ARC Ramadhan Terakhir

orenji | Selamat Lebaran!

Mau dibilang terakhir, rasanya cukup wagu karena saya tak selama sebulan penuh konsisten posting dalam tantangan menulisi Ramadhan ini. Kalau sudah di rumah itu memang bawaannya gogoleran saja. Apalagi beberapa hari sebelum Lebaran ada urusan genk (bukan genk preman tapi) yang cukup menyita perhatian :mrgreen: Baca lebih lanjut

Iklan

Ramadhan 23 : Hijab dan Realita

Tidak terasa sudah ramadhan yang ke-23. Dan tidak terasa pula postingan arc ini jadi bolong-bolong :mrgreen: . Saya bukannya tidak mau posting, tapi yaa begitu lah. Mari bernyanyi Si Kancil Anak Nakal sama-sama…

Kemarin saya dan pasukan habis ngomporin para remaja pakai hijab syar’i di balai desa. Jadi, tulisan ini akan menyinggung soal hijab syar’i saja. Mumpung masih hangat. Menurut pengertian yang paling umum, hijab syari’i adalah hijab (penutup) yang menutupi seluruh bagian yang wajib ditutupi menurut syari’at. Baca lebih lanjut

Ramadhan 15 : BAIK 0.2

Sebagian ulama berpandangan bahwa ucapan yang paling baik itu bisa terjadi pada gaya bahasa dan maknanya. Gaya bahasa yang diutarakan dengan penuh kelembutan dan kesantunan, tidak keras atau kasar. Sementara baik pada maknanya adalah apabila kata-kata itu menghadirkan kebaikan, karena pada hakikatnya semua ucapan yang baik itu membawa manfaat dan semua ucapan yang bermanfaat membawa kebaikan.

Baca lebih lanjut

Ramadhan 11 : BAIK

berilmu, sopan dan bertutur santun

Kata Baik dan Kasih Sayang

Kita bisa menilai seseorang dari penampilan, perilaku, dan tutur katanya. Khusus pada poin tutur kata, kita bisa menelaah sifat orang tersebut dari kesantunannya menyampaikan gagasan dan kesopanannya dalam berdialog. Kesantunan itu akhirnya akan melahirkan kasih sayang terhadapnya. Karena setiap orang suka dengan orang yang sopan.

Dalam pembahasan akhlak, tutur kata selalu jadi yang utama. Penyampaian dakwah dan kegiatan hisbah pasti menggunakan tutur kata. Presiden mengatur negara dengan kata-kata (konstitusi). Blog ini, sekali pun ditulis juga pakai kata-kata. Pictures, sekalipun cuma gambar, juga merepresentasikan sebuah kata. 

Betapa kata-kata dan bertutur kata merupakan dasar dari segala hal. Ibadah pun tidak lepas dari kata-kata. Setidak-tidaknya pada level niat. Sudah pasti niat mengandung kata-kata, baik terucap secara lisan maupun yang disuarakan dalam hati.

Ada yang bilang bahwa :

“Orang dikatakan berakhlak baik jika tutur katanya baik.”

Indikator ini memang tidak berlebihan. Karena adakalnya kita memberi tahu kebenaran pada orang yang belum mengaji tapi ternyata malah tidak diterima bahkan dituduh sudah menghina. Kenapa pun? Barangkali gaya penyampaiannya yang buruk dan terkesan menggurui. Alih-alih menyadarkan banyak orang, justru malah makin banyak dimusuhi.
Diantara banyak kata-kata baik di dunia, kata-kata terbaik adalah ucapan Laa ilaaha illallah dan dzikir-dzikir. Dalam sebuah hadis Qudsi Allah swt. berfirman :

“Manakala hamba-Ku berdzikir (mengingat dan menyebut nama-Ku) dalam dirinya (yaknia dalam keadaan sendirian), Aku pun akan menyebutnya dalam diri-Ku. Manakala dia menyebut nama-Ku di tengah sekelompok manusia, Aku pun menyebut namanya di tengah kelompok yang lebih baik daripada kelompoknya. Manakala dia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Dan manakala dia datang kepada-ku sambil berjalan, Aku akan datang kepadanya sambil berlari.”

Jika bertutur kata baik pada manusia saja menghasilkan kasih sayang mereka kepada kita. Apalagi bertutur kata baik (melalui dzikir) kepada Allah. Dalam hadis tersebut ada jaminan kasih sayang Allah. Dan setiap ‘kedekatan’ yang kita lakukan dibalas dengan ‘kedekatan’ yang lebih besar. Baik sekali. Allah memang Maha Baik 😀

Rahasia Dzikir dan Do’a : Percikan Ihya Ulumuddin

Dzikir adalah ibadah yang paling utama. Setiap ibadah mengandung dzikir. Sebagaimana setiap perbuatan mengandung kata-kata (dalam berbagai level dan bentuk). Ada banyak riwayat yang mengatakan bahwa dzikir merupakan amalan ringan berpahala besar.

Pada dasarnya dzikir dilakukan dengan pengucapan di lidah. Sangat mudah dikerjakan. Banyak orang ketika dalam perjalanan melakukan dzikir, mengangungkan nama Allah. Bertasbih; bertahmid; bertakbir, tiadak ada yang lain kecuali Allah akan mengampuni orang tersebut.

Tapi memang perlu diingat juga bahwa janji Allah baru berlaku jika seseorang lulus pada syarat dan ketentuannya. (Kausalitas hanya bahasa dunia, sesungguhnya Allah Maha Penggerak segalanya).

Dzikir, meski terkesan hanya mengucap di lidah, tidaklah keutamaannya didapat kecuali melalui ilmu mukasyafah (hak prerogatif Allah untuk bagi orang-orang yang dikehendaki-Nya untuk disingkapkan hijabnya).

Sekali pun berupa ucapan ‘belaka’, dzikir mesti dilakukan dengan kehadiran hati. Adapun dzikir yang hanya dilakukan oleh lidah, sementara hati lalai dan masih terpaut urusan duniawi, maka akan sedikit sekali manfaatnya.

“Jika kehadiran hati bersama Allah secara terus menerus atau pada kebanyakan waktu, itulah yang membuat dzikir diutamakan atas segala macam ibadah. Bahkan dengan itu, semua ibadah menjadi mulia. Dan itu pula puncak dari hasil semua ibadah amaliyah.”

Manusia Suka Pura-Pura.

Suatu malam saat mau shalat tarawih Pakde Klumpuk ingin berinfak 5 ribu dengan uang yang ada di saku kanannya. Sementara ia juga menaruh uang 20 ribu di saku kirinya untuk beli sebungkus rokok sepulang dari masjid.

Ternyata ia salah merogoh saku. Yang dimasukkan ke kotak infak malah yang bernominal 20 ribu. Dan saat Pakde membayar di warung, barulah ia sadar lalu mencak-mencak. “Sial! Uangnya ketuker!”

Tak ingin kehilangan gengsi saat tukang warung melihatnya menggerutu sendiri akibat ‘salah berinfak’, Pakde Klumpuk pun berdehem dan tersenyum tenang lalu berujar, “Gak apa-apa. Uang kan bisa dicari lagi.”

Dalam beberapa kesempatan kita pun bersikap seperti Pakde Klumpuk. Saat kehilangan uang, saat dimintai bantuan orang yang disegani, saat memberi recehan pada pengamen, adakalanya kita cuma bersikap pura-pura. Pura-pura ikhlas!

Tapi pura-pura itu lebih baik dari pada tidak pura-pura, apalagi tidak berinfak atau yang lainnya sama sekali. Coba kalau tidak perlu pakai pura-pura, tentu Pakde Klumpuk akan menyesal dengan penyesalan yang teramat dalam. Bisa jadi mengumpat-ngumpati kelalaiannya, juga mengeluh pada si tukang warung kalau sebenarnya ia ingin sekali mengambil kembalian infak itu sebesar 15 ribu sebagaimana niat awal infaknya, konon.

Lantas, apa yang kita pikirakan menanggapi Pakde apabila berkata-kata demikian? Pasti ill feel kan? Nah, makanya di sini diperlukan sikap pura-pura. Kalau memang susah sekali untuk ikhlas, minimal berpura-pura ikhlas lebih baik ketimbang blak-blakan mengumbar nafsu. Selain kesannya tidak terhormat, kurang patut juga tak elok diucap. Niat Pakde Klumpuk tadi mestinya sudah dicatat Allah. Allah memberikan takdir ‘kesempatan’ menaikkan pahala dengan membuat ‘human error’ pada diri Pakde.

Hal semacam ini sebenarnya bentuk kasih sayang Allah. Seperti momentum untuk dapat double point dari single task. Sebagaimana istilah ‘kedekatan’ hamba yang diusahakan akan dibalas dengan ‘kedekatan’ Tuhan yang lebih besar dalam hadis qudsi tadi.

Akhir.

“Tidak ada yang lebih berharga daripada mendapatkan cinta orang-orang di sekitar kita, sebab cinta orang lain adalah bukti cinta Allah pada kita.”

Bertutur baik pada sesama manusia, berdzikir dan menghadirkan Allah sebagai aktivitas ruhaninya, hanya manusia pilihan yang dapat melakukannya. Tapi, marilah kita coba. Hal ini memang sangat sulit dan berat sekali. Tapi kita wajib berusaha. Jangan pernah menyerah pada kebaikan. Karena yang suka menyerah pada kebaikan adalah teman setan. (Setan suka menggoda manusia untuk cepat berputus asa dalam beramal saleh. Misal setan bilang : “Dari dulu elu berdo’a sama shalat jungkir-balik, kok ya tetap kere. Katanya Allah Maha Kaya. Mana buktinya? Capek beribadah gak kaya-kaya, gak usah ibadah sekalian lah! Capek!”)

Pada dasarnya setiap manusia memiliki potensi untuk dicintai. Maka, mari sama-sama membiasakan diri untuk bertutur kata yang baik, ikhlas dan menghadirkan Allah dalam setiap gerakan kehidupan.

Bisa dimulai dengan pura-pura. Karena tiada keintiman dengan-Nya tanpa paksaan pada awalnya. Anggaplah ‘pura-pura’ sebagai gerbang untuk mengantarkan pada kebiasaan hingga akhirnya berubah jadi kebutuhan.

“Barangsiapa sering menyebut-nyebut tentang sesuatu, meskipun pada awalnya dengan memaksakan diri, niscaya pada akhirnya akan mencintainya juga.”

Ramadhan 10 : Celoteh Melulu Lagi

sandal jepit | sandal dengan pautan untuk jempol kaki dan jari kaki lainnya;

Konon, sumber penderitaan manusia adalah keinginan. Karena dengan keinginan, manusia akan berharap. Celakanya, kebanyakan orang berharap pada orang lain atau keadaan tersebab. Makanya seringkali kecewa kalau ternyata apa yang ia perhitungkan tak tepat persis perkiraannya.

Seperti halnya hubungan antar manusia. Jika yang satu mengira demikian dan demikian, maka yang lain mengira tidak yang demikian melainkan yang demikiun, terjadi lah ketegangan yang akhirnya tak jarang menimbulkan konflik. Baca lebih lanjut

Ramadhan 09 : Hijrah?

Sejak booming yang syar’i-syar’i, istilah hijrah juga jadi populer. Terutama dalam hal busana, bil khusus busana muslim.

Orang disebut berhijrah ketika ia yang dulunya berpakaian dengan model tidak menutup aurat, kemudian kini berpakaian muslim yang menutup aurat, terutama di hijab-nya. Begitu pun perkara yang berkaitan dengan trend busana ini yaitu soal pacaran. Orang disebut berhijrah ketika ia yang dulunya tenggelam dalam asyik-masyuk pacaran, kemudian kini tidak berpacaran lagi dan lebih memilih ta’aruf atau menikah langsung saat didekati buaya, ups! laki-laki maksudnya 😛   Baca lebih lanjut

Ramadhan 08 : Celoteh Melulu

al-qur’an | kitab suci terakhir umat muslim

Ada sebuah judul kolom koran yang saya tangkap secara tak sengaja saat antri beli es teh di warung. Yaitu “Mencintai al-Qur’an”. Begitu tulisnya.

Saya pun terpekur sejenak. Pikiran lantas berebut mengeluarkan kata-kata untuk mengomentari apa yang mata lihat. Setelah kalimatnya tersusun, saya mulai ambil sikap dalam hati dengan pertanyaan kurang ajar : Ngapain mencintai al-Qur’an? Apanya yang dalam al-Qur’an yang harus dicintai?
Baca lebih lanjut

Ramadhan 06 : Simpel yang Asik

bocah belajar shalat

Acara Simpel

Setelah dua hari mencoba sedikit OOC, yaitu berbuka puasa di luar, saya akhirnya kembali ke kebiasaan lama. Berbuka di rumah dan tarawih di masjid yang ada di samping asrama. Masjid kesayangan kedua saya.

Alasannya sederhana. Saya gak mau repot. Dulu, saat belum jadi anak asrama, saya suka nebeng motor teman untuk safari tarawih (Ingat! Bukan safari berbuka :mrgreen: ). Tapi, saat ini jika saya ikut safari berbuka, saya akan boros bensin dan pulang jam 9 malam. Itu belum makan. Belum tilawahan. Dan belum bikin draft postingan juga he he 😛 Intinya, tidak efisien. Makanya saya malas berbuka di keluar.

Pragmatis banget… Baca lebih lanjut