Ramadhan 03 : Awal yang Tidak Keren Berakibat Pada Ending yang Kacau

tak.jil | makanan yang disajikan saat berbuka puasa

Niat Picik dan Akibatnya.

Selama kuliah dan mengalami Ramadhan di perantauan, saya tidak pernah berburu bukaan gratis yang biasa disediakan masjid-masjid. Dulu saya hanya “berburu” suasana tarawih di beda masjid saja. Apalagi masjid-masjid yang punya sejarah.

Baru kali lah ini saya melakukan safari berbuka bersama teman. Benar-benar pengalaman asing…

Saat itu saya melakukan perbandingan. Antara berbuka di Masjid X kemarin dengan berbuka di Masjid Y tadi malam.

Tapi bukan soal menu buka-an yang saya bandingkan. Itu tidak penting. Yahh… asal gratis siapa berani protes kan? Hehek :mrgreen:

Yang saya bandingkan dari dua masjid tadi adalah model agenda buka-nya. Berbuka di Masjid X hanya disediakan air teh dan kurma. Moderator ceramah menjelang maghrib sebelumnya bilang bahwa setelah berbuka, kami melaksanakan shalat maghrib berjamaโ€™ah dulu. Baru yang mau ambil makan tinggal ke teras bawah dan antri.

Sementara di Masjid Y beda lagi model buka-nya. Di sana kami sudah disuguhkan makanan. Jadi kami makan dulu, baru shalat. Karena perempuan itu sangat rempong dan ini-sumpah-nyebelin-banget, akhirnya saya ketinggalan jamaโ€™ah shalat maghrib. Mulai dari sana saya bad mood.

Kenapa bad mood? Karena saya jadi merasa cuma ingin numpang makan saja di masjid itu.

What?! Sepicik itu diri saya?!

Niat kami waktu itu memang sudah rusak. Sebelum ke Masjid Y, kami pergi ke Masjid Alpha dulu. Di sana ramai sekali. Lalu ternyata kupon untuk mengambil nasi kotaknya sudah habis. Jadi kami memutuskan pergi dan mencari masjid terdekat lain yang menyediakan buka-an. Dan terpilihlah Masjid Y itu.

Lalu satu per satu kekesalan pun datang. Ini mungkin โ€œkarmaโ€ niat picik saya tadi ๐Ÿ˜ž

Setelah tidak bisa ikut jamaโ€™ah maghrib, saya pun dihadapkan pada kondisi hujan. Karena bagian depan masjid tidak ada atapnya, sandal saya jadi basah. Kaus kaki yang saya pakai juga ikut basah. Wudhu juga melewati area lintasan jamaโ€™ah laki-laki. Jadi harus hati-hati begitu. Ribet banget lah. Belum lagi saya salah masuk area shalat. Jadi saya harus balik lagi turun tangga melewati percik-percik air yang merembes di kaus kaki. Mulai dari sana, saya pengen nangis guling-guling.

Ketidaknyamanan.

Setelah shalat maghrib, kami berencana tetap di Masjid Y dan tarawih di sana saja karena kondisi di luar hujan. Tapi, entah kenapa waktu itu saya merasa setengah hati.

Setelah shalat, kami pun berembug lagi untuk memutuskan apakah benar-benar akan shalat tarawih di Masjid Y atau cari tempat lain. Soalnya waktu itu masih jam 6-an. Kami juga gak bawa al-Qurโ€™an. Jadi untuk menunggu adzan Isya, pilihan kami hanya bengong saja. Kan kurang keren juga.

Akhirnya kami pun memutuskan keluar masjid meski harus menerjang hujan (yang untungnya mulai mereda, menyisakan rintik-rintik imut). Kami pun menuju Masjid Z. Masjid kesayangan saya.

Kenapa kesayangan, karena di sana sangat nyaman. Saya tidak diribetkan oleh parkir, teror sandal basah akibat air hujan, jalur perempuan dan laki-laki yang benar-benar beda, area shalat perempuan yang berada di luar (jadi silir) dan terutama sekali tempat wudhu yang bersih plus โ€œsemau gueโ€. Maksudnya gak khawatir ada laki-laki lewat dan punya kaca full body.

Tapi, meski tarawih di masjid kesayangan, ternyata “ketidaknyamanan” datang lagi. Imam shalat kami lupa satu rakaโ€™at. Dan beliau itu tidak sadar. Kami para jamaโ€™ah tentu celingukan keheranan. Setelah salam, ada sebentuk dengung lebah di kiri-kanan telinga saya.

Dan yang paling bikin hati galau, bacaan Al Fatihah Imam shalat kami terdengar aneh. Saya dapati beberapa huruf yang mestinya di baca pendek jadi panjang dan yang panjang tiga alif dibaca kurang panjang. Penyebutan huruf masuknya (tasydid) juga lambat.

Setelah tanya teman, ternyata dia pun merasakan hal serupa. Saya kira cuma saya saja yang memikirkannya…๐Ÿ˜ซ

Di Tengah Kekacauan.

Ending kami belum lengkap tanpa melaksanakan agenda tilawah satu juz setelah tarawih. Sebelum Ramadhan, kami memang sepakat untuk melakukan ngaji bareng sampai khatam. Jadi setiap hari ngaji satu juz berganti-gantian. Ini sukses bikin suara saya habis.

Berhubung SDM makin menipis, yang tidak berhalangan hanya saya dan satu teman tarawih itu, akhirnya saya mengusulkan untuk tilawah setengah juz saja. Jadi masing-masing kami hanya baca dua lembar dan yang satu lembar lagi dibaca bareng. Sementara setengah juz lagi kami baca selepas subuh dengan format yang sama.

Ide cemerlang saya ini pun terlaksana dengan baik. Tilawah berakhir jam 10 lewat 15. Lalu, karena saya lapar lagi (mungkin karena tadi pulang kehujanan) saya pun makan sambil nulis draft postingan ini sampai tengah malam… ๐Ÿ˜ช

Akhir.

Setelah tahu niat saya sangat tidak keren, saya pun dapat ending yang kacau. Saya gak mau lagi deh punya niat tarawih terselubung. Apalagi safari masjid hanya untuk mencari menu berbuka. Saya kapok. Ha ha… pengalaman yang bikin saya bad mood tadi, apa ada diantara kalian yang pernah mengalaminya juga?

#MulyaKacau #Ish! MalahCurhat ๐Ÿ˜•

Iklan

14 thoughts on “Ramadhan 03 : Awal yang Tidak Keren Berakibat Pada Ending yang Kacau

  1. ish ish ish..
    jangan di ulangi lagi yah..
    biasanya kan kalau ada kekeliruan kayak kurang rokaatnya, makmumnya harus mengingatkan imamnya dengan mengucapkan “Subhanallah” gitu

    Suka

    • Iya Om. Itu masalahna gak ada yang mengucap “subhanallah” secara lantang hingga Imam berdiri lagi melanjutkan rakaat yang kurang itu. Di barisan laki-laki saat itu terdengar agak ramai juga. Tapi gak ada semacam “pengumuman” apa-apa. Kami cuma saling pandang aja dengan yang di samping kami. “Tiga rakaat ya”. “Iya, jawab saya”.๐Ÿ˜…๐Ÿ˜ฃ

      Suka

Coba deh dikomentarin~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s