Ramadhan 08 : Celoteh Melulu

al-qur’an | kitab suci terakhir umat muslim

Ada sebuah judul kolom koran yang saya tangkap secara tak sengaja saat antri beli es teh di warung. Yaitu “Mencintai al-Qur’an”. Begitu tulisnya.

Saya pun terpekur sejenak. Pikiran lantas berebut mengeluarkan kata-kata untuk mengomentari apa yang mata lihat. Setelah kalimatnya tersusun, saya mulai ambil sikap dalam hati dengan pertanyaan kurang ajar : Ngapain mencintai al-Qur’an? Apanya yang dalam al-Qur’an yang harus dicintai?

Setiap sebelum Ramadhan selalu ada tabligh akbar yang mengangkat tema al-Qur’an. Bicara soal apa itu al-Qur’an, bagaimana cara turunnya, apa keistimewaannya, dan untuk apa al-Qur’an ada.

Kita sendiri tahu al-Qur’an itu kitab suci. Namanya kitab suci, pasti lah sesuatu yang sangat sakral dan tidak sembarangan isinya. Selain kitab suci , kita juga tahu al-Qur’an itu pedoman hidup orang muslim untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Kita tahu muslim berakal pasti harus mengamalkan al-Qur’an karena isinya perintah Tuhan. Melaksanakan perintah-Nya itulah yang memberikan manusia peluang kebahagiaan dunia dan akhirat. Dan tawaran kebahagiaan digapai melalui cinta. Memang apa lagi?

Lalu, lantas mencintai al-Qur’an karena kitab suci ini merupakan pedoman yang langsung diwahyukan Tuhan untuk kebahagiaan? Kayaknya, jawaban ini mengandung unsur penipuan deh.

Wong kita tak tahu apa-apa soal al-Qur’an. Memang bisa baca? Yakin bisa? Coba baca yang versi gundul. Masih bisa? Atau yang berharakat saja lah. Bisa? Lancar? Paham enggak?

(Saya sih, yyyy– no).

Nah itu. Membaca kan aktivitas memahami teks. Kalau kita tak paham ayat al-Qur’an yang kita baca sendiri, berarti kita bukan sedang membaca. Tapi melafalkan.

Coba deh tengok yang versi gundul. Kita tak bisa membacanya kan? Jangankan baca, melafalkan saja tak bisa. Kasihan. Gimana mau menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman kalau membaca saja tak bisa. Ini yang disebut cinta? Tipu-tipu~

OK. Mungkin kita punya alasan yang cukup masuk akal kenapa tak bisa baca al-Qur’an. Let say karena kita orang Indonesia. Orang Indonesia tidak berbahasa Arab. Jadi, ketika ngaji ya ngaji saja. Melafalkan saja. Soal arti dan maknanya, embuh. Biar lah orang-orang pinter yang mengkaji al-Qur’an sampai mendalam dan jadi ahli. Kita yang kecoak minimal bisa melafalkan saja. Syukur ada satu-dua ayat yang senantiasa istiqomah diamalkan.

Nah kalau begitu itu, bukankah mirip dengan cinta yang setengah-setengah? Niat untuk mencintai enggak, sih?

Iya. Saya tahu. Kamu niat mencintai. Hanya saja sesuai kapasitas dan kemampuan dirimu, bukan? Tidak memaksakan diri menyelami samudera ilmu al-Qur’an kalau memang tidak terlalu mengancam jiwa jika tak memperlajarinya. Masih banyak orang-orang saleh yang bisa ditanya perihal al-Qur’an, konon.

Kalau serba tidak bisa, bagaimana kita mencintai al-Qur’an?

Fikih prioritas mengungakapkan bahwa mengamalkan al-Qur’an lebih penting ketimbang sekedar memperbanyak hapalan. Berakhlak dengan al-Qur’an lebih disukai ketimbang mengetahui berbagai macam dalil perbuatan tanpa berusaha mengistoqomahinya.

Yaaa… bagaimana lagi? Cara mencintai kita yang kecoak ini langsung ke tahap implementasi lho. Membaca kan tadi belum bisa. Cuma baru bisa melafalkan dan sedikit-sedikit tahu arti beberapa kata. Pahala melafalkan ada, tidak ya? :mrgreen:

Berbeda dengan kondisi beberapa orang yang mencintai dengan mengenalnya terlebih dahulu. Mengenal bagaimana sejarah “pembumian” kalam Tuhan di masa dulu. Mengenal tuduhan-tuduhan orang-orang kafir terhadap keotentikan al-Qur’an dan membantahnya. Mengenal kemukjizatan dan pengaruhnya secara global terhadap perkembangan peradaban manusia di segala bidang. Mengenal, mengenal mengenal sehingga lebih tahu apa itu al-Qur’an.

Setelah itu, karena mengenal al-Qur’an secara cukup mendalam, intimasi dengannya pun semakin kerap. Melafalkan, melafalkan, sedikit-sedikit belajar bahasa Arab. Melafalkan, melafalkan, lama-lama membaca. Sembari itu pula, mengamalkannya dalam laku kehidupan semakin mantap.

Nah, kita yang kecoak, tak perlu lah sesangar itu berintimasi dengan keintiman yang paling intim dengan al-Qur’an. Mencintai secara kecil saja sudah bagus. Mencintai al-Qur’an dengan mengamalkannya. Mengamalkan berarti membaca dan mengimplementasikan.

Kita tadi belum bisa membaca, kan? Kalau begitu minimal melafalkan. Lalu memahami melalui penjelasan-penjelasan yang bisa ditemukan di buku fikih atau bertanya langsung pada orang berilmu soal suatu ayat yang hendak diamalkan. Atau kalau begitu “terobsesi” dengan al-Qur’an bolehlah jadi anak pesantren lalu cicipi sekolah studi Islam lalu ke Kairo…

Nah, sekarang sudah mencintai al-Qur’an?

Kenapa? Apanya yang dicintai?

Mau ke Kairo? *Ok stop, gue mulai menyebalkan

:mrgreen:

Babay!

Iklan

12 thoughts on “Ramadhan 08 : Celoteh Melulu

  1. Gagasan mencintai Al-Qur’an itu sudah baik, terlepas dari bisa membaca Arab-Nya atau tidak. Ada orang yang menangis ketika diperdengarkan Al-qur’an padahal ia tidak memahami bunyi-bunyi Arabic yang asing baginya, aaah aku lupa dalil naqlinya bahwa secara fitrah Al-Qur’an Allah turunkan untuk mengetuk setiap hati yang tertutup, untuk setiap otak yang asing terhadap-Nya. Dan orang yang menangis (terketuk) padahal ia tidak paham ada banyak, Alhamdulillah salah satunya aku. Kira-kira siapa yang menangis di dalam diri manusia itu: jasadnya atau jasad-Nya, rohnya atau roh-Nya? Atau kedua-duanya atau kedua-dua-Nya.

    Transendental sekali. ☺

    Disukai oleh 1 orang

      • 😅 mencintai yang total lah biar dicintai secara “total juga”. Kalau gak bisa ya gak apa-apa. Yang penting jangan sampai mendustakan 😔

        Kalau perihal menangis, ?

        Suka

      • Hehehe ok-ok. Gpp deh. Tapi ini itu works kok bagi para muallaf, ia belum paham Al-Qur’an secara utuh melainkan lebih terketuk oleh salah satu atau salah dua atau salah tiga ratus dari ayat-ayat Al-Qur’an, terserah mereka mau disimpulkan mencintai Al-Qur’an? Atau mencintai surat al-Fatihah ayat: 1, surat Al-Muminun ayat 10, surat Al-Kafirun ayat 6, Surat Ar-Rahman ayat 23 …?

        Di samping itu, jika memang pada tulisan Kak Mulya ini Al-Qur’an diporsikan sebagai objek (dalam artian sabda Allah yang terperangkap dalam Aspek-aspek kebahasaan Arab pada suatu kertas) kemudian untuk secara adil mencintai Al-Qur’an adalah melalui tafsir (yaah memang kitamah kecoak) bukankah ketika seseorang menjadi paham adalah karena tafsir itu sendiri? Lalu apakah adil ia disebut mencintai Al-Qur’an? Bukankah lebih adil ia mencintai tafsir Al-Qur’an (dari sudut pandang objektivitas)? Lalu al-Qur’an untuk apa bagaimana jika dimusiumkan kita perbanyak tafsir-Nya saja?

        Makanya, aku tanya siapa (apa) yang menangis di dalam diri manusia ketika diperdengarkan Al-Qur’an yang padahal ia pun tidak mengerti bahasa Arab: rohnya atau roh-Nya? Raganya atau raga-Nya? Atau bahkan kedua-duanya? Atau kedua-dua-Nya?

        Permasalahan siapa yang menangis di dalam diri manusia tersebut adalah perihal transendental tetapi setidaknya kita tahu bukan roh ini roh-Nya (milik Allah), raga ini raga-Nya (milik-Nya) maka berdasarkan sabda Allah (yang aku lupa detilnya, surat dan ayat apa) yang substansinya adalah seperti yang aku sampaikan di komentar no. 1, maka yang itu adalah kedua-dua-Nya (substansi manusia, atom kemanusiaan yang paling kecil–yang paling hakikat) nah karena yang hakikat ini adalah murni apakah akan tetap dipermasalahkan perihal kecintaanya kepada al-Qur’an sebagai Qalamuallah (bukan objek) yang ia tidak memahami kebahasaan Al-Qur’an itu sendiri? Waduuuuh kasian sekali kedua-dua-Nya yang ada di dalam diri manusia ini?! 😧

        Disukai oleh 1 orang

  2. Menurutku sih, paham makna di dlmnya (krn ngerti isinya; terjmhannya) dan mengamalkan isinya jauh lbh pnting ktimbang hapalan bhs asli tp gak ngerti isinya.
    Tp krn prlu dihafal jg bhs aslinya, ya tgs brtambah dong, tp krn wajib, mesti dilakuin dong.

    Disukai oleh 1 orang

  3. Duh kok jadi serius banget. Kalau mau memahami kan memang perlu tafsir. Tafsir juga bentuk cinta dari al-Qur’an. Masa mau mencintai bentuk cinta 😓. Seperti suka pada pak pos dong

    Suka

Coba deh dikomentarin~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s