Musim Tak Ada

Seperti kamu yang tak bisa berpisah dengan kopi
seperti itulah kesedihan bersarang di dalamku 

Seperti hujan membanjiri diksi melankolimu
Seperti itulah kerontang rasa di gersang jiwaku

Jika senja dan langit kelabu serta tetes-tetes air langit menciptakan desir cinta di fragmen lakonmu, 

aku
di dalam sini,

memelihara paceklik saja. Menjalar rambat tanaman kerinduan itu, membelit asa dan hati yang payah hingga kuberdarah

Apa arti musim jika tak bahagia? 

Apakah itu tentang bunga-bunga yang akan mekar di musim depan? 
Atau pucuk-pucuk daun yang menyembul kehijauan? 
Atau kah ranum yang mengundang berkawan? 

Musim tak ada
jikalah bumi enggan merasakan
Musim tak ada
saat langit berkecut muka meninggalkan

Pagi yang basah, 9 muharram 1439 H ☔

Iklan

#UNDUH RAHMAT

Topik Rahmat dalam koridor berpikir ilahiah dan pada ‘korpus’ Islam (yeah, actually Islam is not a corpus, but let’s say so for respect world diversities 😀 ) khususnya yang diposting oleh bloger platform gratisan lagi bertajuk personal di jagat raya ini, mestinya sudah banyak yang bahas. Jadi, saya mau langsung saja simpulkan hal-hal actionable soal Rahmat yang saya kira merupakan percik-percik api semangat dalam aksi #UnduhRahmat masing-masing kita. Iyeay!
Baca lebih lanjut

Cinta yang meng.gong.gong/

guguk via Pinterest 

Mikaela, tahu tidak?
bahwa memiliki itu bukan Cinta, melainkan keserakahan
seperti anjing mewarisi tulang Tuannya

Mikaela Mikaela,
yang ini tahu juga, tidak?
kalau pengertian tak dikenal, maka Cinta hanya transaksi
seperti anjing mematuhi panggilan Tuannya. Tak ada makan, tak ada kibas ekor kesetiaan

Ahh Mikaela,
sedari tadi hanya aku yang bicara
sementara kau diam tidak tertawa
Aku seperti menggonggong saja

(Adibaa Ihsani, 1438 H)

Diriku yang ber.se.ra.kan/

fresh petal via pinterest 

Aku hilang, Tuhan
Separuh diriku merindukan kesempurnaan
sebagaimana tersabda dalam kalamMu
Juga sedikit rasaku akan hadirMu

Aku ingin mencari yang hilang itu, Tuhan
Izinkan kususun cinta di bumi
sebagaimana NabiMu misalkan
Juga sedikit inginku akan naluri kemanusiaan

Aku benar-benar merindukan yang hilang, Tuhan
Berkahilah takdirku agar diriku tidak berserakan
Kan kucoba rapatkan jarakku padaMu
agar pengharapan-pengharapan tidak mengecewakan

Aku hilang, Tuhan
Hilang dan berserakan
Aku ingin berjumpa denganMu, maka jumpai aku dalam pertemuan kami kemudian

(Adibaa Ihsani, 1438 H)

Aku Jatuh cin.ta/

tsubaki via pinterest

Tuhan,  hari ini aku jatuh cinta
Seperti kemarin  aku terbakar oleh apiMu
Seperti kemarinnya lagi aku tenggelam dalam sungaiMu
Seperti kemarin kemarinnya lagi aku tehempas oleh anginMu
Dan kemarin, kemarin, kemarin

Tuhan, hari ini aku jatuh cinta lagi
Dan sepertinya besok dan besok juga
Dalam kendara makhlukMu
Kemanusiaanku hanya buih
Hanya kesaksian yang kurang berada saja, kureguk segala nikmat akan perwujudanMu

Tuhan, yang membuatku jatuh cinta terus
Tak perlu kan aku sebimbang Ibrahim untuk menemukaMu?
atau berguru pada Khidir untuk mencecap hikmahMu?
atau kembali pada ratusan tahun kehidupan untuk berbaris di shaf pertama majlis utusan terakhirMu?

Disini, kucoba kujenguk kalbuku sendiri
Barangkali Engkau mau menyambutku.

(Abidaa Ihsani, 1438 H)

u.zu.r/

“Memahami uzur akan menciptakan kemakrufan dalam menyelesaikan suatu masalah”.

Biasanya seseorang menghakimi orang lain berdasarkan akibat yang telah diperbuatnya. Padahal yang lebih utama adalah memahami mengapa orang tersebut melakukan hal itu, mengingat secara naluriah manusia memiliki kehendak untuk berbuat benar.

Seringkali terjadi dalam perkara nasihat-menasihati. Seseorang yang “berperan” menjadi penasihat biasanya terjebak dalam klaim (kebenaran) sepihak. Ia terlalu mengukuhkan supremasi eksistensinya sendiri sehingga menutup perspektif di luar perspektifnya. Ia kian menjauhkan diri dari perbedaan-perbedaan kondisi yang memengaruhi pembentukan penalaran seseorang.

Dan untuk mengindari tindakan pukul rata yang sering merugikan salah satu pihak, cari tahu lah apa alasan atau sebab-sebab orang itu berbuat demikian. Maklum lah terhadap beberapa hal. Dan maafkan lah dirimu sendiri.

😃