Pada Sebuah Pembacaan

Pembacaan adalah pembacaan | pinterest

“In you, there’s more than you.”

Lemah = Kuat = Baik

Pada sebuah pembacaan, kelemahan adalah sumber kekuatan manusia. Dari mana datangnya kekuatan, bukan selalu perihal penguasaan terhadap keadaan lawan, baik secara fisik maupun mental. Adakalanya kekuatan timbul dari keberanian. Rasa berani itu sendiri justru muncul akibat ada rasa lemah.

Rasa lemah memaksa manusia berpikir. Bagaimana caranya agar ‘aku’ berada, bagaimana agar ‘aku’ tidak ditelan sejarah. Pada akhirnya manusia merasa tak ada pilihan lain selain ‘menjadi berani’ dan membangkitkan kekuatan dengan tekad. Pada pembacaan lebih produktif, manusia menjadi lebih cerdas dalam membaca ‘tanda-tanda’ peluang.

Sejauh saya hidup, saya tidak pernah menganggap kata-kata motivasi dapat memotivasi saya. Pernyataan motivasional dan kuotabel bukan lah drive yang cocok untuk improvement hidup saya. Justru saya lebih suka bergumul dengan kelemahan-kelemahan, kesalahan-kesalahan, atau keburukan-keburukan.

Entah karena saya terlalu menganggap serius Senpai yang pernah bilang bahwa saya selalu melihat dari kiri dan menilai dari yang buruk-buruknya, kesukaan saya pada wacana-wacana ‘kehancuran’ membuat saya memiliki pikiran tentang kekuatan-kekuatan.

Saya percaya yang hancur itu bisa dibangun ulang. Yang mau hancur pun bisa direkonstruksi lagi untuk diperkuat bangunannya. Maka dari itu, karena manusia banyak lemahnya, saya rasa sangat keren andaikata saya berfokus pada kelamahan saja untuk mengetahui bagaimana saya membangun ulang diri saya atau memanipulasi kelemahan saya dengan keyakinan kuat.
Begitu pun dalam memandang kelamahan orang lain. Saya maupun dia punya kondisinya masing-masing. Usahanya masing-masing. Dan hasil usahanya masing-masing. Tidak adil saya memperlakukan atau menilai orang dengan perlakuan atau nilai yang sama dengan yang terjadi di diri saya.

Adakalanya kelemahan saya merupakan kekuatan orang lain. Adakalanya juga kelemahan orang lain adalah kekuatan saya.

Gimana? Saya baik banget kan? Pikiran-pikiran tentang lemah lah yang membuat saya tidak terjebak pada satu kesimpulan dari sebuah sebab. Saya membuka peluang keyakinan pada sesuatu yang ‘asing’ dalam menetapkan kesimpulan. Sebagaimana saya percaya pada kun fa yakun Tuhan.

Kuat dan lemah semuanya baik. Kebetulan saya menggunakan ‘yang lemah’ untuk menyadari kekuatan.

Fitri sekali kan saya~ :mrgreen: #songong akut

Degil

TAPI!

Saya itu tak pernah suka dinasihati. Saya kan raja. Raja tidak menerima nasihat. Raja itu harus songong. Maka dari itu saya benci orang yang suka menasihati.

Haha ok, simpan kembali celurit kamu. Saya memang selalu menempatkan diri saya lebih atas saat orang lain berusaha menempatkan diri di atas saya.

Saya, kalau dinasihati orang tua akan selalu diam. Seperti orang menurut. Tapi sebenarnya saya sedang melakukan pemetaan. Saya selalu berpikir setiap ucapan yang keluar dari mulut seseorang selalu memiliki sebab-sebabnya. Orang berkata sesuai dengan pengalamannya. Orang berucap sesuai kadar pembacaannya terhadap masa lalu dan masa depan.

Yang saya lihat dari nasihat orang tua saya itu bukan kata-katanya, tapi alasan kenapa orang tua saya berkata-kata demikian. Itu yang membuat saya memiliki hasil yang lebih cocok dengan diri saya. Nasihat itu hanya kata-kata yang menguap saja. Sambil lalu. Tapi, dengan memperhatikan alasan, saya mendapat kesimpulan nasihat yang lebih luas untuk kemudian dapat saya terapkan sesuai dengan karakter dan gaya berpikir saya.

Itu untuk level orang tua, orang yang notabene sangat saya hormati. Bagaimana dengan kamu? Nasihat kamu itu upil saja buat saya. Saya tidak pernah melihat ucapanmu, melainkan kemungkinan kondisi kenapa kamu mengucapkan hal itu.

Untuk orang yang tidak percayaan ini, satu-satunya jalan agar saya tidak marah-marah kurang jelas dengan ucapan orang, adalah dengan pura-pura diam mendengarkan sementara pikiran sibuk mencari ‘hikmah’ dengan cara saya sendiri. Toh, hidup-hidup saya. Ha ha…

OK, simpan lagi celuritmu. Saya tidak ngajak kamu tawuran. Tentu saja saya kalah. Kan kan saya tidak pernah punya semangat kompetisi. Saya ini orang baik. Lebih suka mengalah karena memilih kalah adalah kemenangan sejati. #fallacy

Jadi Diri Sendiri

Saya tidak tahu jadi diri sendiri itu bagaimana. Saya hanya tahu kalau saya harus jujur, adil, dan mengamalkan kebaikan dengan cara-cara yang baik. Saya juga tidak punya hobi. Mungkin jika direduksi, let say, hobi saya membaca dan menulis. Karena memang itu aktivitas yang sering saya lakukan dan membuat orang menilai saya memiliki kemampuan itu lebih dari mereka. Ah… itu hanya quotation saja.

Saya itu merasa tidak punya hobi dan tidak mau punya hobi. Saya ini kan serakah. Saya ingin menguasai segalanya. Ingat kalau saya Raja? Raja selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.
Jadi diri sendiri itu tidak penting bagi saya. Memang saya mengikatkan diri pada simbol-simbol tertentu. Seperti gaya bicara, model pakaian, atau dalam menetapkan pilihan-pilihan. Tapi apa yang ada di diri saya itu bukan diri saya sendiri. Melainkan obsesi saya.

Yang saya yakini soal jadi diri sendiri adalah bahwa saya akan menjadi diri sendiri dalam suatu kondisi di mana obsesi tidak berpengaruh lagi. Di mana? Yang jelas bukan di dunia. Selama saya masih hidup, saya tidak bisa menjadi diri sendiri karena saya pasti akan selalu bergerak dan mengalami perubahan-perubahan.

Ah~ absurd sekali kan? :mrgreen:

Well, hentikan ocehan ini. Saatnya kamu kembalikan celuritmu di tempat kamu menyimpannya luangkan waktu untuk baca dirimu sendiri. Siapa tahu kamu menemukan sesuatu yang membuatmu tercengang. Manusia memang penuh kejutan.
Babay! Jangan lupa bahagia. Berniatlah yang mulia. Kebaikan selalu dimulai dengan niat. Dan selalu ada jalan untuk pulang~

Iyeay!

Iklan

7 thoughts on “Pada Sebuah Pembacaan

  1. Weis..Mulya gito loh..klo gak gni bkn Mulya namanya, wkwk…tp cocok jd motivator jg dirimu…saya suka gaya lo.

    Celuritnya sy simpan lg ni..

    To understand, should we stand above or stand under? That’s a question, sounds silly

    Disukai oleh 2 orang

Coba deh dikomentarin~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s