Ramadhan 10 : Celoteh Melulu Lagi

sandal jepit | sandal dengan pautan untuk jempol kaki dan jari kaki lainnya;

Konon, sumber penderitaan manusia adalah keinginan. Karena dengan keinginan, manusia akan berharap. Celakanya, kebanyakan orang berharap pada orang lain atau keadaan tersebab. Makanya seringkali kecewa kalau ternyata apa yang ia perhitungkan tak tepat persis perkiraannya.

Seperti halnya hubungan antar manusia. Jika yang satu mengira demikian dan demikian, maka yang lain mengira tidak yang demikian melainkan yang demikiun, terjadi lah ketegangan yang akhirnya tak jarang menimbulkan konflik.

Ketika dorongan kebajikan membuat manusia toleran terhadap perbedaan-perbedaan diluar dirinya, kemajemukan bakal dipercaya sebagai takdir kehidupan agar dunia tidak berjalan begitu-begitu saja. Indah ketika berbeda, seperti pesona pelangi yang punya 7 warna. Tapi ketika dorongan kedurjanaan membuat manusia keras kepala terhadap keberpihakan dirinya atas satu sisi sebuah pertentangan, maka yang beragam akan dicap sebagai ancaman. Yang berbeda akan ditahbiskan sebagai musuh.

Menghargai, sebagai wujud toleransi, susahnya seperti berjalan di atas air. Acapkali lah perbedaan membikin kita mengumpat-ngumpat seperti orang kesurupan. Begitu mudah hati dan pikiran mengutuk-nista, menjelek-hina dan mengotor-najiskan keburukan yang nampak. Kekesalan demi kekesalan terpupuk hingga kebencian mencuat menjadi benih permusuhan.

Pada puncaknya, saat mangkok sinisme tak muat lagi menampung setumpuk kegelisahannya, maka ia beralih memusuhi dunia dan dari sana ia harus  sudah siap mati. Karena dunia ini memang tempatnya orang-orang bermusuhan. (Yakelles, di alam barzah musuhan sama siappah?).

Maka dari itu, menghargai menjadi sangat dianjurkan. Hanya, pada dosis berapa kapsul menghargai bisa diminum untuk meredakan nyeri permusuhan? Pada norma yang mana menghargai bisa dijadikan tolak ukur peredam fenomena saling tuduh dan tuding?

Bingung. Bingung. Manusia termakan oleh konsep-konsep yang dipikirkannya sendiri. Terbelit-belit niat ‘win-win solution’ nya sendiri. Dikusut-kisutkan oleh benang keadilan tenunannya sendiri.

Hingga sampai pada titik terpayah jiwa-raga, barangkali kamu akan update status di Facebook berteriak : “ALLAAAAHH!! 😦 😦 ” dengan gaya Adam di film Munafik :mrgreen:

Tapi daripada jadi feeling sick yang berpotensi pada kegilaan, marilah kita notice pada hal yang kecil-kecil saja dulu. Hal sepele kadang bisa membunuhmu kan? Itu kenapa terminologi mati konyol ada.

Hal-hal kecil yang bagi saya bisa mengajarkan soal menghargai dan keadilan adalah seperti tidak menginjak sandal orang lain (dengan sandal kita) saat baru datang ke masjid supaya tidak kotor, tidak menyerobot antrian dengan alasan ‘saya lebih tua dari Anda, mohon dimengerti’ untuk menghindari mental taklid, atau mengklakson keras saat laju kendaraan di depan lelet akibat baru saja mau ambil gas setelah nyala lampu hijau (Plis deh! Siapa juga yang mau lama-lama di lampu merah. Sabar kelles!).

Hal simpel di atas yang ketika orang melakukan itu pada kita, tentu bikin kita kesal. Kita pun jika melakukannya bikin kesal orang. Perkara remeh-temeh yang bikin orang kesal tapi dianggap angin lalu, mengerikan sekali jika sudah jadi kebiasaan. Apalagi jadi warisan budaya yang stigmanya tak kepalang jelek. Bisa digeneralisir kita-kita yang tak pernah mau menginjak sandal orang lain; yang tak suka main serobot karena merasa lebih berhak dihormati; atau yang tak sudi main klakson tanpa alasan yang masuk akal, dengan label yang kurang menyenangkan hingga kita jadi feeling sick. Akhirnya hati berlubang oleh peluru keakuan. Pikiran tercemar oleh virus kesewenangan.

Sesungguhnya, kesabaran manusia tidak selamanya dalam kondisi full charge. Bisa jadi intensitas merasa feeling sick membuat diri ini jadi apatis dan berputus asa terhadap kebaikan.

Kita berbuat kebaikan kecil, tentu berharap pula balasan kebaikan itu datang langsung dari orang yang kita baiki. Jika tidak, kita tidak bisa tidak kesal. Pasti kesal. Begitu lah emosi bekerja. Biarlah mekanisme tubuh berjalan sesuai fitrahnya. Yang perlu diperhatikan adalah kadar kekesalan dan kemungkinan pelampiasannya.

Feeling sick dari kasus yang saya contohkan atau kita bisa susun sendiri masalahnya sesuai pengalaman masing-masing, jika terakumulasi, takutnya jadi semacam ‘monster yang muncul ke permukaan’. Setidaknya kita cukup yakini behaviorisme mengatakan lingkungan buruk membuat watak seseorang ikut buruk adalah benar.

Kalau pun memang kita tidak jadi buruk karena pertahanan iman cukup kuat, kita bisa jadi masa bodoh-an dengan sesuatu. “Wong awake dewe midek sendalku, yo aku midek sendal de’e maleh!” (Orang dia juga injak sandal saya, saya injak sandal dia juga, dong!). Begitu dan begitu, kita sering merespon hal kurang menyenangkan sesuai dengan perlakuan buruk orang lain hingga jadi lingkaran setan tanpa bisa putus kecuali kita yang memutusnya.

Adalah dengan berusaha menghargai hal kecil. Seperti tidak menginjak sandal tadi karena takut sandal orang tersebut kotor. Senang sekali jika diperlakukan begitu kan? Apa yang terjadi jika orang sedang merasa senang? Do’a bisa mengalir pada kita. Seperti, “Ya Allah, baik banget dia. Semoga dimudahkan jalannya. Aamiin.” Atau minimal ucapan terima kasih orang pada kita bisa jadi semacam peneduh hati yang menyenangkan. Setahu saya menyenangkan sesama muslim itu berpahala. Membesarkan hati saudara seiman itu ukhuwah yang indah…

Oke.

Pada celoteh kali ini saya memang agak sentimen. Tapi saya suka sekali kalau semua orang berusaha menghargai orang lain dengan perlakuan-perlakuan sederhana yang sesungguhnya hal itu saja membuat senang.

Sesungguhnya saya hanya ingin mencintai kalian~

:mrgreen:

! (Oh plis, masalah sendal. Sungguh kekanakan).

Iklan

6 thoughts on “Ramadhan 10 : Celoteh Melulu Lagi

  1. Justru hal-hal sepele dan sederhana itu yg dikaji oleh pemikir-pemikir besar. Coba aja liat bagaimana semua petinggi negara mengatasi banjir di ibukota. Padahal menurut saya faktor terbesarnya ya buang sampah sembarangan dan kurangnya resapan karena pembangunan di sana-sini. Simpel, cuma menggerakkan manusia lain untuk tidak membuang sampah sembarangan itu sulitnya bukan main. Karena orang-orang memang justru meremehkan hal kecil sehingga tidak menghiraukan imbauan sederhana untuk tidak membuang sampah sembarangan.

    Tulisan di atas memang mengajak untuk melakukan hal-hal kecil, tapi tantangannya begitu berat. Coba aja bilang hal semacam itu pada orang terdekat, pasti gakdigubris. Bahkan,mungkin ditertawakan.

    Disukai oleh 1 orang

    • Tantangan berat memang. Karena terlalu disepelekan, ‘penyadaran’ akan hal itu terasa dagel karena selama ini sudah dianggap normal.

      Ngingetin buang sampah, lebih banyak gak digubris. Apalagi di tempat umum. Sekalinya digubris, ditanggapi dengan amuka kecut 😅

      Serba salah memang. Sadar sendiri, gerak sendiri dulu saja lahh

      Disukai oleh 1 orang

  2. Celotehmu sentimentil bernas
    Seperti mendengar seorang ustadjah, namun bukan, seperti bukan tapi. Benar2 reading panic.

    Itulah realita, urusan nginjak sandal meski terkesan sepele aja, tapi bisa bikin “baper”

    Disukai oleh 1 orang

Coba deh dikomentarin~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s