Ramadhan 04 : Buku Baru yang Menarik

tan.da | yang menjadi alamat atau yang menyatakan sesuatu, gejala, bukti, lambang; pengenal, petunjuk

Merupakan Buku Hasil Riset Terbaru

Saya benar-benar senang beli buku model begini. Apalagi hasil riset tersebut berada di wilayah psikologi dan pendidikan plus yang ada bau-bau filsafatnya. Bukan berarti saya berpaling dari bidang hukum yang saya pelajari selama sekolah. Hanya saja bidang ini sesuai dengan level ke-saya-an saya yang paling saya, yaitu level intrapersonal.

Judulnya “Kecerdasam Semiotik : Melampaui Dialektika dan Fenomena” karya Yasraf Amir Piliang dan Audifax. Buku ini adalah hasil penelitian beliau selama sekitar 2,5 tahun yang mana merupakan pengembangan dari penelitian ‘Kecerdasan Semiotik’ yang dilakukan tim yang diketuai oleh Yasraf Amir Piliang sebelumnya yang waktu itu masuk sebagai penelitian penelitian Riset Unggulan yang diadakan oleh DIKTI.

Awal tertarik dengan buku ini karena saya melihat Pre Order nya di Instagram. Dan yang “merekomendasikannya” adalah penulis favorit saya. So, sebagai laku orang yang mengidolakan suatu sosok, melakukan apa yang direkomendasikannya sama dengan memasuki rimba raya pemikirannya. Yang artinya secara tidak langsung sedang menyamakan dialog. Uwaahh… ❤

Yatogami lagi takjub | Noragami

Semangat Baca Sampai Tuntas 450 Halaman

Saking senangnya saya dengan kehadiran buku ini, saya sampai update status di Instagram dan WA. Awalnya saya semangat sekali membaca buku ini. Tapi saya tahu kalau membaca karya nonfiksi tidak se-sekali-duduk karya fiksi.

Kalau saya baca buku nonfiksi yang sifatnya mendekati sifat buku pelajaran,  biasanya sambil diselingi oleh “semedi” dan baca buku-buku lain yang berhubungan dengan tema atau buku-buku tokoh yang disebutkan dalam buku nonfiksi yang sedang saya baca tersebut. Jadi lama gitu. Selain memang karena otaknya yang lamban cerna 😛 Terlebih, tak ada tuntutan dari siapapun. He he…

Satu-satunya orang yang komentar status saya, Bang Pungkas (karena mungkin tertarik dengan buku ini atau wacana per-semiotika-an), sudah nagih saya untuk mereview buku ini. Saya jadi nyesel update status 🙄  Kan saya jadi merasa ada beban…

(malah) Hutang Review

Biar saya gak dibayang-bayangi hutang review, alangkah tricky-nya jika saya ulas dulu mengenai Kecerdasan Semiotik sebagai pembuka. Hal ini dilakukan untuk menghindari mangkir “tanggung-jawab” sekaligus yang semacam “ah gue kan udah bahas dikit soal isi bukunya-jadi gak perlu review lah-kalau memang pengen tau apa itu kecerdasan semiotik ya baca bukunya sendiri-enak aja suruh-suruh orang review-ck~”. Begitu :mrgreen:

Introducing 1 : Kecerdasan Semiotik

Terdiri dari dua kata, yaitu kecerdasan dan semiotik. Let’s say kecerdasan adalah kemampuan memahami dan semiotik adalah ke-hal tanda-an. Jika digabung, kecerdasan semiotik adalah kemampuan untuk memahami segala hal yang berkaitan dengan tanda atau simbol.

Pada awalnya, sebuah logos (ilmu pengetahuan) merupakan rangkaian tanda yang terbaca oleh manusia. Tanda tersebut memiliki banyak bentuk. Mulai dari huruf, angka, kata, objek, nada, gerak, dan lainnya. Dunia manusia adalah dunia yang diciptakan melalui bentuk-bentuk simbolik hasil pemikiran manusia. Simbol atau tanda tersebut dapat terlihat pada bahasa, filsafat, pendidikan, sains, pakaian, seni, dll yang merupakan hasil kebudayaan baik yang asbtrak maupun yang konkrit.

Melalui tanda, manusia menautkan dirinya dengan sesama, berinteraksi dan membentuk peradaban melalui invensi dan kultur. Pemahaman dan pengolahan tanda inilah yang sebenarnya menjadi esensi dari kecerdasan. Semua kecerdasan pada dasarnya adalah kecerdasan dalam memahami dan mengolah tanda atau dengan kata lain kecerdasan semiotik.

Mari perhatikan istilah “semua kecerdasan” di awal kalimat bold di atas. Studi mengenai kecerdasan yang selama ini telah dilakukan oleh manusia, pada akhirnya disimpulkan menjadi enam area pembahasan. Pertama Teori Psikometri yang digagas oleh  Alfred Binnet, Henry Goddard, Charles Spearman, dan Leon Thruston. Area ini memahami bahwa kecerdasan dipahami sebagai sesuatu yang sifatnya bawaan, sejak lahir, permanen, dan uniter. Saya jadi ingat Al Gazali  yang mengatakan dalam Ihya-nya bahwa akhlak yang baik “diletakkan” oleh Allah sejak awal pada penciptaan manusia (kamal fithri). Seseorang dilahirkan dengan kesempurnaan daya rasional, kebaikan akhlak dan daya nafsu serta amarah yang tunduk pada akal dan agama sebagaimana kepribadian para Nabi. Namun memang yang begini merupakan perbuatan Tuhan edisi spesial. Tidak setiap manusia diciptakan dengan metode asyik seperti ini :mrgreen: (Kalau iya, apa gunanya ujian, kan? Kalau setiap manusia diciptakan secara hanif seperti Nabi Ibrahim, nanti konsep pahala – dosa, nikmat – siksa, dan Surga – Neraka jadi gugur dong he he. Alam dunia bukan bola dualisme lagi).

Yang kedua Teori Inkremental, dikenal lewat David Perkins dan Carol Dweck. Area ini meyakini bahwa kecerdasan itu dimiliki oleh setiap orang. Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai tingkat keyakinan diri yang membuatnya menonjol secara intelektual. Sepertinya teori ini sekuel dari teori Psikometri. Demikian juga Al Gazali menjelaskan lebih lanjut perihal sumber akhlak manusia yang kedua selain melalui fitrah tadi. Yaitu melalui pembiasaan, pergaulan yang baik dan pendidikan. Kalau Agus Haryo Sudarmojo bilang dengan istilah “gen”. Gen cerdas yang ada dalam diri seseorang perlu dioptimalkan dengan menanamkan gagasan bahwa setiap manusia memiliki potensi kecerdasan yang sama, kemudian diwujudkan dalam bentuk tindakan, misalnya belajar. Selanjutnya tindakan berulang itu akan menjadi kebiasaan dan setelah terbiasa bisa menjadi watak. Kemudian watak tersebut mengantarkan pada nasib (kesuksesan). Agus Haryo menyandarkan pernyataannya dengan teori revolusi yang ada dalam Surat Ar Ra’du ayat 11. Kita juga tentu kenal pepatah klise ala anime “Ubahlah takdirmu dengan tanganmu sendiri!” #tsaah

Yang ketiga Teori Neuron, berasumsi bahwa kecerdasan diperoleh melalui optimalisasi kerja otak. Orang bisa menjadi cerdas dengan melakukan tugas-tugas yang menantang dan membuat koneksi neural baru serta menciptakan pathway di otaknya. Selanjutnya Teori Emosional yang digagas oleh Daniel Goleman. Area ini menyebutkan bahwa emosi dapat menjadi katalis bagi suatu proses belajar. Sejauh ini terlihat ada upaya lebih dalam mengoptimalkan konsep kecerdasan dengan kerja fisiologi dan emosi tubuh.

Teori selanjutnya yang bisa dikatakan lebih “mewakili” kecerdasan, digagas oleh Robert Jeffrey Sternberg, dikenal dengan nama Teori Triarkis. Menurutnya, kecerdasan itu berhubungan dengan kemampuan seseorang beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang terjadi dalam hidupnya. Ada dua asumsi penting dalam teori ini, yaitu bahwa kecerdasan bisa dikembangkan dan  memiliki 3 bagian : analitik, praktis, dan kreatif.

Selanjutnya, Howard Gardner memperkenalkan Kecerdasan Majemuk. Kecerdasan ala Gardner ini mangasumsikan bahwa 3 bagian kecerdasan (analitik, praktis, dan kreatif) seseorang memiliki  komponen-komponen kecerdasan yang sama, tetapi dengan derajat kedalam yang berbeda. Cerdas adalah ketika seseorang mampu mengembangkan komponen kecerdasannya  sampai level kompetensi yang adekuat .

Lalu, apakah Kecerdasan Semiotik merupakan jenis kecerdasan yang lebih mutakhir dari jenis-jenis sebelumnya?

Introducing 2 : Hal Fundamental dalam Wacana Kecerdasan

Setiap jenis pengetahuan memiliki ciri-ciri spesifik mengenai ‘apa’ (ontologi), ‘bagaimana’ (epistemologi), dan ‘untuk apa’ (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Ketiga landasan ini tidak dapat dipisakan. Apalagi dalam model berpikir sistematik, ketiganya harus senantiasa dikaitkan.

Setelah ditelaah, semua jenis kecerdasan yang berada pada 6 area tadi berkutat pada aspek aksiologi, dan kurang memperhatikan aspek epistemologi dan ontologi. Karenanya penelitian kecerdasan tersebut berada di bawah naungan sebuah rerata kultural atau indikator keterujian dalam lingkup tertentu.

Sementara penelitian kecerdasan semiotik dilakukan untuk menemukan hal mendasar dari tema kecerdasan, lalu membangun fondasi ontologi dan epistemologinya  untuk menentukan ragam pembahasan mengenai kecerdasan berikut konteksnya. Karena itu pembicaraan kecerdasan semiotik akan mempertanyakan dari mana rerata kultural didapat.

Telah dipahami bahwa sebuah kultur akan selalu mengandung rerata yang menjadi standar bagi kecerdasan. Sementara penulis mengasumsikan bahwa kecerdasan berpijak pada ‘tanda-tanda’. Dalam studi budaya (cultural studies), ‘tanda’ menjadi asumsi dasar untuk memahami budaya. Dalam penelaahan cultural studies, penelaahan tanda dikenal dengan ilmu semiotika.

Jadi, secara mendasar kecerdasan dapat ditemukan aspek ontologi dan epistemologinya secara semiotik atau melaui tanda. Pemahaman dan pengolahan tanda inilah yang disebut kecerdasan. Cerdas adalah ketika seseorang mampu mengolah sistem tanda dengan baik dalam beradaptasi dengan lingkungannya.

Atau kembali ke paragraf awal mengenai bentuk-bentuk tanda, cerdas adalah ketika seseorang mampu menggunakan daya bahasa, filsafat, pendidikan, sains, seni, dan mode secara tepat sesuai kondisi-kondisi lingkungan yang dihadapinya.

Aseek :mrgreen:

Akhir

Postingan kali ini memang panjang. Semoga kalian tetap semangat membacanya. Dan terutama, semoga kalian penasaran dengan kecerdasan semiotik ini lalu mencari lebih lanjut mengenai pembahasannya. Siapa tahu kalian lah yang malah posting review buku “Kecerdasan Semiotik” nya Yasraf Amir Piliang dan Audifax di blog lebih dulu dari saya.

Kalau gitu saya bisa nunggu postingan kalian saja 😀

Oiya, ini kover buku yang saya maksud kalau-kalau kalian ingin hunting di toko buku. Termasuk buku bantal memang, tapi gaya bahasanya enak kok. Ya horor-horor sedikit lah pas bahas teori. Tapi kalau kalian anak psikologi beberapa bahasan di sini tidak asing sepertinya.

gambar kuda zebra yang lucu, padahal cuma tangan | Kecerdasan Semiotik via Facebook

Selamat bersenang-senang. Jangan lupa puasa yang ikhlas dan berbuka secara tidak berlebihan.

😀

Iklan

34 thoughts on “Ramadhan 04 : Buku Baru yang Menarik

  1. Waw, ulasanmu sangat teoritis, begitupun buku ini, kecerdasanku yg gak sbrapa ini perlu berkali-kali membacanya. Bnar2, after reading panic, 😇😇

    Terkait kecerdasan semiotik itu sy blm dpt memahami konkret nya, kcrdasan mmhami trkait tnda/simbol yg gmn?

    Bukunya mnarik, cocok bagi para pemikir, para akademisi, mahsiswa psikologi atau filsafat.

    Terimakasih udah di-share.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Setelah lihat ulasan ini, akhirnya aku memutuskan untuk tidak baca buku ini, hahahah 🙈🙈
    terlalu banyak kosakata yang tak ku mengerti… bikin laper deh jadi nya..
    yuk makan 🍗🍖🍖

    Disukai oleh 1 orang

  3. Tia berkata:

    Yang terpikir pas baca definisi: orang yg punya kecerdasan semotik tinggi, mesti punya firasat yang selalu benar *gaknyambung 😂😂

    Baca berulang-ulang walau belum sepenuhnya paham :’)
    Semangatt bikin lanjutannya Kak Mulyaaa 😆😆😆

    Disukai oleh 1 orang

    • Uwaaahh gagasan ketje. Bisa jadi Mbak. Orang yang main firasat kan pinter memahami ‘tanda-tanda’. Berarti kecerdasan semiotik nya tinggi.

      Termasuk orang yang pekaa sama kode si dia~ *ahem!

      Disukai oleh 1 orang

Coba deh dikomentarin~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s