Musik dan Gelagat Pamer

Saat ini banyak lagu yang cepat populer. Di Youtube, akan banyak ditemukan kover lagu yang dinyanyikan dengan konsep dan versinya masing-masing. Bahkan sampai menembus batas negara. Youtuber Korea, Jepang, Amerika, dll, berbondong-bondong mengkover lagu penyanyi Indonesia. Begitu pula sebaliknya. Youtuber Indonesia gemar mem-versi lain-kan lagu penyanyi luar negeri.

Berdasarkan fenomena ini, apa bisa dibilang bahwa: kebanyakan orang baru sadar bakat terpendamnya akan bermusik? Setelah ada media atau jalan untuk dikenal khalayak, orang-orang berusaha sedikit lebih keras untuk menunjukkan aksi terbaiknya. Like dan subscribe seolah menunjukkan level kecerdasan musikal Howard Gardneriannya.

Ya, ternyata mereka pandai bermusik.

***

Kalau saya dulu diizinkan masuk SMK Karawitan—waktu itu saya ngebet ingin pilih konsentrasi seni musik dan melanjutkan kuliah di ISI, kemungkinan besar saya juga akan jadi Youtuber yang ikut-ikutan mengkover lagu. Kekinian lah pokoknya. Apalagi jika bikin grup musik sendiri. Kami pasti berusaha untuk jadi musisi terkenal.

Abbasiyah.

Itu nama grup musiknya.

Tapi, ternyata dulu saya sekolah di SMA biasa. Biasa banget, yang tidak ada klub musiknya. Keinginan serius di bidang seni musik pun kandas. Karena saya tidak bisa menjawab pertanyaan simpel, “Mau jadi apa masuk jurusan musik?” Diperkuat dengan saya yang pada waktu itu memang tidak bisa memakai alat musik apa pun atau sekedar membaca not balok, orang tua makin menentang pilihan saya. Merasa tidak ada alasan kuat, saya pun tunduk patuh. Toh, masih untung disekolahkan.

Aneh bin ajaib. Di SMA saya malah berganti menjadi sosok yang agak ke-milsuf. Ya. Euu, bukan. Maksudnya bukan gara-gara gagal serius bermusik. Ini karena saya tidak punya teman. Semua teman dekat saya saat SMP meneruskan SMA di Pangandaran atau SMA lainnya yang mereka inginkan. Intinya, saya sendirian di SMA yang terpaksa-saya-masuk-ke-sana-atau-gak-usah-sekolah-sekalian. Apalagi tidak ada musik.

***

Teman kuliah saya pernah nyeletuk, “Pik, elu tuh gak pernah nyanyi, ya?” Saya menjawab simpel, “Pernah lah. Elu aja gak tau.”

Ya. Orang-orang tidak tahu kalau saya hobi bernyanyi. Saya memang tidak pernah menuliskan ini di biodata atau form registrasi apapun. Terlebih, saya tidak pernah bernyanyi ketika sedang banyak orang di sekitar. Saya malu. Entah kenapa saya yang waktu kecil pecicilan dan centilnya minta ampun itu, bertransformasi menjadi sosok introvert yang cukup akut di masa-masa puber.

Saya lebih suka menyanyi saat sendiri, atau paling tidak bersenandung pelan ketika yang lain asyik mengobrol. Mau lagu daerah, lagu nasional, lalu pop biasa, lagu dangdut, lagu berbahasa asing dan lainnya, saya bisa. Saya pendengar semua jenis lagu. Saya bisa menyanyikannya kalau Anda minta. Tapi, yaa … saya malu nyanyi di depan Anda. Jadi, itu permintaan mustahil ha ha.

***

Suara saya itu bagus saat bernyanyi. Dan sepertinya tipe nada saya adalah nada tinggi. Saya kebetulan suka penyanyi bernada tinggi. Baik perempuan maupun laki-laki. Terutama laki-laki. Nada tinggi laki-laki itu seksi khi khi ….

Saya suka laki-laki yang pandai bernyanyi. Apalagi bisa mengaransemen musik. Yaa … bukan apa-apa, saya rasa orang seperti itu keren saja. Menyanyi itu, menurut saya, aktivitas emosi yang benar-benar total. Orang yang sehari-harinya ekspresif belum tentu bisa mengekspresika isi lagu. Apalagi yang buta nada. Tapi saya, meski dikenal poker face, entah kenapa secara refleks saya akan tersenyum genit saat menyanyikan Zapin Melayu-nya Lesti atau berwajah ceria saat menyanyikan Penantian Berharga-nya Rizky Febian atau berkoreografi ringan saat menyanyikan Action-nya UKISS. Ahh … ini namanya pengkhianatan ekspresi. Saat bicara, saya jarang menunjukkan emosi dan emosi (yang seringkali dibutuhkan untuk basa-basi) itu justru muncul saat bernyanyi. Aneh.

***

Uwaahh … out of imagine. Musik itu memang ada dalam diri saya. Saya kenal sejak kecil karena Bapak suka menyetel dvd campursari dan pop sunda. Mamah juga suka ajari saya menyanyi.

Tapi musik, saya menikmatinya secara personal saja. Tidak perlu ada yang tahu bagusnya suara saya. Ha ha. PD memang. Mau bagaimana lagi. Suara saya benar-benar bagus. Beneran. Maji!  Tapi saya tidak mau menunjukkan. Di postingan ini kan saya cuma mau pamer saja.

OK. Selamat hari Selasa. Jangan lupa berdo’a sebelum makan.

Iklan

21 respons untuk ‘Musik dan Gelagat Pamer

  1. Saya lebih beruntung dari kamu kayaknya ha ha ha…. tapi klo malu saya juga malu. Tapi bisa main gitar ho ho ho….

    Biasanya klo lagi pusing atau nganggur sekali baru mainin gitar. Stel musiknya dan mainkan. Cuma gitu doang. Tapi klo nyanyi udah takdir klo suara saya helek ha ha ha… namun justru gara2 itu tiap waktu ngumpul saya yang disuruh nyanyi buat ditertawakan 😀

    Disukai oleh 1 orang

  2. Jujur ini agak mengubah pandanganku terhadap kak mulya. Nggak nyangka aja suka nyanyi ahaha…
    Dan sepertinya pede sekali dengan suaranya ya *ngelirik
    Awas ambil nada pertamanya jangan ketinggian HAHA

    Disukai oleh 1 orang

  3. aku juga dulu pengen banget sekolah musik tapi ngga kesampean hahahaha 😦 orang tua jaman dulu emang suka gitu, pilih-piliih jurusan yang prospeknya jelas. padahal jaman sekarang semua jurusan karirnya terbuka lebar. ngambil pendidikan di sekolah musik kan bisa jadi pengajar, performer, composer, arranger, dan masih banyak lagi~~

    Suka

Coba deh dikomentarin~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s