Ramadhan 05 : Celoteh Lagi

puzzle alfabet kayu | feel atau ra.sa

Kata ‘Jawa’ memiliki dua makna. Yang pertama bermakna geografis, yaitu pulau Jawa. Sementara yang kedua bermakna simbolis, yaitu identik dengan orang yang sudah mengetahui rasa.

Dalam kesusteraan Jawa Klasik, ‘rasa’ memiliki makna yang sangat dalam, yaitu hati nurani. Dalam bahasa aslinya, Sansakerta, ‘rasa’ memiliki makna air atau sari buah-buahan atau tumbuhan. (Wawan Susetya)

Dari pernyataan di atas saya menyimpulkan dua hal. Pertama, pengakuan para bule bahwa orang Indonesia itu ramah-ramah, kemungkinan besar dia bertemu sama orang Jawa.

😅

He he… gak juga deh kayaknya. Secara umum sih orang Indonesia berkesan ramah karena tinggal di ‘tanah surga’. Yang kata Koes Ploes tongkat, kayu, dan batu jadi tanaman. Semua bisa tumbuh. Kelapa yang jarang ditemui di Korea banyak tumbuh di belakang rumah saya. Melon yang harganya selangit di Jepang, di Kulonprogo ada banyak :mrgreen:

Kedua, makna ‘rasa’ dalam bahasa Sansakerta ada kemiripan dengan makna ‘syari’ah’ dalam bahasa Arab. ‘Syari’ah’ berarti sumber air yang didatangi untuk minum. Ternyata kedua istilah ‘rasa’ dan ‘syari’ah’ sama-sama berhubungan dengan ‘sarana’. Air memang sarana penunjang kehidupan. Maka baik ‘rasa’ maupun ‘syari’at’, sama-sama mengantarkan pada keberlangsungan hidup manusia.

Jika dicari dalam KBBI, pencarian kata ‘rasa’ pun akan kita temui berbagai arti. Pertama yang berkaitan dengan tanggapan rangsangan oleh indera. Seperti gatal, sakit, panas, dingin, dll. Lalu kedua, berkaitan dengan tanggapan rangsangan oleh hati (sistem emosi/ reaksi psikologis dan fisiologis). Seperti takut, khawatir, bersalah, senang, dll. Dan ketiga, yang berkaitan dengan tanggapan rangsangan oleh akal. Seperti benar, salah, untung, rugi, dll.

Di sini terlihat bahwa ‘rasa’ memiliki dimensi yang menyeluruh. Meliputi indera, emosi dan akal. Tapi dimensi ini masih terbilang sempit. Sabab-musababnya berasal dari mekanisme kerja tubuh saja.

Ki Hajar Dewantara menggunakan istilah Sajatining Rasa atau Rahsa untuk menyebutkan hidup itu sendiri. Bisa jadi ‘rasa’ memang berarti ‘jiwa’ sebagaimana yang diungkap Al Gazali, yaitu esensi manusia yang keadaannya bergantung pada hubungannya dengan Tuhan. Wacana mengenai rasa memang jika ditransendensikan akan sampai kepada tingkat rasa yang lebih mulia lagi, yaitu ‘rasa bebas’. Tapi tentu saja ‘rasa bebas’ ini masih lah sebuah tahap dalam jalan suluk. Dalam versi alegori Fariduddin Attar masih ada 3 ‘lembah’ lagi yang perlu dilewati untuk bertemu Simurgh.

Huwaahh~ ngantuk ya? :mrgreen:

Apalah. Ini kan cuma celoteh 😛 . (Prinsip berlindung di balik kata untuk menghindari ‘tanggung-jawab’ isi tulisan. Ish! Ish!). Selain memang saya gak tahu mau posting apa…

Oiya, ada yang bisa kasih tahu saya sebuah metode menghapal yang efektif? Memori saya sungguh berkarat karena tidak pernah dipakai buat hapal-hapal sesuatu. *oeey, malah curhat!

:mrgreen:

Sekarang saya mau baca buku ini lagi :

Ini bukan buku saya sebenarnya. Melainkan hasil pinjam. Tapi tidak pernah kembali. Saya gak tahu orangnya sekarang ada di mana T_T

Babay! Meski random, moga postingannya bermanfaat. Jangan lupa berdo’a mumpung Bulan Ramadhan ya~ 😗

Iklan

7 thoughts on “Ramadhan 05 : Celoteh Lagi

  1. Apaan sih mbak?

    Bnar2 celoteh, walau Anda bilang memorinya lg berkarat, krn jrang hapal2 sstu, tp maaf, dari sajian Anda hari ini seolah menunjukan antitesanya. Celotehannya itu loh, bikin otakku nyut2….

    Disukai oleh 1 orang

Coba deh dikomentarin~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s