Ghibah yang Complicated

IMG_20170731_215416_983

monyet berekspresi via pinterest

GHIBAH adalah membicarakan sesuatu yang tidak disukai saudara kita walaupun itu benar adanya. Kalau terbukti tidak benar, maka itu disebut cerita dusta atau fitnah. Ghibah dan fitnah sama-sama terlarang. Jika dilakukan, maka dikenai ancaman.

Kita kesampingkan dulu fitnah, mari bahas ghibah. Ghibah, menurut saya ada dua jenis. Pertama, ghibah yang dilakukan oleh kita sendiri. Kedua, ghibah yang didengar oleh kita dari orang lain.

Untuk jenis ghibah yang dilakukan oleh diri sendiri (mari sebut itu ghibah mandiri) saya rasa kita mudah untuk menghindarinya. Dari Hadis Riwayat Baihaki, siapa saja yang ingin terhindari dari ghibah hendaknya menutup pintu praduga buruk sehingga tidak punya keinginan untuk mengorek-orek kesalahan orang lain.

Contoh dialog alternatif menutup praduga buruk :

Lim : Sun, kemarin gue ketemu sama si Mulya!
Sun : O, temanmu itu?
Lim : Iya. Kemarin dia beli es teh di warung.
Sun : Hee, terus?
Lim : Udah. Ngasih tau aja.
Sun : *menatap kosong

Lim tidak memulai dengan praduga buruk, dan Sun pun tidak menanggapinya dengan memberi praduga buruk. Contoh obrolan yang sehat. Tapi abaikan kekonyolannya.

Sementara ghibah jenis kedua, ghibah yang didengar oleh kita dari orang lain (mari sebut itu ghibah kiriman). Ini jenis ghibah yang bikin kita repot. Kenapa? kita sulit mengaturnya. Bahan ghibah tidak keluar dari mulut kita sendiri, tapi mulut orang lain.

Satu-satunya untuk menghindari ghibah jenis ini adalah dengan menegur si orang yang sedang ber-ghibah.

Masalahnya, bagaimana cara kita menegurnya? Apa dengan mengatakannya langsung bahwa dia sedang ber-ghibah dan sebaiknya segera hentikan sebelum terjerumus dosa, atau menyusun narasi dulu agar teguran tidak terkesan menggurui? Belum lagi jika kita dikatai sok suci. Atau justru merasa riya karena sudah mengingatkan orang dari keburukan. So complicated, isn’t it?

Sebenarnya kita bisa mengelak ghibah kiriman ini dengan meninggalkan sumber ghibah. Saya pernah melakukannya. Setidaknya salah satu alasan saya pindah ke asrama adalah untuk hal ini. Menghindari ghibah kiriman. (Duh, wahai aku, tidak keren sekali dirimu) 😞

Adakalanya kita juga memukul rata sifat seseorang. Hanya karena satu perilaku cacat, lantas kita nilai dia sebagai pribadi yang kurang cocok dengan adab pribadi, maka dari itu perlu dihindari sejauh-jauhnya. Kalau perlu putuskan pertemanan, karena dia bisa merusak akhlak.

Kalau itu benar terjadi, sedih sekali rasanya. Sangat-sangat sedih. Saya pernah mengalaminya. Jantung saya seperti ditusuk-tusuk jarum. Dada terasa panas dan sesak. Hidung juga mendadak mampet. Itu akibat saya sudah memukul rata sifat seseorang. Tapi, sekarang saya tidak begitu lagi. Saya sudah berbaikan dengan teman saya. Yokatta, bisa memerangi satu dari sekian juta keegoisan yang bersarang di tubuh.

Dalam pelajaran adab, ada tata cara tersendiri untuk memberi teguran/ nasihat kepada orang lain. Terlebih orang yang usianya lebih tua dari kita. Menegur orang dari ghibah dan menasehatinya agar tidak melakukan itu lagi perlu cara-cara khusus.

Cara yang super-eksekusional mungkin tidak ada, tapi prinsipnya, jika ingin menegur/ menasihati orang lain, gunakan lah kekuatan cinta. Cinta itu berasal dari hatimu. Seberapa kuat hatimu bertali pada kasih Tuhan, sekuat itu juga hatimu untuk menyayangi ciptaan-Nya.

Yah, sebenarnya saya juga sedang belajar mencintai. Mencintai saudara sesama muslim seperti mencintai diri sendiri~

So, ghibah yang complicated, mari menghadapinya dengan kesadaran untuk tidak berprasangka buruk dan senantiasa menaruh harapan baik pada orang lain.

Iyeay! ❀❀

 

Iklan

20 thoughts on “Ghibah yang Complicated

  1. masHP berkata:

    Sepakat. Ghibah itu perbuatan yang kadang enak tapi bisa bikin celaka. Ghibah bisa menghanguskan nilai ibadah kita sebagai hubungan habluminallah. Sementara Allah menilai hambanya tidak hanya dari sisi baiknya habluminallah, tapi habluminanas itu punya andil yang besar apakah manusia akan mendapat limpahan rahmatNya kelak.

    Mari, sebisa mungkin hindari ghibah.
    Terima kasih sudah diingatkan ya teh.
    πŸ™‚

    Disukai oleh 1 orang

  2. Seberapa kuat hatimu bertali pada kasih Tuhan, sekuat itu juga hatimu untuk menyayangi ciptaan-Nya.

    Duh. Memukul-mukul denyut jantung
    Keren banget penutupnya kak. Cinta ~

    Tapi apa menghindari sumber ghibah itu memang tidak keren? Rasanya tidak semua orang bisa ditegur hmm.. Apa menegurnya kurang bumbu cinta saja ya

    Disukai oleh 1 orang

Coba deh dikomentarin~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s