Ramadhan 16 : Merasa Bosan Padahal Belum Takwa

Sikap Rasulullah terhadap cobaan yang diujikan Allah kepadanya jika dibandingkan dengan sikap kita itu bedanya sedikit. Jika Rasulullah sedikit marah, kita sedikit-sedikit marah. Jika Rasulullah sedikit makan, kita sedikit-sedikit makan. Rasulullah dan kita bedanya cuma sedikit…

Ketika saya SD, setiap kali mengaji kami selalu membaca Surat al Ikhlas. Lalu salah satu teman ada yang nyeletuk, โ€œBosen ah! Baca ini melulu! Yang lain, yang lain!โ€ Guru kami pun menegurnya. Al-Qurโ€™an itu bukan masalah bosan atau tidak bosan. Membaca al-Qurโ€™an itu berpahala. Setiap hurufnya dihitung oleh Allah.

Nah, perihal bosan, sama kasus dengan yang saya rasakan mengenai dalil dasar perintah saum Ramadhan di al-Qurโ€™an. Saya bosan dengan al-Baqarah ayat 183. Padahal kami tidak pacaran, tapi saya bosan padanya. Karena selalu begitu. Berakhir dengan agar kamu bertakwa. Apanya yang bertakwa? Tujuan macam apa ini? Saya pun kosong…

Soal bosan ini memang saya tidak bohong. Meski saya ini pemalu, tidak suka kata-kata kasar dan rajin membersihkan rumah (ok enough!), adakalanya saya jadi anak kurang ajar. Tapi tentu saja saya tak berniat durhaka. Ekspresi kegelisahan saya memang hadir dalam bentuk kenakalan-kenakalan. He he.

Saat saya bosan dengan al-Baqarah ayat 183, saya berjumpa dengan al-Imran ayat 134. Ayat itu terlihat sangat ganteng, saya jadi malu sendiri. Di ayat itu disebutkan indikator-indikator untuk mengukur kadar takwa. Terutama jika dikaitkan dengan agar kamu bertakwa di al-Baqarah ayat 183.

Saum ramadhan memang dilakukan agar kita bertakwa. Tapi dari mana kita tahu kita sudah bertakwa atau belum? Atau sekurang-kuranya dapat mengukur before-after kita dalam memaknai saum ramadhan?

Al-Imran ayat 134 menyebutkan bahwa orang yang bertakwa itu yang : (1) berinfak baik dalam keadaan lapang maupun sempit, (2) menahan amarahnya, (3) memaafkan kesalahan orang lain, dan (4) selalu berbuat kebaikan.

Melihat indikator ini saya jadi kosong. Bahkan lebih kosong ketika saya bosan dengan al-Baqarah ayat 183. Pasalnya tak satu pun indikator itu yang sudah jadi kebiasaan saya. Ini menyedihkan sekali. Saya bilang saya bosan, padahal bertakwa saja masih jauh.

Perihal infak, susah sekali melakukannya. Infak itu sudah kadung didefiniskan sebagai aktivitas insidental ketimbang kebiasaan selayaknya menabung. Jadi logikanya โ€˜nunggu ada duit dulu baru berinfakโ€™. Padahal kebaikan itu tak semestinya ditunda-tunda. Harus langsung do action. Tapi memang kurang masuk akal jika harus โ€˜menderitaโ€™ demi berbuat baik (berinfak). Tapi-tapi jika kalian seorang pecinta, tentu rasa sakit itu akan terasa nikmat karena memang sudah jalannya rasa sakit mengantarkan pada kasih sayang yang Dicintai. Dicintai Allah. (Ini seperti menarik perhatian orang yang kita sukai. Untuk mendapat simpatinya, kita perlu melakukan segala sesuatu sesuai standarnya.) Ahh… saya belum sampai maqam ini.

Perihal menahan amarah, saya cukup expert dalam hal ini. Saya pecinta literatur-literatur tasawuf al Gazali dan sufi lainnya. Saya bisa menahan marah dan menghindari diri dari menghina orang yang membuat saya sebal. Tapi masalah tidak berhenti di sana. Saya bisa tidak terlihat marah, tapi saya ngedumel bahkan mengutuk dalam hati. Seorang kawan yang ceritanya saat itu sedang kurang baik hubungan dengan saya merasa ngeri saat tidak sengaja menatap mata saya. Padahal saya diam saja, tidak marah tidak apa. Tapi dia bilang saya seperti jendral perang yang sangat galak dan mengerikan. Dia bilang begitu di surat permintaan maafnya. So sweet sekali. Hubungan kami sekarang tentu sudah baikan ๐Ÿ˜€

Cara saya marah dan meluapkannya dalam bentuk dumelan dan teror ekspresi memang complicated. Saya masih perlu belajar maklum.

Perihal memaafkan kesalahan orang lain, saya juga belum bisa sepenuhnya yakin kalau saya orang yang pemaaf. Saya takut masih suka ngedumel dan mengutuki yang macam-macam. Hati saya liar sekali. Padahal apa susahnya sih bermunajat soal si dia yang sudah pernah menyakiti dengan doโ€™a semacam โ€˜Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, dan begitu pula dosa-dosaku. Pertemukanlah kami sebagai seorang kawan di surga-Mu kelakโ€™. Atau setidaknya jangan sampai memutus silaturahmi. Meski awalnya paura-pura, sapalah. Nanti lama-lama juga baikan lagi. Apalagi kalau dia dulunya teman akrab. Salah satu ujian dari persahabatan adalah perselisihan. Jadi bangga sedikit lah pernah merasakan sakit hati gara-gara kawan. Itu tandanya kamu punya kawan baik. Tinggal manage hati supaya bisa memaafkan saja. Keep struggle

Dan perihal berbuat kebaikan, ini zonk sekali. Saya kosong soal ini. Saya tidak tahu apa saya pernah berbuat baik. Tahu kan? Perbuatan baik itu setamsil dengan ikhlas. Baru bisa dinilai ketika sudah di akhir. Apakah termasuk ikhlas atau tidak ikhlas. Seringkali saya berbuat baik hanya untuk memuaskan diri sendiri. Mentang-mentang tahu ini perbuatan baik, ya saya lakukan saja. Mission complete. Atau berbuat baik karena ingin dipuji. Atau berbuat baik karena merasa malu kalau tidak berbuat baik orang akan menggunjing. Atau berbuat baik demi pencitraan saja.

Entahlah… perbuatan baik yang saya lakukan cukup complicated. Bahkan saat blog ini bicara yang baik-baik, mencoba membagi pengetahuan tentang kebaikan-kebaikan atau mengingatkan soal kesenantiasaan berbuat baik, saya tidak tahu ini termasuk berbuat baik atau bukan. Selama saya masih punya hasrat, bisa jadi saya sombong, saya sok tahu, sok menasehati dan menggurui belaka. Complicated lah.

Akhirnya, dilihat dari empat indikator takwa tadi, ketakwaan saya masih dipertanyakan. Padahal sudah melewati 22 kali Ramadhan dan merasa bosan dengan al-Baqarah ayat 183. Tapi oh bullshitt sekali saya. Saya masih jauh dari takwa.

Kalau kalian bagaimana? Ramadhan tentu memberi arti yang mendalam di setiap kalian~

Jii~ :mrgreen:

Iklan

14 thoughts on “Ramadhan 16 : Merasa Bosan Padahal Belum Takwa

Coba deh dikomentarin~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s