Adil dalam Sorotan 🐦

Enggak fair!

Kedua pihak resah saat mengetahui porsi bagi usaha antara si pemodal dengan si pengusaha tidak setara dalam hal persen. Kenapa posisi daya tawarku kurang? Tanya si pemodal lesu. Uzur tak melaku-ku dihargai serendah itu oleh kalangan kuat gawe? Di sisi lain, kenapa dia menuntut nisbah sama sedangkan yang menanggung risiko modal adalah aku? Keluh si pengusaha. Enteng banget dia cuma gelantar-gelontor duit sedangkan aku sekadar numpang mburuh, yang itu pun hasilnya masih dikecup olehnya. Sama rata pula!

😠

Ada yang familiar dengan kondisi di atas?

Ya, betul. Itu salah satu jenis ‘perdebatan’ dalam pra-transaksi kerja sama bisnis. Ada ketidakadilan di sana. Pengusaha tak diperkenankan untuk menentukan kisaran bagi usaha, melainkan hanya disuruh mengangguk dan menandatangani lembar perjanjian saja. 20 : 80, take it or leave it.

Si pengusaha pun kecele hatinya. Niat mbangun usaha dan sukes, eh malah berakhir dengan memperkaya pihak lain. Nasip!

* * *

Bagi anak SMA atau SMK yang mulai dikenalkan dengan literasi keuangan, pembahasan soal adil adalah yang pertama kali dicuatkan sebagai pemantik rasa tertarik sekaligus gebrakan kepedulian akan sistem-sistem yang ada di sekitar mereka.

Apalagi kids-kids nauw itu yang sudah dibekali kartu debit atau kredit, perlulah kiranya mereka mengintip sedikit daripada aktiviti gesek-gesek kartu karena dunia transaksi berjalan dengan semangat kapital. Situ enak, enak sendiri. Di sini juga enak. Tapi, berapa yang jatuh korban akibat keenak-enakan kalian berdua? Oh, tak lah. Usia remaja fokusnya belajar, bukan ngurusi perkara sengkarut kesenjangan sosial yang terjadi di sekitar rumah.

Betul. Tapi saya tetap senang jika kalian duduk dalam masjid menyaksikan seorang dosen muda ikhwan berjanggut mungil-nggemezi dengan semangat menyampaikan bab awal mata kuliah lembaga keuangan syariah dalam versi senior high school.

Ayolah. Jika pun materi yang disampaikan cukup berjejal dengan mata pelajaran sekolah dan tugas prakarya, atau bahkan bertumbukan dengan serangkaian strategi mendapatkan si dia darinya, setidaknya, melihat ikhwan yang lebih jelas pesonanya ketimbang pangeran sekolah yang masih dalam tahap coming of age itu lebih menyenangkan (jiwa). Tapi, saya sih berharap kalian tak sekadar datang untuk cuci mata.

* * *

Apa yang sesungguhnya terjadi dalam otak ketika kita diminta untuk menyampaikan versi keadilan? Bil khusus pada kasus pengusaha yang bergaining position-nya sangat rendah di mata pemodal?

The ikhwan pun meminta para remaja audiens-nya untuk melingkar, membuat kelompok yang terdiri dari 4-5 orang untuk berdiskusi dan memberi jawaban dari pertanyaan di atas.

Abdul (bukan nama sebenarnya) mengacungkan tangan. Ia menjawab dengan pasti bahwa : keadilan dalam transaksi kerja sama pengusaha-pemodal bisa tercapai dengan adanya saling sepakat atas angka hasil usaha, meski tak selamanya harus dalam jumlah nominal yang sama.

Lathifah (juga bukan nama sebenarnya) menyimpulkan, bahwa : asas saling rida adalah kunci. Transaksi yang baik adalah transaksi yang tak meninggalkan bekas luka. #eaa

😀

Pemodal hendaknya legowo jika usaha rekanannya sedang lesu dan berakibat persenan hasil usaha itu tersetor dalam jumlah yang kecil. Adalah kezaliman jika pemodal masih menuntut hasil usaha sedangkan si pengusaha kelimpungan sendiri ngajajadikeun omzetnya untuk belanja produksi.

Maka, agar kerjasama lebih ‘adil’, dibutuhkan kelapangan dalam memaklumi segala kondisi yang mengakibatkan masing-masing pihak terkena rugi. Mengeliminasi rasa ke-aku-an dalam proses bermuamalat setidaknya dapat melanggengkan hubungan bisnis pemodal-pengusaha.

Dimulai dari pembagian nisbah yang transparan.

(*Kenapa saya pakai tanda petik pada kata adil? Karena saya kira kita tak pernah tahu bentuk paripurna dari keadilan, dan hanya berusaha untuk mengejarnya saja)

* * *

Hay, teens! SMA Labschool yang ada di Jakarta mengadakan program Praktik Kerja Lapangan’ di sebuah desa sebagai pengajaran afeksi, budi, dan kontribusi. Sementara kalian duduk manis menghadap LCD sambil menyimak sosialisasi literasi keuangan yang disampaikan langsung oleh dosen pakar. Wah! Kurang apa lagi, coba? Sekolah menengah sekarang benar-benar memfasilitasi muridnya untuk melek kondisi sekitar, bukan?

Sekadar kegelisahan klise calon pengusaha yang hendak merintis start-up, mestinya tahulah kalian. Susahnya cari modal, sulitnya kerjasama. Setidaknya, jika dream-job kalian kelak tak kesampaian dan ingin banting setir jadi pengusaha, kan sudah dikasih pengantarnya oleh ikhwan berjanggut mungil –nggemezi itu.

Transaksi yang baik adalah transaksi yang adil.

Ngurusi ‘keadilan’ seperti di atas, sekalian buat belajar Matematika dan Ekonomi juga, tho? Ketimbang sibuk berorasi menuntut keadilan pada Mami-Papi terkait penurunan jatah jajan atau berjuang dalam prinsip transparansi berpacaran ….

😌

Iklan

6 respons untuk ‘Adil dalam Sorotan 🐦

Coba deh dikomentarin~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s