Ramadhan 02 : Tanya Tentang Malaikat

es krim | sajian dingin yang dibuat dari susu, kuning telur, kepala susu, dan gula, berupa massa yang lembut dan halus

Tatkala moderator memberi pengumuman agar saf laki-laki dimajukan karena jama’ah yang baru datang tidak kebagian tempat, kami sempat berteori :

Kalau perempuan yang disuruh maju ke saf paling depan, pasti responnya lama. Dalam beberapa detik setelah pengumuman moderator agar saf paling depan diisi dulu (jangan ngagoronyok di belakang), perempuan pasti masih diam. Kasak-kusuk. Melakukan beberapa hal. Semacam membenarkan kerudung, membereskan tas, de el el.

Gak seperti laki-laki yang disuruh maju ke saf lebih depan itu. Laki-laki kalau dusuruh maju suka langsung berdiri dan mengondisikan diri.

Perempuan? Rempong.

Kami tertawa pelan-pelan, tapi cukup totaitas.

Lalu tak lama moderator mengumumkan hal yang sama pada jama’ah perempuan. Agar yang duduk di belakang biar maju ke saf di depan yang masih kosong.

Walhasil, teori kami terbukti. Saat itu kami, jama’ah perempuan, tidak berkutik. Cuma kasak-kusuk. Tengok kiri-kanan. Tiup-tiup kerudung. Beres-beres tas. Tapi, tidak ada yang maju ke saf depan.

Sama sekali.

😑😑

***

Kajian menjelang maghrib di Masjid Pangeran Diponegoro Balaikota waktu itu membahas tentang alam malakut. Alam malakut adalah alamnya para malaikat. Alias alam gaib, aka kasatmata. Alam juga bisa berarti “tentang”. Katakanlah alam malakut adalah segala hal tentang malaikat.

Selaku makhluk yang berakal sehat, tentu kita mempercayai akan adanya hal gaib. Terkhusus orang beriman. Hil yang mustahal jika orang beriman tidak percaya dengan keberadaan yang kasatmata. Karena Tuhan sendiri kasatmata. Bahkan setengah dari rukun iman percaya kepada hal yang kasatmata. Keheranan paling dahsyat bagi penganut empirisme absolut terhadap iman ini 😕

Selain percaya, percaya yang benar pun sangat penting. Orang dikatakan beriman kepada rukun iman kedua jika ia percaya kepada malaikat dengan keyakinan yang benar. Pertanyaannya, sudahkah kita percaya dengan benar?

(a) Sudah benar
(b) Hampir benar
(c) Sedikit menyerempet benar
(d) Masih agak belum benar
(e) Sepertinya belum benar

Ya. Kajian menjelang maghrib memang belum mengkover rasa penasaran saya terhadap alam malakut. Terlebih saya dan teman memiliki beberapa pertanyaan mendasar untuk hal ini.

Pada dasarnya, pertanyaan kami ini memang hal dasar. Tapi sungguh, saya tak berani berasumsi untuk hal ini (Pliss, Mulya-kun, ini akidah, ilmu skalek. Jangan pakai akal dengkulmu). Jadi, saya putuskan untuk bikin postingan lanjutan saja sebagai jawaban dari pertanyaan yang saya ajukan bersama teman berikut ini. Pertanyaan ini mungkin juga jadi unek-unek kalian. Atau malah kalian memang sudah mengetahui jawabannya.

Pertanyaan pertama :

Dulu pas kecil kadang kita berpikir tentang nama-nama malaikat. Misalkan malaikat Izrail yang bertugas “mencabut nyawa”. Manusia di dunia ini kan ada banyak. Kematian juga tidak terjadi satu per satu. Di Indonesia ada yang mati, di India ada yang mati juga, di Zimbabwe juga ada yang mati secara bersamaan. Bagaimana Izrail “mancabut nyawa” mereka? Apa Izrail bolak-balik keliling dunia? Kok sibuk banget, ya?

Ketika logika dewasa mulai bekerja, saya pun berasumsi bahwa nama-nama malaikat adalah nama jabatan. Setelah tahu bahwa jumlah malaikat itu sangat banyak (hanya Allah yang tahu [QS Al Mudatsir : 31]), maka memungkinkan jika yang “bernama” Izrail itu ada jutaan jumlahnya. Begitu juga malaikat “duta ke-hal-manusia-an” yang lain seperti Rakib-Atid dan Munkar-Nakir.

Benar begitu?

Pertanyaan kedua :

Salah satu ciri malaikat adalah bahwa mereka tidak memiliki hawa nafsu. Malaikat hanya melakukan sesuatu yang diperintahkan Allah saja. Malaikat juga tidak pernah mendahului Allah dan selalu mengerjakan perintah-perintah-Nya. Lalu, kenapa saat Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah : 30 tentang menjadikan manusia sebagai khalifah, malaikat “mempertanyakannya?” Dari mana inisiatif itu? Apa benar malaikat boleh mengkritisi Allah?

Pertanyaan ketiga :

Masih terkait dengan “inisiatif perbuatan malaikat”. Kita pernah dengar bahwa malaikat meneruskan do’a kebaikan yang manusia ucapkan. Pernah dengar juga bahwa malaikat ikut ber-aamiin selepas imam shalat menyelesaikan al Fatihahnya. Katanya, jika ucapan aamiin kita bersamaan dengan aamiin-nya malaikat, dosa-dosa kita yang lalu akan diampuni.
Pertanyaannya, apa aamiin-nya malaikat diperintahkan oleh Allah? Malaikat yang mana yang bilang aamiin?

***

Itu dia 3 pertanyaan mendasar yang jadi unek-unek hati soal alam malakut. Sebenarnya bukan baru saja kemarin saya mendapati pertanyaan ini. Tapi sudah lama sebelumnya. Hanya saja momentum untuk mencari jawaban atas pertanyaan tersebut belum ada. Mumpung, bulan Ramadhan, bulannya semangat belajar, apalagi mumpung ada proyek Menulisi Ramadhan, sekalian saja saya cari jawaban dari 3 pertanyaan tadi hi hii :mrgreen:

Next time, saya lanjutkan lagi postingan ini. Saya mau cari jawabannya dulu. Mlipir dulu. Ngiyup dulu. Nge-es teh dulu *eh, puasa ding :mrgreen:

Babay! 👊

Iklan

22 thoughts on “Ramadhan 02 : Tanya Tentang Malaikat

  1. Nah, sip tu prtnyaanmu mbak Mulya, aku suka bcanya. Jd pngnut agama itu emang kudu kritis dan cerdas, spy gak dibilangin asal ngikut, haha…

    Trllu bnyk prtnyaan ttg alam gaib, bhkn dlm kyakinan lain pun konsep mlaikat bisa berlainan, kdang multitafsir juga. Smngat bljar mbak dan slmat brpuasa juga!

    Disukai oleh 1 orang

Coba deh dikomentarin~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s