Celoteh Kemerdekaan

IN.DO.NE.SIA via google

Saya sebenarnya suka iri dengan esai-esai bertajuk hari kemerdekaan yang ditulis dengan sudut pandang sejarah serta ditelisik dengan analisis yang dalam. Sebut saja beberapa buku yang pernah saya baca, salah satunya karya Abdul Hadi W.M..

Dalam Cakrawala Budaya Islam (2016), di beberapa esai pada sub bab-nya, beliau memaparkan dengan sangat menyenangkan setapak demi setapak sejarah hubungan dagang yang dilakukan bangsa Arab pra Masehi hingga perkembangan Islam ke berbagai negeri termasuk masuknya Islam ke Nusantara dan siapa yang membawanya.

Dalam membuat tulisan ini, khususnya ketika memandang hari kemerdekaan Indonesia yang sebentar lagi akan dirayakan (“sebegitu rupa”) pada puncaknya tanggal 17 Agustus kelak, kadang saya membersit : perayaan kemerdekaan memang penting?
Baca lebih lanjut

Iklan

Chat yang Bikin Nostalgia

Dalam beberapa hari terakhir ini saya mendapati diri seringkali menerima dan mengirimi teman chat-chat yang berbau pembullyan. Yah, tidak membully betulan, kami hanya bercanda. Hal ini kemudian mengingatkan saya pada masa-masa bersama dulu. Entah si teman yang memang tipikal suka bercanda atau saya yang lucu, kami seringkali membentuk obrolan yang berbeda dari kebanyakan orang.

Tanpa harus membicarakan orang lain untuk membangun suasana humor, berikut penggalan obrolan kami di chat beberapa hari terakhir. Silakan simpulkan saya cocok jadi komedian apa tidak 😁 Baca lebih lanjut

#UNDUH RAHMAT

Topik Rahmat dalam koridor berpikir ilahiah dan pada ‘korpus’ Islam (yeah, actually Islam is not a corpus, but let’s say so for respect world diversities 😀 ) khususnya yang diposting oleh bloger platform gratisan lagi bertajuk personal di jagat raya ini, mestinya sudah banyak yang bahas. Jadi, saya mau langsung saja simpulkan hal-hal actionable soal Rahmat yang saya kira merupakan percik-percik api semangat dalam aksi #UnduhRahmat masing-masing kita. Iyeay!
Baca lebih lanjut

Pada Sebuah Pembacaan

Pembacaan adalah pembacaan | pinterest

“In you, there’s more than you.”

Lemah = Kuat = Baik

Pada sebuah pembacaan, kelemahan adalah sumber kekuatan manusia. Dari mana datangnya kekuatan, bukan selalu perihal penguasaan terhadap keadaan lawan, baik secara fisik maupun mental. Adakalanya kekuatan timbul dari keberanian. Rasa berani itu sendiri justru muncul akibat ada rasa lemah.

Rasa lemah memaksa manusia berpikir. Bagaimana caranya agar ‘aku’ berada, bagaimana agar ‘aku’ tidak ditelan sejarah. Pada akhirnya manusia merasa tak ada pilihan lain selain ‘menjadi berani’ dan membangkitkan kekuatan dengan tekad. Pada pembacaan lebih produktif, manusia menjadi lebih cerdas dalam membaca ‘tanda-tanda’ peluang. Baca lebih lanjut

Kumpulan Kesialan dan Kebodohan

Judul : Kritikus Adinan
Genre : Fiksi/ Kumpulan Cerpen
Pengarang : Budi Darma
Penyunting : Adham T. Fusama
Penerbit : Bentang Pustaka
Cetakan : Pertama, Mei 2017
Halaman : 274 hlm
ISBN : 978-602-291-389-4

Kritikus Adinan via imgrum

“Kau merasa menjadi raja karena membaca kata-kata, tapi kau bukanlah apa-apa karena kata-kata itu hanyalah udara hampa.”

Sama seperti kebanyakan tokoh dalam kumpulan cerpen ini, Kritikus Adinan digambarkan sebagai sosok yang kritis, tenang-bersahaja, baik dan tidak suka berbuat ribut-ribut.

Tapi dari sana lah orang-orang inosen macam itu menemui kesialannya. Gambaran sosok yang kemudian pasrah, nrima, bebas-terserah, dan penuh kesabaran menyiratkan sebuah pembacaan terhadap jiwa-jiwa yang menyerah. Kritikus Adinan lelah menulis kritiknya yang tak lagi diminati. Kritikus Adinan lelah dengan perjuangannya akan keadilan.

Sama seperti kebanyakan tokoh riil dalam kumpulan cerita kehidupan ini, adakalanya idealisme yang tak berujung pada ketercapaian membuat seseorang ‘lari’ dari kejaran prinsipnya sendiri dengan membangun prinsip ‘aman’ di kepalanya demi membaik-baik diri bahwa ‘kekalahan’ tidak pernah terjadi, yang ada hanya ketidaksesuaian-ketidaksesuaian realitas yang tak perlu dirisaukan karena itu terjadi sesuai dengan hukum alam dan hukum alam diluar pekerjaan dirinya.

Cara ‘lari’ yang tampak elegan bagi Kritikus Adinan. Dikisahkan dengan penggambaran watak sopan, sabar, tidak suka ribut-ribut dan menuruti birokrasi dengan baik, Kritikus Adinan menjual citranya dengan sempurna hingga pembaca kisahnya mulai bersimpati.

Tapi kecacatan merupakan tema sentral dalam kumpulan cerpen ini. Sosok inosen Kritikus Adinan mendapat celanya terbuka ketika ia terus digambarkan mengikuti prosedur Pengadilan yang mengadilinya tanpa sebab yang masuk akal.

Tampak bahwa terdapat pembacaan ganda dalam cerpen ini. Sosok seorang idealis yang layu ditelan komoditas dan sosok hakim yang kurang amanah dalam menjalankan kewajibannya. ‘Pertemuan’ mereka layaknya ‘orang bodoh’ saja yang akhirnya berujung pada ‘kesialan’ tokoh yang lebih lemah kedudukannya dari tokoh yang lain.

Selain kisah sang Kritikus Adinan, masih ada empat belas cerita dalam kumpulan cerpen Budi Darma ini yang memilik kemiripan kesialan dan kebodohan.

Tak tanggung-tanggung, beberapa diantaranya Budi Darma mengisahkan tokoh perempuan dengan karakternya yang menjijikan, hina dan jalang. Agaknya cerita-cerita di sini mengusung adagium, “Wanita-racun dunia”. Segala kelihaian yang ada pada diri wanita dapat membius banyak laki-laki dan mereka ribut-riut karenanya bahkan rela mati karenanya. Sebagaimana kisahnya dalam Tiga Laki-laki Terhormat, Laki-laki Lain dan Potret itu, Gelas itu, Pakaian itu. Sungguh bodoh. Dan merupakan pembacaan terhadap kebodohan yang nyata.

Selain soal bodoh, kesialan yang sebenar-benarnya sial pun terangkum dalam cerita Senapan. Mengisahkan dua orang yang bersikukuh dengan obsesi absurdnya sendiri hingga masing-masing diantara mereka terperangkap dalam perjanjian konyol yang membuat masing-masing tampak bodoh satu sama lain. Bukan hanya bodoh karena kurang pekerjaan, tapi bodoh karena sudah mempertaruhkan nyawa hanya untuk muslihat-muslihat keabsurdan.

Salah satu cerita yang menarik dan bertempo cepat ada pada kisah Penyair Besar, Penyair Kecil. Penggambaran dua tokoh yang memiliki perbedaan keluasan sudut pandang membuat pembaca akan melihat kemirisan demi kemirisan yang jamak ada dalam setiap perjuangan. Begitu pun dalam cerita Bambang Subali Budiman. Penggambarannya sebagai cerpen ‘tavelling’ sangat menarik, berbau mistis, dan yang tak kalah menariknya ada pada kisah bertumpuk di dalamnya.

Dalam kumpulan lima belas cerpen tentang manusia ini, Budi Darma berhasil baik memadukan berbagai keabsurdan, kebodohan dan kesialan menjadi jalinan cerita yang menarik sekaligus sindiran yang sukses dan masih relevan. Ada kemiripan besar dalam cerpen-cerpennya di sini. Yaitu berawal dengan keanehan, keabsurdan dan keserba-entahan, kemudian berakhir juga dengan keanehan, keabsurdan dan keserba-entahan. Seperti sebuah visual dari satu potongan sobekan-sobekan poto yang ditampilkan dalam pigura, membuat pembaca melihatnya sebagai sesuatu yang mengandung pertanyaan.

Sebagaimana tuturan Budi Darma sendiri dalam pengantarnya mengenai obsesi kepengarannya, bahwa serangkaian pertanyaan yang terus menerus merupakan pendorong seorang pengarang untuk menulis. Agaknya ungkapan ini menunjukkan betapa luasnya cakup pandangnya terhadap kejamakan-kejamakan dan fenomena-fenomena hingga dengan kemampuan berkata-kata lihai, Budi Darma menyusunnya menjadi kisah-kisah absurd yang memberi ruang pengertian bagi satu sudut kehidupan. Jika tidak satu, ya dua. Atau barangkali tiga…

:mrgreen:

Sebelum Mengaitkan Sauh di Labuhan : Celoteh Paska Lebaran

My Pangandaran via mypangandran.com

Simbol Siluman

Setelah kuralang-kuriling di Pasar Pangandaran seperti anak ayam hilang, saya dan teman pun memutuskan untuk melaju ke bagian samping pasar untuk menengok toko aksesori yang cukup besar di sana.

Akhirnya, benda yang saya cari terdapat di toko itu. Senangnya. Saya sudah skeptis duluan ketika Emang–Emang penjaga toko aksesori sebelumnya bilang kalau pedagang pinggir jalan yang biasa mangkal di sepanjang lapangan Merdeka tidak tahu membuka lapak di mana saat ada proyek pembangunan taman di dekat sana. Padahal dari para pedagang itu lah biasa didapat pernak-pernik suvenir khas orang Sunda.

Memang apa sih yang mau saya beli? Wayang golek kah? Keris kah? Gunungan atau satu set gamelan kah? Ha ha… ok, mulai ngawur~ Baca lebih lanjut

Dari Pak Guru ke Pikiran Saya

Ini teman-teman (celeno) saya, saya yang fotoin. Yang di tengah adalah Master kami. Wakalas saat berada di IPA 1 selama 2 tahun. We are ADIDAS alias Anak DIDik A Satu atau Anak DIdik DAdang Suherman. Iyeay!

Alkisah, sekawanan anak bebek kami berkumpul di titik persimpangan untuk bersilaturahmi ke rumah Pak Guru Wakalas SMA.

Singkat cerita, sekawanan anak bebek (ok, saya mulai suka istilah ini) ini duduk lesehan saling melingkar. Pembicaraan kala itu seputar kuliah, kesibukan dan jodoh. Well, jujur saja, tidak ada yang begitu spesial dalam pembicaraan tersebut sampai ada dua ungkapan Pak Guru yang membuat saya tertarik. Baca lebih lanjut

Parade Sebelum Lebaran : Sunshine Blogger Award

Saya kaget tiba-tiba Bang Desfortin memberi message via WA tentang ternominasinya saya dalam award ini. Saya kira beliau hanya jahil belaka atau sedang mencoba trend Mama Minta Pulsa. Waktu itu saya agak kelimpungan membaca postingannya karena sedang kumpul bukber bersama kawan SMA.

Walhasil, setelah dicek secara saksama, award ini ternyata perihal asik-asikan saja karena saya tidak menemukan siapa host award ini. Kedua, yang paling penting, tidak ada hadiahnya. Ha ha…

Dan seperti namanya, award Sunshine Blogger, nampaknya memberi kesan bahwa yang menerimanya adalah blogger yang postingannya bersinar (let say akibat stats-nya yang tinggi) atau malah orangnya yang mengeluarkan sinar semacam glow in the dark. Entahlah, saya kurang paham. Tapi karena menarik, saya terima saja award ini. Meski tak ada hadiahnya, itung-itung ngaraketkeun silaturahmi antar sesama blogger saja. Dan big thanks juga buat Bang Des sudah link saya dalam artikelnya tersebut.

* * *

Sebenarnya award ini lebih mirip challenge. Untuk yang tertarik (maksudnya yang saya tarik nanti), berikut aturan mainnya :

  1. Terimalah orang yang menominasikan Anda dalam posting blog dan link kembali ke blognya.
  2. Jawablah 11 pertanyaan yang diberikan oleh orang yang menominasikan Anda.
  3. Nominasikan 11 blog baru untuk menerima penghargaan dan tuliskan pertanyaan baru.
  4. Cantumkan peraturan dan tampilkan logo Sunshine Blogger Award di postingan Anda (bisa copas pic dia atas).

* * * 

Ini pertanyaan Bang Desfortin untuk saya. Akan saya jawab secara singkat saja karena kalau kepanjangan takut malah curhat :mrgreen:

(1) Apakah bakat menulis itu memang ada, atau itu hanya omong kosong? Mohon alasan logisnya!

Wah, biar saya intro dulu supaya tidak dianggap hoax. Saya orangnya kadang kurang logis. Titik. Jadi jawaban saya : bakat menulis itu ada. Kalau mengikuti penjelasannya Pak Agus Haryo Sudarmojo (penulis buku DNA Muhammad), bakat menulis bisa dimaknai dengan sifat cenderung senang curah gagasan dalam bentuk tulis (gen yang menyebabkan sesuatu, yaitu pandai menulis). Gen yang terkait dengan sifat-sifat pembentuk manusia atau yang sifatnya menyebabkan sesuatu dapat diaktifkan melalui cara berpikir. Jadi, bakat menulis yang masih off di tubuhmu tidak akan pernah jadi bakat kalau tidak diaktifkan. Atau dalam kata lain, jika tidak diaktifkan, maka kamu akan bilang ‘tidak punya bakat’. Padahal setiap orang punya potensi untuk ‘sesuatu’.

(2) Mengapa Anda memilih blog gratisan di wordpress?

Ah, selama yang gratis masih ada, kenapa tidak? Toh, saya tidak berniat untuk monetizing. Kalau untuk bisnis, saya lebih suka di bidang ekonomi riil saja. Jadi pedagang siomay misal. Dan perihal memilih wordpress, karena lebih enteng load-nya di HP ketimbang blogspot.

(3) Pilih mana, blog niche atau gado-gado? Mengapa?

Kalau saya berpikir profesional, pasti saya pilih blog niche. Banyak anime yang saya tonton, chara utamanya selalu punya SATU mimpi, dan dia KONSISTEN sampai akhir kisah untuk menggapai itu. Seperti Hoshitani Yuuta (anime Starmyu – anime musikal) yang bermimpi untuk bisa sepanggung dengan orang yang ia kagumi. Atau tim Demon Devil Bats yang ngebet ingin mengalahkan tim White Knight di anime Eyeshield 21. Tapi saya memang tidak berniat jadi pro di dalam dunia blogging. Blog cukup sebagai sarana latihan menulis saja. Jadi blog saya masih gado-gado.

(4) Sejauh mana pentingnya blogwalking dan saling komen untuk meningkatkan stats blog Anda?

Penting. Dengan blogwalking dan komen pastilah jejak kita ditelusuri balik oleh si dia yang kita kepoi blognya. Lama-lama stats makin meningkat. Tapi jangan lupakan update postingan berkualitas juga. Supaya blogger lain tidak asal kesasar saja hehe :mrgreen: *saya usahaken~

(5) Pernahkah Anda mengalami Writer’s Blog (mungkin writer’s block) dan bagaimana cara Anda mengatasinya?

Hem. Setiap orang yang masih berperasaan pasti mengalaminya. Writer’s block itu timbul dari rasa berupa jenuh, diterjemahkan akal berupa tak ada ide dan dieksekusi oleh tindakan berupa kemalasan.

Kalau saya mengalami ini, saya tinggal berhenti menulis dan mencari pelarian saja, semisal hunter buku hingga otak ini kembali tergelitik untuk menuliskan sebuah opini. Writer’s block saya memang biasanya akibat kurang baca atawa kurang ngaji :mrgreen: Jadi, kalau sudah ada ‘teori’ dari buku, gelitik-gelitik di otak itu bisa segera saya garuk.

(6) Apakah Anda aktif di media sosial dan mengapa? Kalau Anda berkenan memberitahu, sebutkan!

Oh berkenan sekali Bang Desfortin. Kan ini salah satu bentuk promosi he he. Media sosial itu memiliki fungsi sebagai celoteh singkat saja. Semacam media untuk menyampaikan kuot-kuot. Sayang kalau punya kuot ganteng tapi tidak dibagi. Membagi kebahagiaan kan termasuk ibadah. Saya sering merasa bahagia sehabis membaca suatu buku. Facebook saya : Mulya Saadi sementara Instagram saya  : @mulya.sama. Silaken kalau mau kepo. Hati-hati tapi :mrgreen:

(7)  Bisakah Anda menyebutkan postingan blog Anda yang paling berarti bagi Anda dan mengapa?

Pertanyaan sulit. Boleh pass? Pasalnya saya tidak menemukan jawabannya. Semua postingan saya acak-adut. Kalaupun blog After Reading Panic diblokir, ya saya tidak merasa kecewa atau apa, wong isinya cuma postingan curhat kok.

(8) Apa mata pelajaran favorit atau yang paling Anda sukai ketika masih sekolah, dan alasan Anda menyukainya?

Hem. Tidak ada Bang. Semua mata pelajaran menarik dengan caranya masing-masing. Pada dasarnya saya memang suka belajar. Jadi pelajaran apapun bisa terkategori favorit tergantung motifnya. Tapi kalau pertanyaannya berupa “Apa mapel yang paling bagus nilainya”, saya jawab : Biologi. Dulu pas bocah saya bercita-cita jadi zoologist.

(9)  Apa arti guru bagi hidup Anda? Apakah Anda setuju kalau guru itu disebut pahlawan tanpa tanda jasa?

Wah, saya mesti hati-hati pada pertanyaan ini pasalnya Bang Desfortin ini seorang guru khi khi. Guru itu sangat berarti bagi saya. Baik guru formal maupun guru nonformal, mereka adalah pembuka kesempatan bagi saya mengetahui banyak hal. Bahkan sampai sekarang saya ingin sekali dapat seorang guru yang senantiasa memberi nasihat pada saya. Bang Des mau jadi guru saya? 😛

Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Ya, memang kenyataannya begitu bukan? Maksudnya ini sudah jadi anggapan umum bahwa guru tidak punya penghargaan tanda jasa atau bintang pangkat khusus seperti di militer. Padahal tugas guru setara dengan pertahanan dan keamanan negara. Hanya bentuknya saja dalam bentuk pendidikan intelektual dan moral. Sosok guru adalah representasi tujuan nasional ketiga, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Guru itu kesibukan yang sangat ketje.

(10) Apakah Anda punya musik atau lagu favorit? Seberapa sering Anda menikmatinya?

Punya dong. Cukup sering. Setiap kali menulis biasanya telinga saya disumpel earphone.

(11) Apa saran atau pendapat Anda agar konsisten menulis?

Hem, coba saja ajak teman untuk membuat sebuah kesepakatan yang sifatnya reward dan punishment. Kalau perlu dibikin hitam di atas putih dan dimaterai lalu disahkan oleh notaris dan dicatat di Kementerian Hukum dan HAM lalu jika ada sengketa diselesaikan di BASYARNAS (oke lebay, dikira kegagalan komitmen menulis itu sengketa perdata).

Adakalanya dorongan kuat itu justru berasal dari luar. Seperti adakalanya menginginkan orang lain bahagia adalah ‘syarat’ untuk merasa bahagia. Pun konsisten menulis. Bisa dilakukan kalau ‘dipaksa’ dari luar.

* * * 

Fyuuh selesai. Akhirnya terjawab juga. Curhat banget lah postingan ini. Ok, saatnya saya menunaikan aturan main ketiga. Inilah kesebelas pertanyaan saya :

  1. Apa di balik nama blog Anda?
  2. Kapan kenal dunia blog? Dan masih ingatkah siapa komentator pertamanya?
  3. Pernah gabung di forum diskusi online situs ‘kongkow’ (seperti Kaskus) atau game (seperti Dragonadopters) atau fandom (seperti Fanpop) tertentu? Sekarang masih aktif atau tidak? Coba ceritakan sedikit.
  4. Siapa blogger favaorit Anda? Kenapa?
  5. Apa yang hendak  Anda capai dari aktivitas blogging?
  6. Anda punya laman ‘About Me’? Seberapa penting menurut Anda? Kalau tidak punya, kenapa tidak punya?
  7. Apa Anda suka me-like postingan Anda sendiri? Kenapa?
  8. Anda suka kucing atau tidak? Sebutkan alasannya! 
  9. Kapan Anda meniqa *coret* terakhir kali potong rambut? Di mana? Coba ceritakan.
  10. Lagi baca buku apa? Coba ceritakan.
  11. Coba pilih satu kata yang mewakili diri Anda. Kenapa ambil kata itu? Jelakan kurang dari 50 kata saja.

Dan berikut ini 11 blogger yang jadi target kejahilan saya :

  1. Mbak Cinta
  2. Mbak Ikha
  3. Bang Fadel si Semut Hitam
  4. Bang Ical
  5. Bang Dikakusuma
  6. Nurdana
  7. Mbak Kunu
  8. Mbak Gadis
  9. Mbak Momotaro
  10. Mbak Rissaid
  11. Review Umami

Yeay! Untuk kesebelas blogger ketje di atas yang belum pernah dinominasikan atau yang sudah dinominasikan dan belum posting, silaken dilanjut paradenya. Kalau tidak berkenan, abaiken saja. Anggap link post ini semacam Mama Minta Pulsa.  Dan untuk teman-teman yang membalas posting ini, semoga Anda semakin bersinar~