Ramadhan 09 : Hijrah?

Sejak booming yang syar’i-syar’i, istilah hijrah juga jadi populer. Terutama dalam hal busana, bil khusus busana muslim.

Orang disebut berhijrah ketika ia yang dulunya berpakaian dengan model tidak menutup aurat, kemudian kini berpakaian muslim yang menutup aurat, terutama di hijab-nya. Begitu pun perkara yang berkaitan dengan trend busana ini yaitu soal pacaran. Orang disebut berhijrah ketika ia yang dulunya tenggelam dalam asyik-masyuk pacaran, kemudian kini tidak berpacaran lagi dan lebih memilih ta’aruf atau menikah langsung saat didekati buaya, ups! laki-laki maksudnya 😛  

Dalam lingkungan anak muda, hijrah memang sangat populer. Banyak gerakan hijab dan anti pacaran tersebar di berbagai tempat. Baik yang terorganisir maupun yang sekedar gerakan panggilan hati.

Banyak juga cerita kawan-kawan soal pengalaman hijrahnya dari busana yang kurang bahan menuju busana yang sesuai aturan. Dari gaya interaksinya dengan lawan jenis yang tanpa peringatan, menuju interaksi anti berpegangan.

Tapi di mana hijrah saya?

Kalau mengikuti kecenderungan banyak orang dan banyak teman, hijrah dari pakaian kurang menutup aurat dan hijrah dari perilaku pacaran, saya tidak punya dua-duanya.

Sejak SD, saya sudah pakai kerudung. Jadi sudah biasa. SMP juga pakai kerudung. Karena jarang main, jadi jarang beli baju bagus. Juga jarang dandan. Lebih sering bergaul sama ternak peliharaan Bapak atau ikut mancing di kali atau ikut berburu simeut, walang padi. Lanjut SMA, juga pakai kerudung. Masih jarang main keluar. Dapat cs yang juga tipe rumahan. Jadi lebih sering ngerumpi di sekolah dan perjalanan pulang. Atau paling banter piknik pribadi ke rumah teman yang rumahnya paling “gunung”. Namanya desa Salasari. Di sana sangat indah. Ada flying fox! Itu lho, tali berumbai yang dibentangkan di sawah saat padi mulai menguning untuk mengusir burung :mrgreen:

Saung butut yang ditemukan saat jelajah hutan

Ikut Bapak memancing. Itu, keliatan si Bapak pakai baju putih dan topi

Di piknik itu biasanya kami makan-makan. Bikin nasi liwet, dimakan sama ikan peda dan sambal kecap plus kerupuk di saung sawah yang ada di atas batu besar. Jadi, habis masak, makanannya di bawa ke sawah baru makan bareng. Habis makan, kami becek-becekan di sungai. Tapi tak lama mainnya karena takut ada penampakan babi.

Maka dari itu saya jarang banget main di luar. Padahal ke pantai dekat (cuma 7 km), ke objek wisata lain seperti curug, Green Canyon atau situs tertentu dekat. Tapi saya tetap lebih suka main ke rumah teman. Mengacak-adut kasurnya, makan sepuasnya, lalu pulang dengan masih dibekali camilan.

Soal pacaran, saya tidak pacaran. Tepatnya saya tidak suka pacaran. Orang otoriter macam saya tak cocok lah dengan konsep pacaran. Yang ada nanti pacar saya, saya jadikan babu. Kan gawat :mrgreen:

Dari dua hal di atas, soal berhijab dan pacaran, saya tidak pernah mengalami hijrah yang signifikan. Gaya pakaian saya dari dulu ya yang begitu lah, gak suka yang ketat, hijab sih masih yang cuma menutup dada, gak menjulur-menjulur banget. Alhamdulillah sudah pakai kaus kaki—karena alasan pragmatis : panas. Interaksi dengan laki-laki cukup jelas batasnya. Karena saya pemalu #tsaah (Ada orang pemalu yang ngaku dirinya pemalu? Kalau gak tau malu mungkin iya).

Lalu hijrah saya di mana? 

Jangan-jangan sejak dulu saya tetap menjadi orang yang sama. Tanpa perubahan, tanpa perbedaan. Tanpa bertambah baik, tanpa bertambah bijak, tanpa bertambah dewasa.

Jangan-jangan pengalaman sekolah dan pengalaman berteman saya juga tidak pernah menjadikan saya semakin adil melainkan tumbuh sebagai benih-benih kesombongan.

Jangan-jangan segala laku hidup selama sampai usia saat ini, tidak pernah mengajarkan saya soal spirit melainkan sekedar jebakan rutinitas belaka sehingga yang salah terus berulang seperti lingkaran setan.

😢

Semestinya hijrah

Yang harus disepakati adalah hijrah tak sesempit kedengarannya. Bukan soal perpindahan dari X ke tujuan Y belaka, namun bagaimana mempertahankan spirit hijrah tersebut agar seseorang tetap berada di jalur Y.

Saya tidak tahu hijrah saya di mana dan sudah sejauh apa. Terlepas dari soal hijab dan pacaran, tentu hijrah bukan semata-mata perkara momentum-an seperti itu.

Ternyata hijrah itu memiliki 4 makna. Pertama, hijrah keyakinan. Adakalanya iman sedang membubung tinggi hingga mencapai maqam sejati. Adakalanya pula iman meluncur menuju titik terendah hingga menyerempet kepada kesyirikan. Maka perlu lah dilakukan hijrah keyakinan agar bisa menjauh dari tepi jurang setan ini. Yaitu dengan cara berdzikir.

Kedua, hijrah fikir. Adakalanya pikiran ini kelewat mesum, liar, kurang ajar, berkecenderungan tagut bahkan sesat.

Diantara kenikmatan yang diberikan Tuhan adalah mendayagunakan akal. Jika tidak hati-hati, virus-virus pemikiran dapat membengkokan iman. Maka dari itu, mengantisipasi semakin terperosoknya diri ke dalam jurang setan ini, perlu dilakukan hijrah. Yaitu dengan cara tafakur yang benar.

Ketiga, hijrah dari perkara kesenangan yang kurang islami. Seperti contoh soal hijab dan pacaran itu. Hijrah dilakukan agar dapat keluar dari kungkungan komoditas pasar dan sapi perah westernisasi. Caranya, tinggalkan hal yang kurang islami tersebut.

Keempat, hijrah akhlak. Tidak bisa tidak akhlak seseorang seringkali mengalami degradasi dari yang tadinya cukup karimah menjadi sangat sayyi’ah. Maka perlulah hijrah agar akhlak tidak condong pada kemaksiatan, melainkan condong pada kebaikan. Caranya, tinggalkan akhlak buruk tersebut.

Jadi, memang hijrah sudah seperti kebiasaan yang harus ditanamkan dalam kesadaran. Karena manusia cenderung melawan arus, lupa daratan, gila dan sesat, maka diperlukan alarm hijrah untuk menjaga kemanusiaannya tetap berada di jalur syara’. Minimal di tepian syara’.

Hijrah memang bukan tentang apa-apa yang bagaimana. Hijrah hanya personal improvement dalam rangka menggapai ridha-Nya saja. Dan saya, muga-muga saja senantiasa berhijrah. Kalian juga, ya 😀

Babay!

:mrgreen:

Iklan

24 thoughts on “Ramadhan 09 : Hijrah?

  1. Amin, semoga.

    Btw, tempatnya asri sekali mbak Mulya, bikin adem pikiran dan hati. 😍😍😍

    Soal hijrah. Ga tau, krn yg bs menilai diri qt hijrah atau tdk ya org yg bnr2 dkt dg kita. 😊

    Kl soal pegang2an tgn, sejak kecil, udah ga suka dipenlgang tgannya sm cowok. Dulu, wktu SD, ada cowok yg suka iseng pegang tgnnya Cinta, krn Cinta ga suka, maka Cinta pukul itu cowok pake payung smpe hidungnya brdarah 🙈.

    Akhirnya org tua si cowok iseng itu dan orang tua Cinta dipanggil. Entah knp wktu ditanya bu guru, Cinta diem saja, Cinta malu sekali mengakui kl si cowok td pegang tgn Cinta dg paksa, alhasil Cinta diem saja, dan di rumah msh diomelin ibu. Cinta masuk kamar dan sesenggukan sndirian di sana. Sependiem itu dulu Cinta mbak. Beda sekali dg skr yg ga bs diem. 😁😂😅

    Disukai oleh 1 orang

  2. Mengena, ….. hijrah bukan skdar perkara pindah dari titik X ke titik tujuan Y, tp memelihara smngat dan perkembangan diri agar ttp brada di jalur yg smestinya.

    Mungkin bisa juga, “pliz be on the right track, the track of the truth”

    Begitu?

    Disukai oleh 1 orang

    • Begitu. Soal the track of the truth kita hanya bisa minta. Kita tak tahu jala yang mana yang benar. Yang kelihatan benar, ternyata salah. Tapi tetap senantiasa tawakal dan minta hidayah. Berusaha dan berdo’a… 😄

      Disukai oleh 1 orang

  3. Maraza berkata:

    Baca ini saya jadi bertanya2 sekaligus mikir. Jangan2 saya justru belum hijrah beneran? Terima Kasih tulisannya… Mencerahkan bahwa hijrah bukan semata berpindah atau mengganti sesuatu tapi lebih dari itu

    Disukai oleh 1 orang

Coba deh dikomentarin~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s