Ramadhan 01 : Sebuah Celoteh

gu.la-gu.la | penganan yang dibuat dari gula, permen

Suka Ramadhan.

Well, artikel ini memang terinspirasi dari buku nyentriknya Rusdi Mathari, “Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya”. Isinya berupa esai-esai seru yang dulu sempat nangkring di web mojok.co sebagai serial edisi Ramadhan.

Di halaman pertama, saya digusuhkan pernyataan yang membuat saya tertawa lahir-batin. Nanti saya sertakan di akhir sub ini.

Konon, ada hati yang selalu merasa “tidak sebahagia” itu menyambut bulan suci Ramadhan. Ekspresi orang tersebut datar-datar saja saat menjumpai kentongan sahur atau bayangan rencana safari tarawih. Terlebih, menjumpai janji pelipatgandaan pahala membaca al-Qur’an dan sedekah, tak lantas membuat diri tersebut “serindu” itu dengan kebaikan.

Apalah.

Orang-orang tak suka puasa sebenarnya. Shalat juga kadang malas-malasan. Apalagi tilawahan yang seringkali tergoda kantuk…

Dalam kasus puasa wajib, barangkali karena dilaksanakan setahun sekali, jadi rasanya ada semacam “kerinduan” yang menimbulkan euforia pada datangnya Ramadhan. Gairah ketakwaan yang memenuhi mesjid hanya di 10 hari pertama Ramadhan saja. Fitrah ta’at yang kelihatan cantik saat Idul Fitri saja. Similikiti.

Sungguh terlalu jika itu yang saya pahami dari “kegembiraan” khalayak pada bulan spesial ini. Rindu Ramadhan setengah. Bersuka-cita Ramadhan yang tahunya sih begitu.

Tapi-tapi,

ada semacam dukungan yang saya dapat dari pernyataan Cak Dlahom pada Mat Piti perihal “gembira-tidaknya” seseorang terhadap Ramadhan (tentu ini hanya sinisme belaka, tak sepenuh hati saya, saya se-skeptis itu) :

“Mat, sesuatu yang diwajibkan adalah sesuatu yang manusia tidak suka mengerjakannya. Kalau manusia suka melakukannya, untuk apa diwajibkan, Mat?”

Jadi, suka Ramadhan?
(a) Suka
(b) Tidak
(c) Bingung

Mengaku Anjing.

Judul kedua esai seru Rusdi Mathari yang membuat saya kembali berpikir lahir-batin adalah sub judul di atas. Di cerita itu, Cak Dlahom mengaku kalau dia adalah anjing. Makanya boleh dipanggil Cak Anjing.

Bagi orang Islam, anjing sudah menjadi sebuah simbol. Ya, karena termasuk di bahasan fikih taharah sebagai salah satu sebab yang membatalkan kesuciaan. Dibahas juga di fikih makanan sebagai salah satu sumber protein yang haram dicerna. Dalam analogi literatur tasawuf, anjing juga diidentikkan dengan nafsu keserakahan. Walhasil, citra anjing menjadi buruk.

Saya termasuk orang yang suka anjing. Atau lebih tepat, saya suka dunia binatang. Saya penggemar Geographic Channel sejak bocah. Saya suka takjub dengan bentuk-bentuk binatang. Termasuk cara beradaptasinya, gaya pertahanannya, tingkah polahnya dan hikmah-hikmah di balik keberadaannya.

Saya ingat betul. Sebelum usia baligh, saya selalu bermain di pasir dengan anak-anak anjing sampai orang tua marah-marah. “Najis! Najis!” Begitu tekan mereka. Setelah ngaji, saya pun paham. Dan dari sana lah jarak saya dengan anjing semakin mengendur. Saya hanya jadi pengagum jauh saja.

Sesuka-sukanya saya dengan anjing, tapi mengaku anjing, sungguh frasa yang mengerikan. Tak ada yang suka menjelekkan diri sendiri kecuali Cak Dlahom dan Chairil Anwar (aku binatang jalang! :mrgreen: ). Tapi jika ditelaah lebih dalam, boleh jadi saya legowo pun mengaku anjing.

Dalam tradisi fabel Melayu, anjing suka digambarkan dengan sifat setia namun juga serakah. Dia menjadi anak emas tuannya, tapi di saat yang sama selalu was-was karena keberadaannya takut tergantikan oleh sesuatu yang lain. Makanya anjing suka caper.

Nah. Kira-kira saya juga begitu. Suka caper. Caper pada siapa? Caper pada kesempurnaan. Saya mencintai yang bagus-bagus, enak-enak, indah-indah, baik-baik dan elok-elok. Saya takut jika Tuan kesempurnaan itu menjauhi saya gara-gara saya lamban dalam memahami. Makanya saya harus berusaha lebih jauh memahami orang lain dengan membuka berbagai kemungkinan dan sudut pandang. Semua ini agar Tuan kesempurnaan menoleh pada saya. Mempuk-puk kepala saya. Dan saya bisa senang.

Pertanyaannya, siapa Tuan kesempurnaan?

Anjing.

Anjing yang ada dalam pikiran saya. A.k.a keserakahan saya akan yang bagus-bagus, enak-enak, indah-indah, baik-baik dan elok-elok. Ha ha…

Tahu Tuhan.

Perihal optimisme terhadap ampunan Tuhan tak perlu lah digugat lagi. Bahwasanya itu wajib tiada tanding. Namun menjadi lain soal jika optimisme amnesti itu dipandang sebagai formalitas tahunan yang meng-euforiakan umat Muslim sejagat belaka.

Ramadhan adalah bulan suci. Dengan berpuasa dan beramal secara total, maka kotoran daki selama maksiat selama sebelas bulan yang lalu akan diampuni.

Lalu, kenapa harus menunggu Ramadhan dulu baru total beramal? Ada jaminan Tuhan menerima puasamu sebulan nanti?
Berharap itu memang harus. Tapi jangan ke-PD-an.

Memang kita tahu Tuhan? Katanya, untuk mengenal Tuhan, harus Dia sendiri yang membukakan jalan untuk mengenal-Nya. Bukan hasil telaah mendalam bacaan-bacaan tasawufmu. Bukan pula asumsi filosofismu. Apalagi pengetahuan rasiomu yang sarat kedangkalan.

Akhir.

Ramadhan. Selamat datang Ramadhan? Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan? Ahh~ Ramadhan. Semoga Ramadhan tak kesal pada celoteh saya.

:mrgreen:

Iklan

26 thoughts on “Ramadhan 01 : Sebuah Celoteh

  1. Kak Mulya, tulisannya menarik, bikin orang lain penasaran sama bukunya 😆
    Tapi foto permen warna-warni di atas itu kalau dilihat di jam-jam rawan alias sore hari bisa bikin nelen ludah juga ya 😂
    buka puasa sebentar lagi langsung mau makan permen

    Disukai oleh 1 orang

  2. Weis, celotehmu rasionil bnget, biasanya perempuan cuma feeling, gak semua juga sih, maaf klo tlah berprasangka, dan nampaknya Mulya trmsuk yg “ga semuanya itu”.

    Klo nurutku sih, amal itu kpn pun, tak terikat oleh hitungan2 waktu trtntu, yg psti pnjang dilkukan dg tulus tnpa pamrih, sori…aku ikutan sok tahu..

    Suka

    • Haha rasionil tapi gak peka mah gimana gitu yaa 😂😅

      Iyep. Beramal kapan-ingat. Beramal semacam gak perlu momentum.

      Ahh di kolom komentar saya bebas sok-sok an 😁. Saya juga suka sok. Jadi impas 👊

      Suka

Coba deh dikomentarin~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s