Celoteh Kemerdekaan

IN.DO.NE.SIA via google

Saya sebenarnya suka iri dengan esai-esai bertajuk hari kemerdekaan yang ditulis dengan sudut pandang sejarah serta ditelisik dengan analisis yang dalam. Sebut saja beberapa buku yang pernah saya baca, salah satunya karya Abdul Hadi W.M..

Dalam Cakrawala Budaya Islam (2016), di beberapa esai pada sub bab-nya, beliau memaparkan dengan sangat menyenangkan setapak demi setapak sejarah hubungan dagang yang dilakukan bangsa Arab pra Masehi hingga perkembangan Islam ke berbagai negeri termasuk masuknya Islam ke Nusantara dan siapa yang membawanya.

Dalam membuat tulisan ini, khususnya ketika memandang hari kemerdekaan Indonesia yang sebentar lagi akan dirayakan (“sebegitu rupa”) pada puncaknya tanggal 17 Agustus kelak, kadang saya membersit : perayaan kemerdekaan memang penting?

Untuk memenuhi rasa penasaran tersebut, marilah kita berdayakan otak filsafat di kepala kita. Dimulai dengan memahami definisi kemerdekaan sehingga didapat makna dan kepentingannya; kemudian memahami bagaimana kemerdekaan itu bisa hadir hingga didapat esensi keberadaannya; lalu yang tak kalah penting adalah memahami kegunaan pengetahuan kemerdekaan itu untuk kelangsungan hidup bangsa dan negara.

Dengan menjawab pertanyaan di atas, setidaknya kita tidak terlalu dirundung galau filosofis atas keterlibatan kita sebagai panitia Agustusan, atau lebih sangar lagi, tim paskibra. Karena kalau hanya jadi sekedar pelengkap acara, tim horee atau barisan haha-hihi perayaan saja, rasanya kok buang-buang energi, kisanak!

Kemerdekaan, kalau mau dikejar secara linguistik, pastilah memiliki berbagai macam tafsiran. Ada yang menganggap Indonesia sudah merdeka. Karena memang sejarah menghadirkan momentum demikian. Ada juga yang menganggap Indonesia belum merdeka. Karena rakyat nyatanya masih tertindas ekonominya, pendidikannya, dan hak bersuaranya. Ada juga yang menganggap Indonesia setengah merdeka, seperempat merdeka atau seperdelapan merdeka. Tergantung dari wilayah mana yang progress pembangunan dan pemberdayaannya kelihatan bagus.

Tapi, kita semua sepakat kalau sebelum kemerdekaan yang hadir dari sebab-sebab penjajahan terplokamirkan, Negara Indonesia (atau sebut saja Nusantara, karena Indonesia muncul baru-baru ini) merupakan negeri yang merdeka. Lagi Islam.

Wilayahnya luas terbentang di bawah kekuasaan kesultanan-kesultanan. Rakyatnya makmur karena olahan lahan pertanian maupun hasil pergadangan dengan negeri seberang. Maritimnya kuat karena memiliki leluhur ahli pelayaran. Hubungan sosial-masyarakat terjalin dengan baik, tanpa konflik berarti, apalagi hingga melibatkan suku bahkan agama.

Singkatnya, Nusantara negeri idaman.

Meski begitu, menurut Ibnu Khaldun dalam Mukaddimah-nya, bahwa sejarah tidak berjalan di satu sisi saja, akan ada pergerakan naik dan turun di dalamnya. Begitu pula yang terjadi kemudian, setelah dirasakan kejayaan di Nusantara, akibat kedatangan bangsa 3G (Gold, Glory, Gospel), Nusantara menemui titik baliknya.

Bangsa terpecah. Ketenangan hidup mulai terusik. Ketenangan beragama mulai ternoda. Paksaan terjadi di mana-mana. Gospel, menghancurkan suasana toleransi Nusantara dan menggantinya dengan ketegangan-ketegangan. Konflik demi konflik. Atau barangkali juga tipu dan muslihat.

Kemudian dari sana lah muncul perlawanan-perlawanan rakyat. Dengung jihad dan penegakkan tauhid menjadi semangat juang yang melandasinya. Melalui gerakan yang teratur, terorganisir dan kontinyu, bangsa Indonesia bersatu melawan segala bentuk jajahan di bawah kalimat takbir. Kalimat yang membuat bumi bergemuruh dan membuat bangsa 3G terancam.

Singkatnya, dapat kita temukan jejak semangat melawan Gospel pada pembukaan konstitusi, alinea ketiga.

“Dengan berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas…”.

Dalam ceramahnya malam tanggal 13 Agustus 2017 di Masjid al-Hidayah, Suryodinigratan, Mantrijeron, Yogyakarta waktu lalu, Ustadz Adi Hidayat mengulas bahwa tidak ada tafsir lain dari kata “Allah” selain Allah, illah, rabb yang bersifat tunggal (ahad), pemilik Din, yaitu Islam. Dan pernyataan ini diperkuat dalam pasal 29 ayat 1, berbunyi :

“Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Bahkan rumusan dasar Negara pun bernuansa tauhid, yaitu terdapat di sila pertama :

“Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Artinya, perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan bukan sekedar merebut kemerdekaan, usaha-usaha membangun negeri dan mempertahankan pemerintahan dari penggulingan-penggulingan kembali bangsa 3G, merupakan perjuangan yang terinspirasi dari jihad Rasulullah saw. dan ulama terdahulu dalam menegakkan kalimat tauhid serta menjadi payung bagi negeri yang berkah.

Sayang sekali usia kejayaan Nusantara tidak terlalu lama. Jika lah saya boleh berandai, tanpa kedatangan bangsa 3G, mungkin saja Indonesia menjadi Negara adidaya dan pusat peradaban dunia karena di samping negerinya yang kaya, juga berpenduduk muslim terbesar, yang berkonsekuensi pula dalam semangat pembangunan berasaskan tauhid—pembangunan yang bukan saja mengangkat aspek materi, tapi juga mengangkat aspek akhlak.

Maka dari itu, perayaan kemerdekaan Indonesia yang sudah menginjak angka ke-72 ini harusnya tidak sekedar jadi hari besar nasional yang kita lalui begitu saja layaknya Lebaran Fitri atau Lebaran Haji yang well, biasa kita isi dengan kegiatan-kegiatan yang tak berbekas di hati. Atau dalam bahasa gaulnya, tidak evaluatif.

Perayaan kemerdekaan nasional kita itu harusnya menjadi check point tahunan warga negara dalam kontribusinya membangun bangsa. (Kenapa membangun bangsa, bukan membangun negara? Karena negara hadir melalui kinerja bangsanya. Dan membangun kinerja itu lebih sulit ketimbang membangun sistem politik dan regulasi)

Membangun kinerja dapat dimulai dari membangun pribadi. Sementara sebelum membangun pribadi harus mengetahui dulu apa yang hendak dibangun. Karena kita bicara mengenai konteks negara, mari amini pembangunan mengarah pada ke-madani-an Indonesia. Kontribusi pembangunan pribadi dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas pendidikan, kemudian dilanjutkan dengan kesatuan keorganisasian. Karena bagaimana pun juga tujuan besar perlu gerakan yang besar. Dan gerakan yang besar perlu pengorganisasian yang mantap.

Baik gerakan-gerakan (pembaharu) bertajuk ketauhidan; gerakan relawan yang mengusung semangat pemberdayaan sosial; maupun gerakan yang berkomitmen terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia, alangkah indahnya jika dapat menghasilkan sinergi dalam rangka mewujudkan tujuan nasional negara Indonesia.

Jadi, jika ditanya bagaimana kita mengisi kemerdekaan Indonesia saat ini, yaitu dengan meningkatkan kualitas pribadi, baik secara intelektual, sosial maupun spiritual. Dan segera lah hentikan keterlibatan yang bakal menghambat jalannya sinergi ketercapaian kemakmuran Indonesia. Jika kita masih menganggap perayaan kemerdekaan itu penting (evaluatif dan semacamnya), hadirkanlah rasa syukur dan bergerak lah dalam kebaikan.

Jika tetap haha-hihi saja setiap tahun pergantian ulang tahun Indonesia, sebaiknya belajar menjahit atau memancing saja…😨

 

Iklan

16 thoughts on “Celoteh Kemerdekaan

  1. Saya paling nggak ngerti yang beginian. Karena saya termasuk orang yang selamatkan diri masing-masing. Yg jelas mikirin diri sendiri doang, soal bangsa dan negara mau dibawa kemana biar itu tugas para politikus dan yang berkuasa. Masalah banyak yg korup dan semakin aneh saja nusantara. Maka pemikiran saya adalah fokus terhadap kelangsungan kemakmuran diri sendiri dulu. Bahkan kemerdekaan atau hari apapun tidak berdampak apapun bagi kemakmuran saya. Kecuali klo setiap perayaan ada yg mau bagi-bagi uang ha ha ha….

    Suka

    • Haha pertahanan memang penting. Dalam sepak bola pun ada tim bertahan, ada tim serang. Kita memosisikan diri sesuai kemampuan. Mau bertahan, mau menyerang, keduanya penting. Yang jelas, tahu tujuan bertahan atau menyerangnya.

      Dalam hidup berbangsa, kita boleh pakai strategi bertahan spt yang Bang shiq4 contohkan, membangun benteng welfare-isme dimana kodratnya benteng (benteng pasti besar), digunakan utk melindungi diri dan orang sekitar.

      Tapi ada juga yang lebih cocok dg strategi menyerang. Mereka terlibat langsung dlm urusan berbangsa dan bernegara. Mereka membentuk gerakan, menyeru semangat kaizen, atau masuk ke ranah politik.

      Tentu saja akan ada banyak oknum. Saat bertahan, orang tergoda utk egois; saat menyerang, orang tergoda utk angkuh.

      Apapun posisi kita, strategi kita, cara kita, prinsip kita, mengusahakan yang terbaik adl yang paling baik. Do our best.

      Disukai oleh 1 orang

  2. Era penjajahan terjadi dimulai sejak serangan kapal-kapal Portugis kepada Nusantara, dalam hal ini Majapahit. Pada era itu, Majapahit sebagai garda depan penjaga Nusantara sedang berada dalam titik nadir kejayaannya. Perang saudara dan perebutan tahta. Akibatnya personal-personal di dalam Nusantara begitu mudahnya diadu domba.

    Sampai saat ini, pemimpin negara masih sibuk menyelamatkan pantatnya sendiri beserta sanak kadangnya. Bahak ketika membaca sepak terjang foundig father negara ini, saya kerap miris membacanya. Sering kali saya merasa negri sesubur ini dijadikan ibrah oleh Tuhan bahwa keberkahan bukan terletak pada subur dan makmurnya sumber daya alam yang dimiliki.

    Lantas, sebagai penghuni Nusantara apa yang sebaiknya dilakukan? saya juga merasa embuh untuk hal ini. Paling tidak membuat tulisan seperti mba Mulya ini, menyuarakan kegalauan termasuk sebagai bentuk kepedulian terhadap perkembangan Nusantara.

    wallahu’alam. Merdeka bisa jadi berarti bekerja menyelesaikan amanah di depan mata dengan sebaik-baiknya.

    Salam..

    Disukai oleh 3 orang

    • Terima kasih Bang Dipt. Untuk (beberapa) orang yang jelas-jelas tidak punya pengaruh, pangkat, kemampuan menggerakkan yang hebat, ‘cem saya, hanya bisa sedikit memetakan masalah saja. Itung-itung memupuk motivasi hidup berbangsa.

      Praktiknya, sesuai kemampuan saja. Takwa juga demikian. 😃

      Suka

  3. perayaan penting sebagai sarana untuk mengingat! proses mengaktualisasikan sejarah. setelah itu adalah pembangunan karakter bangsa melalui teladan mulai dari pemimpin dan rakyatnya. berpesta itu penting! setelah itu semangat kegembiraan sejarah diaktualisasikan dalam karya. setidaknya pekerjaaan yg dilakukan dengan gembira dan bebas menghasilkan karya yang bermutu dan bermanfaat.

    Disukai oleh 1 orang

Coba deh dikomentarin~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s