Dari Pak Guru ke Pikiran Saya

Ini teman-teman (celeno) saya, saya yang fotoin. Yang di tengah adalah Master kami. Wakalas saat berada di IPA 1 selama 2 tahun. We are ADIDAS alias Anak DIDik A Satu atau Anak DIdik DAdang Suherman. Iyeay!

Alkisah, sekawanan anak bebek kami berkumpul di titik persimpangan untuk bersilaturahmi ke rumah Pak Guru Wakalas SMA.

Singkat cerita, sekawanan anak bebek (ok, saya mulai suka istilah ini) ini duduk lesehan saling melingkar. Pembicaraan kala itu seputar kuliah, kesibukan dan jodoh. Well, jujur saja, tidak ada yang begitu spesial dalam pembicaraan tersebut sampai ada dua ungkapan Pak Guru yang membuat saya tertarik.

Tapi sebelum itu biar saya intro sedikit. Ada sebuah tipikal yang jamak terjadi dalam konten-konten pembicaraan manusia jomblo yang berada di usia quarter-life. Yep. Apa lagi kalau bukan soal jodoh dan menikah. Kami dan Pak Guru pun sedikit banyak menyinggung ini.

Beliau dengan terbuka berbagi pengalamannya dalam melamar si Ibu dulu. Lutju sekali penuturannya. Jadi ingat masa-masa beliau mengajari rumus kesetimbangan kimia di kelas beberapa tahun silam ๐Ÿ˜ƒ

Kemudian, yang paling catchy dari kisahnya, sekaligus quote of the day kala itu adalah, โ€œLaki- Laki yang baik untuk dijadikan suami itu adalah laki-laki yang seriusโ€.

OK. Sampai di sini saya paham kepada siapa Pak Guru berbicara. Dan isyarat apa yang disampaikannya pada kaum Hawa ๐Ÿ˜€

Hemm… memang benar adanya jika laki-laki yang serius lah yang layak untuk dijadikan pasangan. Sebab keseriusan itu ciri bahwa kelak ia akan bertanggung-jawab dengan sepenuh-penuhnya sebagaimana fungsi dan kedudukannya dalam keluarga.

Keseriusan juga bagus dijadikan tolak ukur daya tahan seorang calon suami, i guess. Sebab keseriusan itu modal utama dalam mengusahakan sesuatu. Lantas tujuannya apa? Tujuannya kan kamu. Iya, kamu ๐Ÿ˜Œ Yang semacam badai apapun kan Abang hadapi. Terutama badai ekonomi. Badai yang tak jarang meluluhlantahkan bangunan rumah tangga. Yang juga saya temui di meja gugatan kalangan pasutri nikah muda. Berdasarkan rumus serius-tidak serius, rupanya gugatan berakar pada keseriusan tentang pernikahan. Hem, no judge feeling sih.

Lalu pesan Pak Guru kepada kaum Hawa perihal serius ini sederhana saja. Terimalah laki-laki yang serius mengajak nikah. Serius bisa ditandai dengan kedatangannya melamar bersama keluarga, atau barangkali secara fisiognomi juga kelihatan dalam ketegasan nada bicara, mimik wajah rileks atau senyumnya yang menyegarkan. Entahlah, perempuan itu kan makhluk sensitif. Barangkali saatnya kamu gunakan firasat terbaikmu di sesi ini khi khi…

Quote of the day Pak Guru kedua yang menarik adalah, โ€œPerempuan itu menikahi laki-laki bukan karena diri laki-laki itu, tapi karena masa depannya (nya = kembali ke perempuan)โ€. Saya tidak tahu apakah ungkapan ini mendapat pembacaan yang berbeda dari teman saya. Yang jelas, sebagai seorang narsis (saya memang merasa narsis gara-gara baca buku-buku tazkiyah hehe), saya mengamini pernyataan tersebut. Karena saya kira manusia itu memang senang berada dalam posisi hidup terjamin. Baik laki-laki maupun perempuan.

Dan dalam hal munakahat, perempuan kan berada dalam tanggungan laki-laki. Adalah kewajiban laki-laki yang menafkahi perempuan. Jadi orientasi, โ€˜hidup terjaminโ€™ ini tidak lah salah. Perempuan mengharapkan hidupnya terjamin dari kejelasan laki-laki dalam memberikan jaminan hidup atau keseriusan laki-laki dalam upaya penjaminan tersebut. (Saya jadi ingat skripsi Kafalah teman saya ๐Ÿ˜› )

Perempuan adalah perhiasan. Dan saya kira selayaknya perhiasan, ia ingin selalu disayang-sayang, dijaga, dan dirawat agar keindahannya semakin memancar.

No judge juga. Saya bicara soal kecenderungan manusia pun. Ada banyak jenis perempuan yang rela berkorban, siap banting, siap berjuang, dan siap mati barangkali dalam menempuh jalan rumah tangga yang terjal nan berliku. Tenang saja laki-laki. Asal kamu serius, perempuan akan lebih serius lagi. Dan satu lagi. Ini saya dapat dari pembacaan saya terhadap kaum perempuan dari berbagai sumber dan perasaan saya sebagai raja anak semata wayang di rumah. Bahwa perempuan itu senang dikasih puk-puk. Jadi, puk-puk lah kalau memang isrimu kelak melakukan hal yang membuatmu tertawa. Puk-puk adalah salah satu cara membesarkan hati perempuan dan membuatnya tetap berada dalam naunganmu, laki-laki. Puk-puk itu more than words. Dan perempuan biasanya suka yang more than words, bukan? Ahh~ kenapa malah ngomongin puk-puk? ๐Ÿ˜’

Akhir.

Well, dari dua pernyataan menarik Pak Guru tadi bisa diambil kesimpulan bahwa menikah merupakan perkara yang benar-benar penting sehingga harus dipikirkan sejak kita masih kuliah. Yang laki-laki hendaknya serius. Tidak usah berpikir menunggu waktu yang tepat di tahun sekian atau terlalu berambisi dengan pencapaiannya. Seperti hendak memetik bunga paling indah dan paling cantik di taman raya, laki-laki memang senang dengan standar tinggi dan pengandaian-pengandaian bahwa barangkali di taman sebelah sana ada bunga yang ia cari. Cara pandang begini sungguh merugikan karena sesungguhnya perempuan itu hanya menunggu keseriusan laki-laki sadja. Pangkat, kedudukan atau jaminan kesejahteraan hidup nanti bisa nyusul. Perempuan juga mau berjuang kok. Jangan salah, kalau laki-laki itu pantas dijadikan jenderalnya, perempuan bisa menjadi pedang yang sangat tajam.

Ada hadis shahih menarik yang dinukil Pak Guru kala itu. Bahwasanya Islam tidak akan bertahan lebih dari 1500 tahun setelah Rasulullah saw. hijrah. Sekarang sudah tahun 1438 Hijriah. Artinya, Islam hanya akan โ€˜bertahanโ€™ tak lebih dari 62 tahun lagi. So, hadis ini merupakan kompor ala Pak Guru yang cukup bikin kami gonjang-ganjing soal kemestian cepat-cepat menikah supaya keturunan kami kelak masih bisa merasakan nikmatnya terlahir sebagai muslim di lingkungan yang relatif aman, damai, dan tentu saja, islami.

Selain itu, Pak Guru mengingatkan pula tentang usia produktif manusia. Jika menginginkan banyak anak, tentu kita harus berpikir pada tahun apa anak pertama akan lahir dan di tahun ke berapa pula si ragil akan lahir. Kalau saja kamu baru menikah di usia di atas 25 tahun, dan memiliki anak baru di usia 30 tahun, coba bayangkan, mau di usia berapa kita punya anak lagi? Orang tua akan selalu menginginkan melihat anaknya menikah dan bercucu. Kalau anak pertama saja menikahnya saat usia orang tua lebih dari 40 tahun, bagaimana dengan anak kedua, ketiga, dan seterusnya? Kasihan anak-anak ini. Mereka kemungkinan tidak mengalami cucu-cucunya kelak ditimang oleh kamu selaku Nenek/ Kakek.

Nasihat cukup nyentrik ini memang ditujukan untuk para kami kaum rantauan. Karena memang teman-teman angkatan kami yang tidak pergi ke luar desa sudah pada sukses meninang bayi. Mereka jadi terlihat lebih dewasa, bersahadja, dan mendadak kelihatan keren. Ha ha… Bukankah begitu?

Mari para jomblo laki-laki sekalian bulatkan tekad untuk menyeriusi keinginanmu mendapatkan si anu yang kamu sebut namanya dalam qiyamul lail. Perempuan itu tidak ribet. Orang tua perempuan juga bisa diajak diskusi soal โ€˜jaminan hidup anak perempuan kesayangannya kelak saat kamu nikahiโ€™. Yang penting kamu serius. Serius ingin membangun rumah tangga. Dan serius ingin menyempurnakan setengah agama.

Adakalanya keikhlasan ucapanmu bisa menjadi senjata yang tepat sasaran ketimbang kisah segudang pencapaian karirmu. Makanya, jadilah serius โ˜บ

Iyeay! Artikel ini bukan kode. Tentu saja saya masih mencintai diri saya sendiri ha ha. Bercanda ๐Ÿ˜Ž

Iklan

13 thoughts on “Dari Pak Guru ke Pikiran Saya

Coba deh dikomentarin~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s