Ramadhan 07 : Maut

natural mystical air | via pinterest

Allah pernah membuka hijab sang maut kepada malaikat dan ditunjukkan jati dirinya. Setelah terbentang sayap dan terbuka semua matanya, para malaikat pun tersungkur lalu pingsan selama 1000 tahun.

Saat pemberian mandat kepada Izrail, sang maut, menyeru lah kematian pada seluruh penghuni langit :

“Aku adalah kematian yang memisahkan tiap-tiap kekasih. Aku adalah kematian yang memisahkan antara suami dan istri. Aku adalah kematian yang meramaikan alam kubur. Dimana pun kalian berada, aku pasti akan memburumu dan menemukanmu. Tidak seorang makhluk pun kecuali akan merasakan diriku.”

Di bumi, setiap hari Kamis bumi menyeru beberapa kali. Seruan pertamanya berkata,

“Hai manusia, sekarang ini kamu berjalan di atas punggungku dan kamu akan dikembalikan ke dalam perutku.” Seruan kedua, “Hai manusia, sekarang ini kamu menyantap berbagai jenis makanan di atas punggungku. Tapi sesampainya di perutku, kamu akan dimakan oleh belatung-belatung.” Seruan ketiga, “Hai manusia, sekarang ini kamu enak tertawa di atas punggungku, nanti kamu menangis di dalam perutku.” Seruan keempat, “Hai manusia, sekarang ini kamu boleh berbahagia di atas punggungku, tetapi nanti kamu akan bersedih di dalam perutku.” Seruan kelima, “Hai manusia, sekarang ini kamu boleh berbuat dosa di atas punggungku, tetapi nanti kamu akan disiksa di dalam perutku.”

Penciptaan maut sungguh luar biasa. Keberadaannya dapat menyungkurkan malaikat. Meski diceritakan dalam beberapa riwayat wujud Izrail sangat besar dan menyeramkan, namun ia makhluk Allah yang sangat ta’at. Sudah menjadi tugasnya untuk berkeliling dunia mengantarkan kematian pada jin dan manusia.

Manusia tidak bisa lari dari kematian. Kematian sendiri yang bilang demikian. Lalu Izrail, sebagai pengantarnya, tidak tahu akan mendatangi kita dari arah mana. Bahkan para malaikat pun tak mengetahui di mana keberadaannya dan ke mana ia pergi. Izrail berjalan tanpa suara, diam-diam dan tiada yang bisa mendengar suaranya.

Satu yang diketahui soal kematian oleh jamak manusia selain bahwa ia akan datang adalah rasa sakit. Rasa sakit luar biasa yang membikin ngeri sehingga kita enggan bertemu Izrail.

Umar ra. pernah berkata kepada Ka’ab, “Wahai Ka’ab ceritakanlah kepada kami tentang mati.” Ka’ab berkata, “Sesungguhnya mati itu ibarat pohon berduri yang dimasukkan ke dalam perut manusia dan setiap duri itu mengait pada urat, kemudian ditarik oleh seseorang yang sangat kuat sehingga terputuslah urat yang bisa putus dan tersisalah apa yang tidak bisa putus.”

Namun, tanpa bertemu maut kita tidak bisa bertemu keabadian. Untuk menuju kampung akhirat niscaya lah kita didekati maut, bertemu Izrail dan menyaksikan sendiri kebesaran Tuhan melalui perbuatan makhluk-Nya.

Kemudian kita dibenamkan dalam tanah dengan balutan kafan. Tiada yang lain kecuali amal yang terbawa ke pembaringan terakhir. Harta tertinggal di dunia, kekuasaan digantikan yang masih hidup, keluarga dan sanak saudara tidak selamanya ingat kita. Hanya dalam beberapa kondisi saja mereka ingat. Itu pun belum tentu mendo’akan. Kita benar-benar sendirian berada dalam perut bumi yang dulu kita injak-injak tanpa ingat kematian.

“Sesungguhnya alam kubur adalah statsiun pertama menuju akhirat. Jika seseorang bisa selamat dari alam kubur, maka kehidupan sesudahnya akan mudah. Sementara jika ia tidak bisa selamat dari alam kubur, maka kehidupan sesudahnya akan sangat menyengsarakan.”

Diantara siksa kubur yang sangat pedih itu disebabkan karena seseorang mengakhirkan shalat. Padahal jika mengingat ancamannya, perkara ini adalah perkara yang mestinya sangat diwanti-wanti. Tapi diantara kemalasan-kemalasan yang sering menggelayuti keimanan, kiranya memang manusia tidak bisa lepas dari perkara mengakhirkan shalat. Setan selalu giat membuat berbagai bisikan dalih yang terlihat masuk akal, cerdas dan seolah benar. Adakalanya manusia lengah, adakalanya manusia berhasil menepisnya.

Sungguh pertarungan nafsu yang tiada henti…

Maka dari itu, mari sama-sama senantiasa memohon perlindungan dari siksa kubur. Betapapun memang kita sering mengakhirkan shalat, betapapun setiap hari meremehkan shalat, atau kalaupun shalat tapi dilakukan dengan malas atau malah riya, jangan lah bosan berharap ampunan-Nya.

Tentu kita tidak ingin disambut Izrail dengan seruan, “Hai jiwa yang busuk…”, bukan?

Na’udzubillah.

***

He he…. Kok jadi postingan horor. Tapi barangkali perlu lah sesekali menulis yang begini. Yeah. Kalau acara walimahan itu lho, biasanya yang jomblo suka dikasih retoris, “Kapan nyusul?” Coba lah sekali waktu tanya “Kapan nyusul?” ke orang lain (tidak terbatas pada jomblo) setelah ikut acara penguburan. Dijamin kamu dipelototi. Apalagi bertanya pada orang yang sudah berubah khi khi…

Jodoh, maut, dan rezeki. Meski sama-sama misteri, ‘kepopuleran’ mereka berada di ruang-ruang tertentu saja ya rupanya 😁

Babay! Jangan lupa bersyukur, ya!

Iklan

9 thoughts on “Ramadhan 07 : Maut

  1. Ada tmn tnya pd saya, “gmn rasanya mati ya?”

    “Apa?” Tanya saya balik

    “Ya, mati itu gmn?” Dia ulangi lagi.

    Saya bilang kalau mau tahu gmna mati yg mesti mati dulu, hbis itu bngkit lgi, dan ksih tahu tmn2, haha…

    Maut adlh misteri di dlm misteri, rasanya tak mungkin kita tahu klo blm ada yg prnh mati dan bngkit lg utk ngsih tahu.

    Maut namaya Izrail? Ilmu baru ni

    Disukai oleh 1 orang

      • Hemm kalo dunia medis kurang tahu. Ustadz yang ceramah sblm shalat tarawih waktu itu pernah cerita bahwa Ayah beliau pernah menyaksikan kembali hidupnya orang yang dinyatakan sudah meninggal. Padahal si mayit sudah dikafani malam itu, tinggal nunggu besok hari baru dikubur 😗

        Suka

      • Mnurut mdis stahuku manusia disebut mati bila minimal 2 hal ini berhenti total fungsinya, ykni otak brhenti (no more vibration),
        lalu jantung tdk brdetak, tp utamanya otak. Otak adalah pusat smuanya.

        Nah, pd kasus org mati suri nampaknya fungsi otaknya blm total brhnti, sklipun jntung sdh brhenti. Mungkin mbak. Ini jg asumsi, hee…

        Suka

Coba deh dikomentarin~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s