ARC Ramadhan Terakhir

orenji | Selamat Lebaran!

Mau dibilang terakhir, rasanya cukup wagu karena saya tak selama sebulan penuh konsisten posting dalam tantangan menulisi Ramadhan ini. Kalau sudah di rumah itu memang bawaannya gogoleran saja. Apalagi beberapa hari sebelum Lebaran ada urusan genk (bukan genk preman tapi) yang cukup menyita perhatian :mrgreen:

Hei (ノ^_^)ノ

Hari ini adalah Lebaran gaes. Apa yang sesungguhnya kamu rasakan? Hem… pasti ada beragam rasa yang tak terlukiskan kata begitu saja bukan? Setelah satu bulan dalam pendakian mencari kesejatian, tirai Syawal yang telah terbuka kini barang tentu jadi euforia bagi jiwa-jiwa yang memenangkan pertarungan nafsu dan menemukan fitrahnya sebagai manusia.

Oh, sayang sekali saya bukan salah satu diantara pemenang itu. Barangkali dalam posting-an pamungkas arc ini saya mau pura-pura menang saja. Pura-pura meraih fitrah dan pura-pura kembali pada kesucian. Ya, daripada terlihat brengsek saat hari raya…

Diantara sekian akun media sosial dan beberapa update chat dalam grup WA, banyak sekali yang merasa sedih dengan kepergian Ramadhan. Air mata tertumpah akibat takut jika Ramadhan tahun depan datang lagi sementara diri keburu mati. Atau kalau pun belum ditakdirkan tutup usia, diri masih belum berhijrah sehingga tampak sama dengan diri pra Ramadhan tahun lalu.

Ada juga bentuk anekdot mainstream yang diperuntukan bagi golongan tertentu. Yaitu golongan jomblo dengan unggahan grafis-grafis nyentriknya yang menyebutkan : milih Tunjangan Hari Raya atau Ta’aruf Hari Raya? Oh… betapa maya-setra riuh dengan ekspresi menyambut Lebaran. Beragam shoot pic mudik dan serba-serbi khas Lebaran lainnya seolah jadi kuncup-kuncup yang puncaknya mekar saat takbir Raya menjelang.

Dulu saya posting pakai kacamata sinis saat awal Ramadhan. Bahwa banyak orang sibuk mempersiapkan diri menyambut datangnya bulan turunnya al-Qur’an ke langit bumi. Padahal rasa gembira-ria menyambut Ramadhan itu barangkali timbul akibat ‘kerinduan’ tahunan saja. Iming-iming nuansa makan enak atau show off kajian semata. Setelah 10 hari berlalu, al-Qur’an mulai diganti dengan tambahan jam tidur siang dan persiapan takjil. Baru menjelang akhir Ramadhan, al-Qur’an kembali hadir sebagai closing event yang itu pun sekali buka lima menit tutup. Dilanjut dengan zakat mall ketimbang zakat maal.

Lalu sekarang, saya pun masih pakai kacamata sinis dengan Hari Raya. Apa pasal saya kok senang sekali bersinis-sinis? Mungkin karena terlalu sering pura-pura barangkali saya mengungkapkan ‘kebosanan diri’ dengan sinisme. Oh, jangan ditiru teman. Jauhkan dari pikiran Anda sifat sinis ini.

Tak saya temukan dalam hati akan kemenangan yang sebenar-benarnya menang dalam artian tersadarnya diri akan fitrah kemanusiaan dan menemukan kembali sumber kesalihan dan kewelas-asihan yang menjadi perisai segala macam goda kesombongan dan keserakahan hidup. Padahal saya cukup dalam mengulik diri pada Ramadhan kali ini. Mungkin beberapa ada semacam perubahan kecil dalam ibadah rutin yang saya jalani, atau sedikit peningkatan kualitas keimanan atau kegiatan berdaya yang Insyaalloh akan rutin saya dan kawan saya jalani nanti, atau barangkali secuil saja kecintaan terhadap al-Qur’an yang bertambah.

Alahmdulillah. Segala puji dan syukur pada Tuhan Pemilik segala yang mungkin dan tidak mungkin. Saya agaknya menemukan pertobatan yang hampir membuat diri mengais-ngais setitik berkah. Yah, meski belum bisa dikategorikan menang juga. Pasalnya hawa nafsu saya masih meletup-letup. Barangkali mesti diagendakan ngaji tazkiyatun nafs saja di Ramadhan tahun depan jika masih berkesempatan merasainya 😀 #hestek butuh guru rohani #hestek beberapa buku tazkiyah saya masih kurang mempan ‘menyucikan jiwa’ saya – memang saya butuh guru

Sama seperti yang pernah terjadi. Ramadhan dan Hari Raya saya belum sepenuhnya dapat membangkitkan kegembiraan saya yang sebenar-benar kegembiraan hakiki layaknya seorang hamba salih yang senantiasa menjaga diri dari segala macam kebathilan menyambut kabar gembira dari Tuhannya.

Tapi, ketimbang sedih sendiri di pojokan akibat belum menemukan makna kemenangan yang sejati (sejati dalam konteks yang dapat diindikatori oleh indikator manusia, karena sejati itu sendiri baru akan terkuak hijabnya di alam akhirat nanti), baiknya saya pura-pura saja (?). Siapa tahu saking seringanya pura-pura meraih kemenangan atau pura-pura kembali pada fitrah, (sembari diusahakan) akhirnya saya benar-benar menemukan kemenangan saya sendiri kelak 😀

Ha ha… Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1438 H! Saya memang kurang pandai merangkai ucapan selamat. Jadi hanya segitu saja. Semoga hari-hari yang pernah kita lalui dalam rencana ketaatan beroleh ikhlas pada hitungan amal dan kita semua senantiasa berada dalam kesabaran dalam kebaikan-kebaikan serta sehat wal’afiyat. Aaamiin ya Robbal al Amin 😀

Mohon maaf lahir-batin baik yang online maupun yang offline~

 

Iklan

10 thoughts on “ARC Ramadhan Terakhir

  1. Saya kira hanya saya yang merasa seperti itu. Ketika orang lain merasa menang dan dengan euforianya saling bergemuruh, saya justru bertanya ‘menangkah saya?’ Ah sudahlah, semoga kita semua masih bertemu dengan ramadhan tahun depan. Btw, selamat lebaran!

    Disukai oleh 1 orang

Coba deh dikomentarin~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s