji tapi ternyata malah tidak diterima bahkan dituduh sudah menghina. Kenapa pun? Barangkali gaya penyampaiannya yang buruk dan terkesan menggurui. Alih-alih menyadarkan banyak orang, justru malah makin banyak dimusuhi.
Diantara banyak kata-kata baik di dunia, kata-kata terbaik adalah ucapan Laa ilaaha illallah dan dzikir-dzikir. Dalam sebuah hadis Qudsi Allah swt. berfirman :

“Manakala hamba-Ku berdzikir (mengingat dan menyebut nama-Ku) dalam dirinya (yaknia dalam keadaan sendirian), Aku pun akan menyebutnya dalam diri-Ku. Manakala dia menyebut nama-Ku di tengah sekelompok manusia, Aku pun menyebut namanya di tengah kelompok yang lebih baik daripada kelompoknya. Manakala dia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Dan manakala dia datang kepada-ku sambil berjalan, Aku akan datang kepadanya sambil berlari.”

Jika bertutur kata baik pada manusia saja menghasilkan kasih sayang mereka kepada kita. Apalagi bertutur kata baik (melalui dzikir) kepada Allah. Dalam hadis tersebut ada jaminan kasih sayang Allah. Dan setiap ‘kedekatan’ yang kita lakukan dibalas dengan ‘kedekatan’ yang lebih besar. Baik sekali. Allah memang Maha Baik 😀

Rahasia Dzikir dan Do’a : Percikan Ihya Ulumuddin

Dzikir adalah ibadah yang paling utama. Setiap ibadah mengandung dzikir. Sebagaimana setiap perbuatan mengandung kata-kata (dalam berbagai level dan bentuk). Ada banyak riwayat yang mengatakan bahwa dzikir merupakan amalan ringan berpahala besar.

Pada dasarnya dzikir dilakukan dengan pengucapan di lidah. Sangat mudah dikerjakan. Banyak orang ketika dalam perjalanan melakukan dzikir, mengangungkan nama Allah. Bertasbih; bertahmid; bertakbir, tiadak ada yang lain kecuali Allah akan mengampuni orang tersebut.

Tapi memang perlu diingat juga bahwa janji Allah baru berlaku jika seseorang lulus pada syarat dan ketentuannya. (Kausalitas hanya bahasa dunia, sesungguhnya Allah Maha Penggerak segalanya).

Dzikir, meski terkesan hanya mengucap di lidah, tidaklah keutamaannya didapat kecuali melalui ilmu mukasyafah (hak prerogatif Allah untuk bagi orang-orang yang dikehendaki-Nya untuk disingkapkan hijabnya).

Sekali pun berupa ucapan ‘belaka’, dzikir mesti dilakukan dengan kehadiran hati. Adapun dzikir yang hanya dilakukan oleh lidah, sementara hati lalai dan masih terpaut urusan duniawi, maka akan sedikit sekali manfaatnya.

“Jika kehadiran hati bersama Allah secara terus menerus atau pada kebanyakan waktu, itulah yang membuat dzikir diutamakan atas segala macam ibadah. Bahkan dengan itu, semua ibadah menjadi mulia. Dan itu pula puncak dari hasil semua ibadah amaliyah.”

Manusia Suka Pura-Pura.

Suatu malam saat mau shalat tarawih Pakde Klumpuk ingin berinfak 5 ribu dengan uang yang ada di saku kanannya. Sementara ia juga menaruh uang 20 ribu di saku kirinya untuk beli sebungkus rokok sepulang dari masjid.

Ternyata ia salah merogoh saku. Yang dimasukkan ke kotak infak malah yang bernominal 20 ribu. Dan saat Pakde membayar di warung, barulah ia sadar lalu mencak-mencak. “Sial! Uangnya ketuker!”

Tak ingin kehilangan gengsi saat tukang warung melihatnya menggerutu sendiri akibat ‘salah berinfak’, Pakde Klumpuk pun berdehem dan tersenyum tenang lalu berujar, “Gak apa-apa. Uang kan bisa dicari lagi.”

Dalam beberapa kesempatan kita pun bersikap seperti Pakde Klumpuk. Saat kehilangan uang, saat dimintai bantuan orang yang disegani, saat memberi recehan pada pengamen, adakalanya kita cuma bersikap pura-pura. Pura-pura ikhlas!

Tapi pura-pura itu lebih baik dari pada tidak pura-pura, apalagi tidak berinfak atau yang lainnya sama sekali. Coba kalau tidak perlu pakai pura-pura, tentu Pakde Klumpuk akan menyesal dengan penyesalan yang teramat dalam. Bisa jadi mengumpat-ngumpati kelalaiannya, juga mengeluh pada si tukang warung kalau sebenarnya ia ingin sekali mengambil kembalian infak itu sebesar 15 ribu sebagaimana niat awal infaknya, konon.

Lantas, apa yang kita pikirakan menanggapi Pakde apabila berkata-kata demikian? Pasti ill feel kan? Nah, makanya di sini diperlukan sikap pura-pura. Kalau memang susah sekali untuk ikhlas, minimal berpura-pura ikhlas lebih baik ketimbang blak-blakan mengumbar nafsu. Selain kesannya tidak terhormat, kurang patut juga tak elok diucap. Niat Pakde Klumpuk tadi mestinya sudah dicatat Allah. Allah memberikan takdir ‘kesempatan’ menaikkan pahala dengan membuat ‘human error’ pada diri Pakde.

Hal semacam ini sebenarnya bentuk kasih sayang Allah. Seperti momentum untuk dapat double point dari single task. Sebagaimana istilah ‘kedekatan’ hamba yang diusahakan akan dibalas dengan ‘kedekatan’ Tuhan yang lebih besar dalam hadis qudsi tadi.

Akhir.

“Tidak ada yang lebih berharga daripada mendapatkan cinta orang-orang di sekitar kita, sebab cinta orang lain adalah bukti cinta Allah pada kita.”

Bertutur baik pada sesama manusia, berdzikir dan menghadirkan Allah sebagai aktivitas ruhaninya, hanya manusia pilihan yang dapat melakukannya. Tapi, marilah kita coba. Hal ini memang sangat sulit dan berat sekali. Tapi kita wajib berusaha. Jangan pernah menyerah pada kebaikan. Karena yang suka menyerah pada kebaikan adalah teman setan. (Setan suka menggoda manusia untuk cepat berputus asa dalam beramal saleh. Misal setan bilang : “Dari dulu elu berdo’a sama shalat jungkir-balik, kok ya tetap kere. Katanya Allah Maha Kaya. Mana buktinya? Capek beribadah gak kaya-kaya, gak usah ibadah sekalian lah! Capek!”)

Pada dasarnya setiap manusia memiliki potensi untuk dicintai. Maka, mari sama-sama membiasakan diri untuk bertutur kata yang baik, ikhlas dan menghadirkan Allah dalam setiap gerakan kehidupan.

Bisa dimulai dengan pura-pura. Karena tiada keintiman dengan-Nya tanpa paksaan pada awalnya. Anggaplah ‘pura-pura’ sebagai gerbang untuk mengantarkan pada kebiasaan hingga akhirnya berubah jadi kebutuhan.

“Barangsiapa sering menyebut-nyebut tentang sesuatu, meskipun pada awalnya dengan memaksakan diri, niscaya pada akhirnya akan mencintainya juga.”

Ramadhan 10 : Celoteh Melulu Lagi

sandal jepit | sandal dengan pautan untuk jempol kaki dan jari kaki lainnya;

Konon, sumber penderitaan manusia adalah keinginan. Karena dengan keinginan, manusia akan berharap. Celakanya, kebanyakan orang berharap pada orang lain atau keadaan tersebab. Makanya seringkali kecewa kalau ternyata apa yang ia perhitungkan tak tepat persis perkiraannya.

Seperti halnya hubungan antar manusia. Jika yang satu mengira demikian dan demikian, maka yang lain mengira tidak yang demikian melainkan yang demikiun, terjadi lah ketegangan yang akhirnya tak jarang menimbulkan konflik. Baca lebih lanjut

Ramadhan 09 : Hijrah?

Sejak booming yang syar’i-syar’i, istilah hijrah juga jadi populer. Terutama dalam hal busana, bil khusus busana muslim.

Orang disebut berhijrah ketika ia yang dulunya berpakaian dengan model tidak menutup aurat, kemudian kini berpakaian muslim yang menutup aurat, terutama di hijab-nya. Begitu pun perkara yang berkaitan dengan trend busana ini yaitu soal pacaran. Orang disebut berhijrah ketika ia yang dulunya tenggelam dalam asyik-masyuk pacaran, kemudian kini tidak berpacaran lagi dan lebih memilih ta’aruf atau menikah langsung saat didekati buaya, ups! laki-laki maksudnya 😛   Baca lebih lanjut

Ramadhan 08 : Celoteh Melulu

al-qur’an | kitab suci terakhir umat muslim

Ada sebuah judul kolom koran yang saya tangkap secara tak sengaja saat antri beli es teh di warung. Yaitu “Mencintai al-Qur’an”. Begitu tulisnya.

Saya pun terpekur sejenak. Pikiran lantas berebut mengeluarkan kata-kata untuk mengomentari apa yang mata lihat. Setelah kalimatnya tersusun, saya mulai ambil sikap dalam hati dengan pertanyaan kurang ajar : Ngapain mencintai al-Qur’an? Apanya yang dalam al-Qur’an yang harus dicintai?
Baca lebih lanjut