Musik dan Gelagat Pamer

Saat ini banyak lagu yang cepat populer. Di Youtube, akan banyak ditemukan kover lagu yang dinyanyikan dengan konsep dan versinya masing-masing. Bahkan sampai menembus batas negara. Youtuber Korea, Jepang, Amerika, dll, berbondong-bondong mengkover lagu penyanyi Indonesia. Begitu pula sebaliknya. Youtuber Indonesia gemar mem-versi lain-kan lagu penyanyi luar negeri. Baca lebih lanjut

Iklan

Isi Gawai dan Leppy Saya

Kalau kita sering mendengar istilah isi kamar mencerminkan isi pikiranmu, barangkali kita juga bisa mempersamakannya pada item lain semacam gawai dan laptop/ notebook/ netbook (selanjutnya disebut leppy). Kamar seseorang yang tertata rapi, bersih, dan wangi mencermin pribadi orang itu yang juga apik dan berséka. Begitu pula isi gawai dan leppy-nya yang terkategori baik dan rapi mencerminkan kecenderungannya yang senang keteraturan.

Tapi, OK. Ini labeling. Simbol belaka. Kesepakatan saja. Sekedar tipikal. Tentu ada banyak orang rapi dan terstruktur di luar sana yang kadang isi kamar/ gawai/ leppy-nya amburadul seperti habis diserang sapi ngamuk.

Postingan kali ini sekedar main-main saja. Soalnya saya lagi bad feeling sehingga susah diajak menulis seperti biasanya. Baiklah. Saya akan memperkenalkan isi gawai Lenovo A2010 dan leppy Accer Aspire One Happy-N57C saya dalam skrinsut. Betapa simpel dan ‘kosong melompong apps’nya barang elektronik saya ini. Baca lebih lanjut

Celoteh Kemerdekaan

IN.DO.NE.SIA via google

Saya sebenarnya suka iri dengan esai-esai bertajuk hari kemerdekaan yang ditulis dengan sudut pandang sejarah serta ditelisik dengan analisis yang dalam. Sebut saja beberapa buku yang pernah saya baca, salah satunya karya Abdul Hadi W.M..

Dalam Cakrawala Budaya Islam (2016), di beberapa esai pada sub bab-nya, beliau memaparkan dengan sangat menyenangkan setapak demi setapak sejarah hubungan dagang yang dilakukan bangsa Arab pra Masehi hingga perkembangan Islam ke berbagai negeri termasuk masuknya Islam ke Nusantara dan siapa yang membawanya.

Dalam membuat tulisan ini, khususnya ketika memandang hari kemerdekaan Indonesia yang sebentar lagi akan dirayakan (“sebegitu rupa”) pada puncaknya tanggal 17 Agustus kelak, kadang saya membersit : perayaan kemerdekaan memang penting?
Baca lebih lanjut

Chat yang Bikin Nostalgia

Dalam beberapa hari terakhir ini saya mendapati diri seringkali menerima dan mengirimi teman chat-chat yang berbau pembullyan. Yah, tidak membully betulan, kami hanya bercanda. Hal ini kemudian mengingatkan saya pada masa-masa bersama dulu. Entah si teman yang memang tipikal suka bercanda atau saya yang lucu, kami seringkali membentuk obrolan yang berbeda dari kebanyakan orang.

Tanpa harus membicarakan orang lain untuk membangun suasana humor, berikut penggalan obrolan kami di chat beberapa hari terakhir. Silakan simpulkan saya cocok jadi komedian apa tidak 😁 Baca lebih lanjut

#UNDUH RAHMAT

Topik Rahmat dalam koridor berpikir ilahiah dan pada ‘korpus’ Islam (yeah, actually Islam is not a corpus, but let’s say so for respect world diversities 😀 ) khususnya yang diposting oleh bloger platform gratisan lagi bertajuk personal di jagat raya ini, mestinya sudah banyak yang bahas. Jadi, saya mau langsung saja simpulkan hal-hal actionable soal Rahmat yang saya kira merupakan percik-percik api semangat dalam aksi #UnduhRahmat masing-masing kita. Iyeay!
Baca lebih lanjut

Pada Sebuah Pembacaan

Pembacaan adalah pembacaan | pinterest

“In you, there’s more than you.”

Lemah = Kuat = Baik

Pada sebuah pembacaan, kelemahan adalah sumber kekuatan manusia. Dari mana datangnya kekuatan, bukan selalu perihal penguasaan terhadap keadaan lawan, baik secara fisik maupun mental. Adakalanya kekuatan timbul dari keberanian. Rasa berani itu sendiri justru muncul akibat ada rasa lemah.

Rasa lemah memaksa manusia berpikir. Bagaimana caranya agar ‘aku’ berada, bagaimana agar ‘aku’ tidak ditelan sejarah. Pada akhirnya manusia merasa tak ada pilihan lain selain ‘menjadi berani’ dan membangkitkan kekuatan dengan tekad. Pada pembacaan lebih produktif, manusia menjadi lebih cerdas dalam membaca ‘tanda-tanda’ peluang. Baca lebih lanjut

Kumpulan Kesialan dan Kebodohan

Judul : Kritikus Adinan
Genre : Fiksi/ Kumpulan Cerpen
Pengarang : Budi Darma
Penyunting : Adham T. Fusama
Penerbit : Bentang Pustaka
Cetakan : Pertama, Mei 2017
Halaman : 274 hlm
ISBN : 978-602-291-389-4

Kritikus Adinan via imgrum

“Kau merasa menjadi raja karena membaca kata-kata, tapi kau bukanlah apa-apa karena kata-kata itu hanyalah udara hampa.”

Sama seperti kebanyakan tokoh dalam kumpulan cerpen ini, Kritikus Adinan digambarkan sebagai sosok yang kritis, tenang-bersahaja, baik dan tidak suka berbuat ribut-ribut.

Tapi dari sana lah orang-orang inosen macam itu menemui kesialannya. Gambaran sosok yang kemudian pasrah, nrima, bebas-terserah, dan penuh kesabaran menyiratkan sebuah pembacaan terhadap jiwa-jiwa yang menyerah. Kritikus Adinan lelah menulis kritiknya yang tak lagi diminati. Kritikus Adinan lelah dengan perjuangannya akan keadilan.

Sama seperti kebanyakan tokoh riil dalam kumpulan cerita kehidupan ini, adakalanya idealisme yang tak berujung pada ketercapaian membuat seseorang ‘lari’ dari kejaran prinsipnya sendiri dengan membangun prinsip ‘aman’ di kepalanya demi membaik-baik diri bahwa ‘kekalahan’ tidak pernah terjadi, yang ada hanya ketidaksesuaian-ketidaksesuaian realitas yang tak perlu dirisaukan karena itu terjadi sesuai dengan hukum alam dan hukum alam diluar pekerjaan dirinya.

Cara ‘lari’ yang tampak elegan bagi Kritikus Adinan. Dikisahkan dengan penggambaran watak sopan, sabar, tidak suka ribut-ribut dan menuruti birokrasi dengan baik, Kritikus Adinan menjual citranya dengan sempurna hingga pembaca kisahnya mulai bersimpati.

Tapi kecacatan merupakan tema sentral dalam kumpulan cerpen ini. Sosok inosen Kritikus Adinan mendapat celanya terbuka ketika ia terus digambarkan mengikuti prosedur Pengadilan yang mengadilinya tanpa sebab yang masuk akal.

Tampak bahwa terdapat pembacaan ganda dalam cerpen ini. Sosok seorang idealis yang layu ditelan komoditas dan sosok hakim yang kurang amanah dalam menjalankan kewajibannya. ‘Pertemuan’ mereka layaknya ‘orang bodoh’ saja yang akhirnya berujung pada ‘kesialan’ tokoh yang lebih lemah kedudukannya dari tokoh yang lain.

Selain kisah sang Kritikus Adinan, masih ada empat belas cerita dalam kumpulan cerpen Budi Darma ini yang memilik kemiripan kesialan dan kebodohan.

Tak tanggung-tanggung, beberapa diantaranya Budi Darma mengisahkan tokoh perempuan dengan karakternya yang menjijikan, hina dan jalang. Agaknya cerita-cerita di sini mengusung adagium, “Wanita-racun dunia”. Segala kelihaian yang ada pada diri wanita dapat membius banyak laki-laki dan mereka ribut-riut karenanya bahkan rela mati karenanya. Sebagaimana kisahnya dalam Tiga Laki-laki Terhormat, Laki-laki Lain dan Potret itu, Gelas itu, Pakaian itu. Sungguh bodoh. Dan merupakan pembacaan terhadap kebodohan yang nyata.

Selain soal bodoh, kesialan yang sebenar-benarnya sial pun terangkum dalam cerita Senapan. Mengisahkan dua orang yang bersikukuh dengan obsesi absurdnya sendiri hingga masing-masing diantara mereka terperangkap dalam perjanjian konyol yang membuat masing-masing tampak bodoh satu sama lain. Bukan hanya bodoh karena kurang pekerjaan, tapi bodoh karena sudah mempertaruhkan nyawa hanya untuk muslihat-muslihat keabsurdan.

Salah satu cerita yang menarik dan bertempo cepat ada pada kisah Penyair Besar, Penyair Kecil. Penggambaran dua tokoh yang memiliki perbedaan keluasan sudut pandang membuat pembaca akan melihat kemirisan demi kemirisan yang jamak ada dalam setiap perjuangan. Begitu pun dalam cerita Bambang Subali Budiman. Penggambarannya sebagai cerpen ‘tavelling’ sangat menarik, berbau mistis, dan yang tak kalah menariknya ada pada kisah bertumpuk di dalamnya.

Dalam kumpulan lima belas cerpen tentang manusia ini, Budi Darma berhasil baik memadukan berbagai keabsurdan, kebodohan dan kesialan menjadi jalinan cerita yang menarik sekaligus sindiran yang sukses dan masih relevan. Ada kemiripan besar dalam cerpen-cerpennya di sini. Yaitu berawal dengan keanehan, keabsurdan dan keserba-entahan, kemudian berakhir juga dengan keanehan, keabsurdan dan keserba-entahan. Seperti sebuah visual dari satu potongan sobekan-sobekan poto yang ditampilkan dalam pigura, membuat pembaca melihatnya sebagai sesuatu yang mengandung pertanyaan.

Sebagaimana tuturan Budi Darma sendiri dalam pengantarnya mengenai obsesi kepengarannya, bahwa serangkaian pertanyaan yang terus menerus merupakan pendorong seorang pengarang untuk menulis. Agaknya ungkapan ini menunjukkan betapa luasnya cakup pandangnya terhadap kejamakan-kejamakan dan fenomena-fenomena hingga dengan kemampuan berkata-kata lihai, Budi Darma menyusunnya menjadi kisah-kisah absurd yang memberi ruang pengertian bagi satu sudut kehidupan. Jika tidak satu, ya dua. Atau barangkali tiga…

:mrgreen:

Sebelum Mengaitkan Sauh di Labuhan : Celoteh Paska Lebaran

My Pangandaran via mypangandran.com

Simbol Siluman

Setelah kuralang-kuriling di Pasar Pangandaran seperti anak ayam hilang, saya dan teman pun memutuskan untuk melaju ke bagian samping pasar untuk menengok toko aksesori yang cukup besar di sana.

Akhirnya, benda yang saya cari terdapat di toko itu. Senangnya. Saya sudah skeptis duluan ketika Emang–Emang penjaga toko aksesori sebelumnya bilang kalau pedagang pinggir jalan yang biasa mangkal di sepanjang lapangan Merdeka tidak tahu membuka lapak di mana saat ada proyek pembangunan taman di dekat sana. Padahal dari para pedagang itu lah biasa didapat pernak-pernik suvenir khas orang Sunda.

Memang apa sih yang mau saya beli? Wayang golek kah? Keris kah? Gunungan atau satu set gamelan kah? Ha ha… ok, mulai ngawur~ Baca lebih lanjut