Sebelum Mengaitkan Sauh di Labuhan : Celoteh Paska Lebaran

My Pangandaran via mypangandran.com

Simbol Siluman

Setelah kuralang-kuriling di Pasar Pangandaran seperti anak ayam hilang, saya dan teman pun memutuskan untuk melaju ke bagian samping pasar untuk menengok toko aksesori yang cukup besar di sana.

Akhirnya, benda yang saya cari terdapat di toko itu. Senangnya. Saya sudah skeptis duluan ketika Emang–Emang penjaga toko aksesori sebelumnya bilang kalau pedagang pinggir jalan yang biasa mangkal di sepanjang lapangan Merdeka tidak tahu membuka lapak di mana saat ada proyek pembangunan taman di dekat sana. Padahal dari para pedagang itu lah biasa didapat pernak-pernik suvenir khas orang Sunda.

Memang apa sih yang mau saya beli? Wayang golek kah? Keris kah? Gunungan atau satu set gamelan kah? Ha ha… ok, mulai ngawur~

Well, saya cuma mau beli iket saja. Tahu kan? Yang biasa dipakai oleh Pak Dedi Mulyani atau Pak Ridwan Kamil itu lho. Yang juga sering kita lihat dipakai oleh orang Bali.

Iya. Saya mau beli itu. Tapi sayang sekali bukan untuk saya pakai karena saya bukan laki-laki. Saya cuma mau ngasih oleh-oleh untuk teman saya. Dia pernah bilang akan mengusahakan oleh-oleh yang saya minta padanya, yaitu sejumput saja kain songket dari kampung halamannya di Timur sana. So, saya pun merasa harus memberikan sesuatu padanya. Sekalian promosi soal Pangandaran :mrgreen:

He he… meski nominalnya tak sebanding 😛 Tapi kan yang penting niatnya~

***

Saya suka sekali hal yang berbau budaya dan kearifan lokal. Rasanya seperti saya ini bagian dari sesuatu yang adiluhung saja. Maka dari itu ke-Sunda-an saya seringkali tiba-tiba muncul dalam diri saya. Entah itu dalam bentuk kebiasaan bahasa, gaya tutur, pakaian maupun simbol lainnya. Memang wajar lah jika seseorang mencari suatu konsep citra diri melalui budaya lingkungannya.

Dan perihal iket, tentu ini simbol yang cukup representatif. Hanya saja terlalu bersifat maskulin. Sayang sekali. Tapi bukan berarti saya tak boleh beli iket kan? Atau ngasih ‍iket ke teman? Dari ke-kecil kemungkinan-an saya memakai iket, maka saya sebut iket ini sebagai “simbol siluman”. Kendati saya mengapresiasi warisan buhun ini.

Dari Ronggeng Gunung ke Hajat Laut

Kalau ada ada orang yang tanya daerah asal saya, saya suka menjawab dari Pangandaran. Padahal rumah saya bukan di Pangandaran. Bahkan beda kecamatan, bukan kecamatan Pangandaran. Saya tinggal di kecamatan Parigi. Ibu kotanya Pangandaran. Tapi, sesungguhnya lagi, rumah saya tidak tepat di Parigi. Melainkan di daerah yang lebih tinggi lagi. Dari pesisir terdekat (Pantai Bojong Salawé) sekitar 15 km-an. Yaitu daerah bernama Parakanmanggu. Iya, saya tahu di sana memang banyak manggu a.k.a manggis. Tapi sayang, saya tak suka buah masam itu.

Selain manggu, ada satu lagi ke-khas-an urang tonggoh, yaitu kesenian Ronggeng Gunung. Seni tari berkelompok yang terdiri dari penari perempuan (Nyi Ronggeng) dengan 6-10 orang laki-laki berpakaian hitam ber-iket dan memakai sarung. Tariannya membentuk pola heliosentris di mana terdapat api unggun dinyalakan di tengah sementara Nyi Ronggeng menari mengelilinya bersama kelompok penari laki-laki yang berada di ‘kulit luar’nya, seperti struktur atom.

Ronggeng Gunung juga sama seperti seni ibing pada umumnya, memakai sinden untuk mengisi lagu. Ciri lagunya berada di tingginya nada dan ‘warna’ haleuang-nya (haleuang mungkin cengkok). Tapi sayang, sekarang sudah jarang yang nanggap kesenian ini. Satu-satunya keluarga penerus yang bertahan melestarikan Ronggeng Gunung adalah Bi Raspi. Beliau memiliki sanggar tari di Pagergunung, rumahnya. Tapi tidak terlalu ramai karena memang anak muda tak pernah tertarik pada kesenian daerah 😦

***

Naik motor 15 menitan saja dari rumah saya, kalian sudah bisa merasakan aroma laut. SMA saya bahkan sampingnya terdapat deretan tambak dan kebun kelapa air. Wisata pantai memang tak terlalu beragam seperti wisata di luar pantai (curug, bukitan, sungai, desa wisata, bengawan, dll), tapi selalu ada yang menarik soal laut. Yaitu tradisi Hajat Laut.

Waktu kecil saya pernah nonton. Karena ramai, dan tentu saja masih kecil-masih pendek, saya jadi tak melihat kirab dongdang. Bahkan Nenek tak mengizinkan saya untuk lebih dekat ke bibir pantai. Bahaya, ungkapnya. Alhasil saya pun hanya cemberut saja dari kejauhan menyaksikan warga bersorak meriah saat dongdang dihanyutkan ke laut.

Pantai Batukaras | satu-satunya pantai yang bisa buat renang

Ahh~ kalau ingat-ingat Pangandaran, memang akan ada banyak sekali kisah di dalamnya. Kisah saya, saya dan keluarga, juga masyarakat, dan kami semua sebagai bagian dari jalinan sejarah.

Bila Sauh kan Berlabuh

Sebagai anak yang dikenal tak neko-neko oleh Mamah, saya hanya punya cita-cita sederhana saja. Yaitu tinggal di dekat rumah. Kalau tidak dekat-dekat amat, setidaknya di Pangandaran lah.

Motivasinya adalah kurang lebih saya ingin jadi anak saleh yang nyaah ka ibu-rama dan memilih jalan ‘merawat mereka’ secara langsung dari dekat. Saya kan raja anak sulung sekaligus bungsu dalam struktur keluarga. So, saya tak mau jauh-jauh dari mereka karena kalau bukan saya yang menemani, siapa lagi?

Hem, dalam konteks ini saya ingin mengikatkan diri dengan Pangandaran. Itu rencananya 😃.

Suatu saat nanti Pangandaran akan jadi kota bahari yang maybe bergaya urban. Kalau Kulon Progo akan ‘berdiri’ dengan konsep aerocity-nya setelah Bandara NYIA beroperasi maksimal, Pangandaran pun saya kira bakal jadi navalcity dengan keragaman wisata alam dan budayanya kelak.

Sejak pulang saja, sudah ada beberapa spot potensial yang jadi objek wisata baru padahal dulu saya kenal tempat itu seperti leweung atau bubulak saja. Salah satunya, yang paling dekat dengan rumah, yaitu Jembatan Pelangi (Pongpet).

Dulunya hanya jembatan gantung sepanjang 100 meter-an dengan tinggi belasan meter dari permukaan air sungai. Di sana suasananya sangat wingit karena memang termasuk daerah yang jauh dari rumah warga. Sepanjang tepian sungai penuh pohon-pohon besar, sulur-sulur liar pun menggantung di bebatuan tebing. Di bawah sungai terdapat batu-batu lancip. Kalau sedang musim hujan, air sungai akan berwarna coklat keruh dengan suara alirannya yang menyeramkan. Kalau musim kemarau akan berwarna hijau gelap seolah menghisap siapa saja yang memandangnya 😎.

Apalagi dulu di sana pernah ada Aki-Aki yang meninggal karena kecelakaan saat pulang dari kebun. Pongpet itu sebenarnya tempat angker. Ha ha… untuk sampai sana kamu harus melalui jalan panjang yang di sisi kiri-kanannya hanya kebun-kebun gelap dan areal kuburan tua yang sangat besar. Pohon-pohon beringinnya berusia ratusan tahun. Kuburannya dengan model tanpa nisan tembok, masih nisan kayu biasa, tradisional. Dan letak kuburan itu bukan hanya di sisi kiri atau kanan jalan, melainkan di sisi kiri dan kanan jalan. Jadi kamu seolah masuk dunia uka-uka begitu. Hiii… :mrgreen: Kalau saya mah biasa saja lewat sana *songong

Tapi setelah disulap jadi Jembatan Pelangi (jembatan gantung itu memang dicat berwarna-warni seperti pelangi dan dihias sedemikian rupa sehingga menarik), Pongpet jadi kehilangan daya magis. Bagi saya, Pongpet jadi banci, karena ‘didandani’ dengan aksesori kota. Wingitnya hilang. Sumber spot kasunyatan saya pergi…

Cukang Pongpet sebelum jadi Jembatan Pelangi

***

Banyak spot wisata, banyak pedagang, kampung pun makin ramai. Pembangunan demi pembangunan juga tergalakan perlahan dan barangkali baru menunjukkan hasilnya 2-3 tahun kemudian. Di tempat pengerjaan proyek pembangunan pelabuhan barang di Pantai Bojong Salawé saja suka ramai saat sore. Apalagi kalau sudah jadi pelabuhan nanti. Kebayang lah, TPI akan ramai seperti dulu saat Pantai Bojong Salawé masih jadi objek wisata menarik sebelum tsunami. Erosi besar-besaran paska tsunami terutama, sudah melenyapkan lahan pacuan kuda. Sekarang pacuan kuda berada di Pantai Madasari, puluhan kilometer dari rumah saya. Cih~ 😒

Bila Sauh kan Benar-Benar Berlabuh

Sebenarnya bukan objek wisata yang membuat saya akan mengakar di kampung halaman. Bukan juga janji pembangunan yang akan mengubah hal-hal tidak efisien, jadi efisien dan sedikit maju.

Hanya.

Alangkah senang jika hari dewasa (saat ini saya masih ngerasa remaja)  saya kelak ternikmati di tempat saya lahir dulu. Kalau memang kouta hidup saya masih lama, Pangandaran akan jadi tempat saya mengaitkan sauh. Banyak memori terkenang di kepala membuat diri enggan berlama di tanah asing. Selalu ada kerinduan untuk kembali ke kampung. Ke pelukan Mamah, ke ayoman Bapak. Ke keceriaan tetangga-tetangga, ke kesederhanaan hidup orang-orang desanya. Ke semua hal tentang Pangandaran, terkhusus rumah ☺

Dan mumpung masih singlet single, saya berpikir untuk memuskan diri saja dulu di rantauan. Papacok kana remah-remah keberkahan di bumi jauh, kokoréh kana pusaka hikmah pengalaman sampai akhirnya saya bisa meta di kampung sendiri mengeksekusi berbagai macam kenakalan di kepala. Sugan jaga, dengan rencana seperti itu saya berhasil menemukan makna sajatining urip yang biasa ada di folklore lisan ratusan tahun silam.

Iyeay!

Pilihan ini agaknya membuat saya memiliki otoritas untuk memilih Jalur Sutra kami saat saya menjadi navigator sebuah bahtera (bersama Kang Jodoh) kelak khi khi… 😨😛

Iklan

18 thoughts on “Sebelum Mengaitkan Sauh di Labuhan : Celoteh Paska Lebaran

  1. anak baik klo begitu karena nggak mau jauh dari rumah setelah menikah. Kayaknya udah ada benih cinta untuk daerahnya, sedangkan saya beneran gak merasakan apapun tentang daerah tempat tinggal saya. Bahkan bodo amat. Saya terlalu fokus membaca dan menulis beberapa tahun terakhir sampai gak memperhatikan perubahan2 di sekitar daerah saya. Kecuali sekarang udah bisa 4 G.

    Disukai oleh 1 orang

  2. ((DENI MULYANI)) 😆

    baru tahu kalo mbak mulya itu nax pangandaran 😥

    Entah kenapa pikiran saya kalo denger ada yg rumahnya deket pantai itu langsung nyambung ke acara si bolang 😁
    Apa mbak mulya pernah jadi si bolang juga? Wkwk

    Disukai oleh 1 orang

  3. Kesenian ronggeng di daerah mbak Mulya, mungkin tidak sama dengan yang digambarkan di novel “Ronggeng dukuh paruk “nya Ahamd Tohari ya?
    Kalau di novel itu, Ronggeng sangat dihormati dan dielu,te2kan tapi di satu sisi ronggeng sekaligus jadi milik semua laki2, Realitanya mungkin tdk begitu ya mbak?

    Disukai oleh 1 orang

    • Haha kalau yang di novel maybe begitu atau tidak. Kalau ronggeng di saya tidak ada ‘istilah’ buka kelambu (kalo gak salah) karena asal muasalnya berasal dari sejarah penyamaran Dewi Rengganis dari kejaran pasukan Bajo (bajak laut) di kerajaan Panjalu. Nah si Dewi Rengganis nyamar jadi ronggeng biar gak ketangkep. Kalau sekarang ini yang mau jadi ronggeng tinggal belajar saja. Memang ada tirakatnya spt puasa, mandi kembang dll, ya berbau mistis lah… Namanya juga seni buhun 😁

      Disukai oleh 1 orang

      • Iya betul di novel itu diistilahkan “buka kelambu”,
        Syukurlah kalau di daerah mb Mulya ronggeng tdk seperti itu, ya berarti msh dalm tataran moral dan agama, bukan sekedar tradisi/seni

        Disukai oleh 1 orang

Coba deh dikomentarin~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s