Ramadhan 15 : BAIK 0.2

Sebagian ulama berpandangan bahwa ucapan yang paling baik itu bisa terjadi pada gaya bahasa dan maknanya. Gaya bahasa yang diutarakan dengan penuh kelembutan dan kesantunan, tidak keras atau kasar. Sementara baik pada maknanya adalah apabila kata-kata itu menghadirkan kebaikan, karena pada hakikatnya semua ucapan yang baik itu membawa manfaat dan semua ucapan yang bermanfaat membawa kebaikan.

Seringkali kita berperilaku atau bertutur kata sesuai dengan perilaku atau tutur kata orang lain pada kita. Adakalanya menghormati dan bersantun pada orang yang juga menghormati dan bersantun pada kita. Adakalanya meremehkan dan berketus pada orang yang juga meremehkan dan berketus pada kita.

Manusia memang cermin bagi yang lain. Di saat kita tersenyum pada orang lain, orang itu pun akan merefleksikannya pada kita. Begitu pun saat kita berkecut muka pada orang lain, orang itu akan melakukan hal yang sama.

Tapi apa gunanya ‘menjadi baik’ jika sikap dan tutur kata kita bekerja dengan prinsip kausalitas. ‘Kaidah’ mengucapkan perkataan yang baik pada manusia sebagaimana yang disebutkan dalam al-Qur’an (QS Al Israa : 53, QS Al Ankabut : 46, QS Al Baqarah : 83) hadir untuk mengatur hubungan antar sesama manusia, terutama manusia yang saling merefleksikan sikap dan tutur kata yang buruk.

Karena sikap dan tutur kata buruk biasanya membawa kepada perselisihan dan perselisihan ini merupakan senjata setan untuk memecah belah persaudaraan manusia. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.

Bersikap dan bertutur kata baik pada orang yang tidak berbuat demikian pada kita memang sulit. Setidaknya kita masih akan merasa sakit hati jika ‘kebaikan hati’ kita dibalas dengan sikap atau tutur kata yang kurang baik. Memang benar lah jika perbuatan kita masih terpaut pada ‘mengharapkan’ balasan dari manusia. Tak dapat disangkal karena asalnya manusia senang dengan yang baik-baik, yang menyenangkan-menyenangkan dan yang indah-indah yang datang padanya.

Tapi kita juga perlu ketegasan sebagai makhluk Tuhan. Sebagai hamba, tentu ‘mengharap’ pada manusia bukan pilihan utama dalam menjalani kehidupan. Tentu saja kita mengharap kepada Tuhan. Mengharap kebaikan dari Tuhan. Mengharap akan ridha-Nya. Dengan senantiasa bersikap dan bertutur kata baik sebagaimana yang difirmankan Tuhan dalam Kitab-Nya.

Maka dari itu, sikap kurang menyenangkan yang nampak di mata dan tutur kata tak mengenakkan yang sampai di gendang telinga, hendaknya disikapi dengan bijak. Alangkah mulianya jika kita merespon perbuatan itu dengan sikap lembut, kata-kata yang baik, lagi santun. Meski nampak sebagai ekspresi kenaifan, namun sesungguhnya perbuatan ini jauh lebih bermanfaat karena dapat menjaga kemuliaa diri dan menghindari dari membuang-buang waktu. Terlebih tidak mengikuti jalan setan untuk sampai pada perselisihan.

OK. Barangkali bersikap dan bertutur kata baik atas nama ridha-Nya itu terdengar berat dan high maqam begitu. Kita juga tak selamanya bisa menjaga iman berada di koordinat Y positif. Adakalanya hati terasa sesak ingin mengekspresikan rasa kesal, ketus, cuek dan bersifat ‘membalas’ perbuatan orang tersebut.

Ya, tak apa. Setan memang bagian dari aliran darah kita. Maklum manusia punya nafsu, punya hasrat ingin dihargai. Tapi juga bukan dalih yang baik untuk membiarkan sifat-sifat setan terus mengambil alih kemudi sikap dan tutur kata.

Bagaimana supaya membiasakan diri berbaik-baik ria? Mungkin Ramadhan salah satu caranya. Di bulan ini Allah menjanjikan pahala yang berlipat ganda. Motivasi imani memang. Tapi bulan Ramadhan ini memang momentumnya iman. Siapa tahu pembentukan kebiasaan baik selama 30 hari akan berlanjut menjadi kebiasaan yang akan dilakukan di luar bulan Ramadhan.

Kedua, cara yang cukup ekstrim adalah dengan prinsip ‘pukul rata’. Prinsip tersebut adalah selalu lah me- daripada di-, selalu lah jadi subjek ketimbang objek, let say : selalu lah mencintai daripada dicintai. Hal ini sudah menjadi pengurang poin kekecewaan (karena berharap pada manusia).

Hemm… contohnya pada gaya mencintai si Majnun. Saya suka. Dia menunjukkan pengorbanan yang sesungguhnya dalam mengejar perhatian Layla. Pada koridor ini kita pun bisa memakai gaya si Majnun dalam ‘mencintai’ orang lain. Tapi tak perlu bersusah sepayah Majnun. Cukup kita mencintai orang lain dengan alasan : aku hanya ingin melihatmu tersenyum~

Pertama, mari praktikan pada orang tua.

Sebuah sindiran kuat yang pernah saya baca dalam sebuah buku yang saya lupa lagi judulnya bahwa kita cenderung berbuat baik di tempat umum. Kita mudah berbuat baik seperti mempersilakan penumpang baya untuk duduk di kursi kita, atau membantu orang yang motornya mogok dan lain-lain yang sifatnya insidental. Tapi kadang kita terlupa kalau rumah adalah ladang kebaikan yang utama. Sebagai anak, kadang kita mengeraskan suara pada Mamah, atau membentak Bapak yang lamban mengerti.

Dibandingkan dengan perbuatan baik di tempat umum, sungguh miris jika perbuatan di rumah justru bertolak belakang.

Duhai sikap dan tutur kata baik. Memang sulit sekali membiasakannya. Jangankan menjalankan prinsip ‘selalu mencintai orang lain daripada dicintai’ sebagaimana yang saya bilang tadi, adakalanya kita bisa bersikap dan bertutur kata kurang menyenangkan pada orang tua sendiri. Orang yang notabene paling kita cintai nomor satu di dunia.

So, bersikap dan bertutur kata baik memang usaha yang melelahkan. Makanya sifat ini disebut sebagai sifat hamba yang mulia. Nilai mulia ini ternyata sangat mahal….

 

Iklan

3 thoughts on “Ramadhan 15 : BAIK 0.2

  1. Ini yang membuat saya sering berpikir sebelum mengucapkan sesuatu. Apa kata2 yang akan saya ucapkan akan diterima secara baik jika berkata begini? Masalah timbul kalau maksud dan tutur kata yang kita sangka baik ditafsirkan berlawanan.. Susah mau meluruskannya

    Entah mengapa saya ikut tersindir sama pernyataan itu, yang menyatakan terkadang kita melakukan perbuatan baik pada orang tidak dikenal ketimbang dengan yang sudah kita kenal. Terima kasih kak, pengingat yang baik

    Disukai oleh 1 orang

Coba deh dikomentarin~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s