Ramadhan 23 : Hijab dan Realita

Tidak terasa sudah ramadhan yang ke-23. Dan tidak terasa pula postingan arc ini jadi bolong-bolong :mrgreen: . Saya bukannya tidak mau posting, tapi yaa begitu lah. Mari bernyanyi Si Kancil Anak Nakal sama-sama…

Kemarin saya dan pasukan habis ngomporin para remaja pakai hijab syar’i di balai desa. Jadi, tulisan ini akan menyinggung soal hijab syar’i saja. Mumpung masih hangat. Menurut pengertian yang paling umum, hijab syari’i adalah hijab (penutup) yang menutupi seluruh bagian yang wajib ditutupi menurut syari’at.

Hem hem. Saya tahu artikel yang bahas tentang kemuslimahan sangat berlimpah di rimba maya ini. Terutama yang menulis tentang hijab syar’i atau pengalaman hijrah para ukhti. Tapi mungkin saya akan pakai metode skeptis saja untuk menyampaikan pendapat. Saya memang sempat ngobrol dengan seseorang yang punya sudut pandang menarik ala emak-emak soal hijab syar’i dan hijrah ini.

Begini-begini :

Siapa bilang berhijab itu gampang? Tinggal berniat, mulai dan terus sambil memperbaiki diri.

Tidak tidak. Tidak begitu. Saya punya satu hal yang tidak pernah dibahas dari proses berhijab syar’i di video motivasi atau tutorial mana pun.

Hijab syar’i itu kan berbentuk hijab yang menjulur hingga menutupi dada dan tidak transparan. Mari lock. FYI, hijab dengan kategori seperti itu harganya lebih mahhal dari pada paketan data internetmu lho. Coba cek toko sebelah saja kamu beli kain bahan hijab sendiri dan menjahit sendiri lalu bandingkan dengan harga beli hijab yang dijual di toko. Perbedaannya cukup besar. Bagi muslimah penganut teori ‘efisiensi ekonomi’, hijab ‘bikinan’ sendiri tentu bisa jadi pilihan. Ha? Order dari Instagram? Duh, rasanya gimana gitu ukh… (Ukh?)

Muslimah juga tahu ini, kan? Gamis yang ‘benar’ itu harganya mahhal. Busana atasan beserta roknya yang ‘benar’ itu tak cukup didapat dengan satu lembar rupiah bergambar Pak Soekarno-Hatta. Apalagi kalau yang bahannya nyaman ketika digunakan. Semua itu tentu ada modalnya. Bukan cuma modal dengkul. (Jangan bahas brand. Kalau itu sudah bicara ekonomi kalangan menengah ke atas).

Lagipula kita pasti butuh pakaian yang banyak bukan? Masak mau pakai pakaian yang itu-itu saja. Pasti harus punya lebih dari satu hijab, lebih dari satu pakaian menutup aurat, dan lebih dari satu aksesori lainnya.

Bisa saja kita baper dan terkagum-kagum dengan kecantikan ukhti-ukhti di film pendek atau tutorial-tutorial kemuslimahan, tapi mereka kan ada sponsornya. Kalau kita? Modal sendiri, dong. Satu set pakaian syari’i itu lebih dari dua ratus ribu rupiah. Suka desain yang unik, batik dan locality addict? Satu set pakaiannya ada yang sampai seharga satu set kitabnya Wahbah Zuhaily lho. Kamu kebetulan pengoleksi jam tangan? Suka dengan tas-tas terbaru? Atau dompet yang imut-imut? Maka tambah lah pengeluaranmu. Kita tentu tahu adagium berikut : ada rupa ada harga.

Jadi, intinya : berhijab syar’i itu pasti butuh modal rupiah. Selalu ada tambahan pengeluaran untuk ‘tambahan kain yang menjulur sampai dada’, ada tambahan dana untuk tambahan ‘ketebalan kain’, dan ada tambahan rupiah untuk tamabahan ‘kenyamanan ketika digunakan’. Kalkulasi ini penting mengingat muslimah adalah menteri keuangan untuk calon keluarganya kelak.

😁

Bagaimana? Jadi berpikir dua kali untuk ‘totalitas setotal-totalnya ukhti-ukhti cantik yang ada di Instagram’ (wat?) kan? Kalau saya mah punya penyakit kalap buku. Saat kalap menyerang, jangankan dana untuk pakaian, dana untuk makan (bahan bakar utama penyambung hidup) saja masih dikorupsi. Ha ha… my problem. And I’m sure u have yours too.

Orang yang berhijab syar’i itu kelihatan lebih cantik, katanya. Hijab syar’i itu tidak norak dan fesyenebel. Buktinya sekarang sudah jadi komoditas tersendiri kan? Hijab syar’i adalah ukuran kecantikan muslimah. Tentu kecantikan di sini memiliki reduksi di mana-mana karena standar kecantikan tidak pernah absolut. Tapi setidaknya, cara mengompori muslimah yang belum berhijab syar’i itu, ketimbang pakai ‘ini lo ada dalilnya’, saya rasa lebih menyenangkan dengan ‘kamu makin cantik dan bersahaja pakai ini’. Begitu.

Jadi motivasinya cantik dulu. No problem i guess. Watak perempuan lah ingin dikatai cantik. Kamu laki-laki ingin dikatai (mas) ganteng juga kan? Yosh! Impas.

Tapi di mana-mana menjadi cantik itu butuh modal. Seperti menjadi cantik ala kimiawi (bedak, gincu, lulur dll), menjadi cantik ala hijab syar’i juga tak kalah mahhalnya. Jangan pandang setengah-setengah soal hijrah. Berubah itu mudah kalau ada sarana pendukungnya. Seperti remaja di tempat saya yang tidak suka membaca karena memang di sini tidak ada perpustakaan dan toko buku. Berhijab syar’i pun akan susah kalau hijab dan atribut lainnya tidak mendukung finansial.

Jadi-jadi : 

Saya cuma mau bilang kalau berhijrah atau apapun yang sifatnya mencapai sesuatu itu mestilah dibutuhkan pengorbanan. Pengobanan hadir dalam bentuk usaha, kekuasaan, ikatan, atau uang. Memakai hijab syar’i juga harus siap dengan segala ‘ini-itunya’. Kita bisa menggampangkan sesuatu yang kita bisa lakukan, tapi memang pada dasarnya kita menilai dengan standar kita. Dalam kasus mengajak orang untuk berhijab syar’i, memang butuh pendekatan yang ‘bersudut pandang dia’, i guess, baru kita dapat kesimpulan yang adil.

Saya memang senang sekali menggali alasan-alasan yang tidak ada pada diri saya. Dengan begitu, saya bisa belajar bagaimana caranya menjadi menyenangkan tanpa bersikap munafik atau naif. Terkhusus dalam meyampaikan sesuatu. Seperti menyampaikan syiar berhijab syar’i itu. Adakalanya memberikan pilihan terasa lebih baik ketimbang menyampaikan persuasi tertutup. Sudah fitrah manusia juga manusia itu memilih jalan…

Iklan

4 thoughts on “Ramadhan 23 : Hijab dan Realita

Coba deh dikomentarin~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s