Celoteh Kemerdekaan

IN.DO.NE.SIA via google

Saya sebenarnya suka iri dengan esai-esai bertajuk hari kemerdekaan yang ditulis dengan sudut pandang sejarah serta ditelisik dengan analisis yang dalam. Sebut saja beberapa buku yang pernah saya baca, salah satunya karya Abdul Hadi W.M..

Dalam Cakrawala Budaya Islam (2016), di beberapa esai pada sub bab-nya, beliau memaparkan dengan sangat menyenangkan setapak demi setapak sejarah hubungan dagang yang dilakukan bangsa Arab pra Masehi hingga perkembangan Islam ke berbagai negeri termasuk masuknya Islam ke Nusantara dan siapa yang membawanya.

Dalam membuat tulisan ini, khususnya ketika memandang hari kemerdekaan Indonesia yang sebentar lagi akan dirayakan (“sebegitu rupa”) pada puncaknya tanggal 17 Agustus kelak, kadang saya membersit : perayaan kemerdekaan memang penting?
Baca lebih lanjut

Iklan

Sastra untuk Pendidikan

Menyoal Kualitas Pendidikan

LIS.TEN | pic via pinterest

Sesuatu yang telah jamak diketahui bahwa globalisasi yang kemudian memunculkan generasi materialis-konsumeris-individualis mengakibatkan nilai-nilai kehidupan dalam masyarakat makin terdistorsi. Solidaritas sosial makin rapuh, kekerasan sosial merebak, dan aspek-aspek kehidupan makin tergiring ke arah neoliberlisme. Menurut YB Mangunwijaya, dalam suasana inilah kemudian pendidikan dikemas sebagai komoditas dan pemerolehannya sebagai persaingan. Berbasiskan kecenderungan hasrat politik (berkuasa) dan ekonomi (keuntungan), substansi pendidikan filosofis tergeser kepada ancangan pragmatis. Akibatnya, banyak orang berpendidikan tetapi sesungguhnya tidak terlalu banyak menunjukkan kualitas keterdidikannya. Baca lebih lanjut

Indonesia (suruh) Membaca

beradu pikiran

Ada yang menarik dari ungkapan Seno Gumira Ajidarma dalam pidatonya di Bangkok saat penerimaan Hadiah Sastra Asia Tenggara berikut :

“Masyarakat kami adalah masyarakat yang hanya membaca untuk mencari alamat, membaca untuk tahu harga-harga, membaca untuk melihat lowongan kerja, membaca untuk menengok hasil pertandingan sepak bola, membaca karena ingin tahu berapa persen besar diskon obral di pusat perbelanjaan dan akhirnya membaca subtitle opera-opera sabun di TV untuk sekedar hiburan.

Sementara itu bagi lingkaran eksklusif kaum intelektual di negeri kami, apa yang disebut puisi, cerpen, atau novel barangkali hanya dianggap mainan remaja saja….”—(Anton Kurnia : 2016).

Baca lebih lanjut