Salah Paham dan Drive Sebuah Plot

Malam Ahad tadi banyak orang pada nobar film PKI. Saya yang rencananya pengen nonton ke bioskop film Pengabdi Setan di jam midnight tapi tidak jadi karena gak ada teman yang suka film horor akhirnya merengut sendiri di rumah. “Andaikan gue cowok, gak bakalan terlalu aneh hang out sendiri di malam larut ketimbang cewek. Cih ….”

Meski tak terlalu mengerti dengan PKI, sepertinya ada yang menarik dari salah satu fragmen kisahnya :

Anggapan bahwa Tiongkok mengambil peran besar dalam rencana kudeta PKI yang akhirnya gagal itu mengakibatkan banyak warga Tiongkok-Indonesia yang sebenarnya tidak terlibat dalam aksi G30S tersebut justru ikut diburu dalam upaya pembersihan komunisme dan pemulihan keadaan sosial-politik.

Sentimen anti komunis tersebar di berbagai daerah, dan semakin lama semakin menjalar menjadi sentimen anti Tionghoa. Pada saat itu masyarakat menganggap Tionghoa pasti pro komunis, dan komunis harus dimusnahkan. Maka dari itu terjadi penganiayaan, penindasan, pengrusakan bahkan pembunuhan terhadap Tionghoa.

Di Jawa, yang kebanyakan Tionghoa-nya berdagang, ditindas dengan dengan cara dijarah tokonya. Selain itu, masyarakat pemburu sisa-sisa komunis itu merusak berbagai sekolah Tionghoa dan lembaga-lembaga milik Tionghoa. Banyak Tionghoa yang dikirim ke kamp pengungsian dan diperlakukan kasar. Melihat kebencian masif ini pemerintah Tiongkok membentuk komite untuk mengurusi warga Tionghoa yang kembali ke Tiongkok atau Tionghoa Indonesia yang meminta perlindungan dan nebeng hidup aman di Tiongkok.

Komunis yang tersebar di Indonesia (atau Asia) bertipikal aliran radikal, yaitu memercayai bahwa imperialisme hanya bisa diperangi dengan revolusi dan kebetulan dilakukan dengan gerakan bersenjata. Sayang sekali setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya justru terjadi ‘kebimbangan ideologi’ dan masing-masing ‘pengusung’nya (murid-murid the Tjokro) saling ‘berebut’ kekuatan mobilisasi massa. Apakah Indonesia akan nasionalis (‘kebarat-baratan’), islamis atau komunis.

Selain bersenjata, komunis juga terlalu ngotot dalam mengubah ideologi nasional menjadi berhaluan kiri. Aktor komunis mengutus para aktivis komunis dan meraih banyak simptisan komunis, bahkan di kalangan awam. Masyarakat diiming-imingi hak kepemilikan, asosiasi berhaluan Islam dikipas-kipasi, banyak diantara orang-orang miskin masuk ke pintu komunis gara-gara masalah perut. Kubu-kubu Islam disusupi komunis dan perjuangan berbasis agama justru terlihat sangat Marxist. Khas radikalnya, khas pemberontaknya. Hingga pemerintah sulit membedakan mana PKI, mana Sarekat Islam. Sama-sama hobi bikin demonstrasi.

Tapi komunis kurang langgeng di Indonesia karena Indonesia menganut sistem multipartai sedangkan negara komunis menghendaki hanya ada satu komando politik saja. Satu komando ini mengotorisasi berbagai kebijakan di berbagai bidang. Sementara Indonesia pemerintahannya bersifat demokratis, bukan totaliter. Tentu ideologi komunis tidak cocok, apalagi mayoritas Indonesia itu umat muslim. Islam selalu disandingkan dengan citra perdamaian, bukannya bergerak dengan mengangkat senjata dan sedikit-sedikit jedor, sedikit-sedikit jedor.

Memang Cina penduduknya banyak, jedor beberapa ratus ribu orang sepertinya tak masalah. Justru bisa mengurangi angka ledakan penduduk he he. Tapi Indonesia bangsa yang lugu, bukan? Tidak akan mudah membentuk mental jedor meski nantinya dipersenjatai saat ia menjadi pro komunis. Atau jika memang angkatan kelima (petani yang dipersenjatai dan dijadikan angkatan militer gerilya dalam rangka mendukung gagasan NASAKOM Soekarno sekaligus taktik membesarkan kekuatan PKI dan menyempurnakan revolusi) yang diusulkan Aidit benar-benar terbentuk.

Perjalanan komunisme di Indonesia memang memiliki banyak sekali fragmen yang tidak bisa didominankan suaranya. Tapi yang menarik di sini adalah sikap pukul rata yang dilakukan masyarakat paska G30S terhadap Tionghoa. Koran Tionghoa, Taiwan, Jepang, Korea, dll banyak melakukan pemberitaan terhadap peristiwa penindasan Tionghoa di berbagai daerah di Indonesia.

Bayangkan seperti seseorang yang turut membenci setengah mati orang tua yang anaknya memerkosa anak gadis orang tersebut. Begitu pun seseorang yang bakal dendam pada keluarga yang anaknya membunuh ibu atau ayah orang tersebut. Seperti itu lah barangkali kekesalan masyarakat pada para Tionghoa kala itu, padahal mereka statusnya hanya warga asing biasa, yang bisa jadi tidak terlibat sama sekali dalam PKI.

Mungkin banyak salah paham-salah paham yang terjadi dalam sejarah. Seperti salah pahamnya banyak kaum muslim pada Ustman ibn Affan yang dikira nepotisme kekuasaan hingga munculnya titik balik sejarah setelah fithnatul qubra.

Jika saya melihat berbagai peristiwa sejarah sebagai pembaca sebagaimana membaca fiksi yang ditulis oleh seorang penulis, maka menarik betul plot yang dirancang Tuhan di lembar-lembar kehidupan yang mengisi dunia ini. Kisah PKI seperti novel thriller saja. Dimana jika saya berpikir kalau saja G30S tidak meletus, maka Indonesia bisa menjadi negara Adidaya atau setidaknya sangar sedikit karena waktu itu Soekarno tertarik pada pengembangan senjata nuklir. Atau ketika tidak ada penghasut Abdulah ibn Saba maka kekhalifahan akan sedikit lebih lama bertahan di kedinamisannya.

Tapi novel selalu butuh tokoh-tokoh provokatif untuk melanjutkan plot kisahnya dan membuatnya semakin dramatik. Jika semua tokoh dalam sebuah kisah berisi orang baik saja, orang saleh saja, barangkali akan monoton saja. Begitu pun dunia, peristiwa-peristiwa besar yang berisi berbagai polemik politik dlsb bisa dibilang ‘cara kerja’ Tuhan untuk membuat novel yang dramatik. 

Dan sebagaimana unsur intrinsik novel, terdapat amanat, maka novel Tuhan itu pun pastinya tersisipi hikmah-hikmah. Tinggal manusia sendiri apakah bisa membaca sedikit saja dari apa yang terjadi atau apa yang sudah terjadi untuk kemudian dijadikan sebagai pelajaran di masa mendatang.

Terlepas wacana pengungkapan sejarah atau PKI bangkit dari kubur atau yang semacamnya, bagi saya ‘membaca’ salah paham dari peristiwa paska G30S itu bisa menjadi landasan berpikir yang cukup kuat dalam berbagai tindakan.

Seperti misalnya saya terlalu mengira sesuatu pada sesuatu atau seseorang padahal saya belum memeriksa atau bertanya pada orangnya langsung tentang bagaimana alasan atau apa yang sebenarnya terjadi. Maka setelah itu saya mesti akan salah paham jika memang yang sebenarnya tidak seperti yang saya kira. Dan ketika saya terlanjut membenci, saya akan sulit kembali berpikir netral. Jika sudah begitu yang ada hanya sentimen saja.

Meski dalam tes MBTI saya masuk ke tipe judging, sebenarnya saya berusaha untuk tidak mudah judging sesuatu. Saya takut salah paham. Memang aksi saya tak sesangar masyarakat yang memburu sisa-sisa PKI kala itu he he, tapi aksi saya bisa menghilangkan kesempatan yang ada di kemungkinan-kemungkinan hubungan saya dengan berbagai orang akibat saya kadung menilai ini-itu terlebih dulu dan membuat saya memutuskan untuk mendekati atau menjauhi orang itu.

Ya, ini fatal bagi saya. Salah paham itu hantu yang sebenarnya.

Tapi sekali lagi, melihat kisah saya sendiri sebagai novel karangan Tuhan, menarik betul. Saya diberi karakter yang khas, saya mencoba menyelesaikan konfrontasi di pikiran saya, lalu saya mencoba berbagai penyelesaian di konflik yang ‘dikirim’ Tuhan untuk saya rampungkan. Saya juga diminta untuk dapat merefleksikan berbagai peristiwa untuk mengambil pelajaran agar tidak jatuh lagi di masa depan. Sungguh menarik.

Sejarah memang menarik. Tapi yang terpenting adalah apa yang dilakukan sekarang. Jangan sampai peran hero yang sudah diberi Tuhan disia-siakan. Ikut sana-ikut sini. Hero mestilah berpendirian dan berorientasi aksi. Sekecil apapun. Toh, kata pepatah : lama-lama akan jadi bukit.

😄😄

Iklan

4 thoughts on “Salah Paham dan Drive Sebuah Plot

  1. “Tapi sekali lagi, melihat kisah saya sendiri sebagai novel karangan Tuhan, menarik betul. Saya diberi karakter yang khas, saya mencoba menyelesaikan konfrontasi di pikiran saya, lalu saya mencoba berbagai penyelesaian di konflik yang ‘dikirim’ Tuhan untuk saya rampungkan. Saya juga diminta untuk dapat merefleksikan berbagai peristiwa untuk mengambil pelajaran agar tidak jatuh lagi di masa depan. Sungguh menarik.”

    bagian yang bagus banget.

    Disukai oleh 2 orang

  2. Nah, itu dia: sama2 hobi bikin demonstrasi, 😂😂

    Aplgi urusan slh pham, 😇😇 ane.

    Aseek, sy mnikmti skli ulasan seorg Mulya, cetar, berprinsip, menohok; tipikal pngamat yg tajam, bikin panik pasca mmbcanya, tjiaaaahh *bener.

    Disukai oleh 1 orang

Coba deh dikomentarin~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s