Ramadhan 01 : Sebuah Celoteh

gu.la-gu.la | penganan yang dibuat dari gula, permen

Suka Ramadhan.

Well, artikel ini memang terinspirasi dari buku nyentriknya Rusdi Mathari, “Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya”. Isinya berupa esai-esai seru yang dulu sempat nangkring di web mojok.co sebagai serial edisi Ramadhan.

Di halaman pertama, saya digusuhkan pernyataan yang membuat saya tertawa lahir-batin. Nanti saya sertakan di akhir sub ini. Baca lebih lanjut

Menulisi Ramadhan

Sejak menulis artikel “konsisten kapan-kapan” termasuk mengingat betapa saya sudah lama berniat konsisten menulis tapi tak kunjung berbuat demikian, akhirnya Ramadhan pun saya jadikan momentum untuk membentuk kebiasaan.

Dulu, saya cermati Om Ir pernah bikin tantangan menulis di bulan April. Itu berbarengan dengan saya mengikuti event menulisi April di Instagram. Di akhir, Om Ir rampung. Sementara saya tidak. Saya cuma bertahan 15 hari, lalu lenyap. Entah bagaimana struggle-nya Om Ir menyelesaikan tantangan yang ia buat sendiri itu. Yak, memang kadang kelewat sehari lalu postingannya di rapel. It’s normal.

Juga ketika melihat anggota-anggota grup menulis menyelesaikan tantang 30 hari ODOC (One Day One Chapter), saya cuma berdecak kagum saja. Padahal diantara mereka profesinya beragam sekali. Ada mahasiswa, ada murid sekolahan, ada pegawai kantoran, ibu rumah tangga dan lain-lain yang tentunya memiliki kesibukan utama dalam kehidupannya. Tapi, mengikuti event menulis sparta begitu…. Keren!

Saya juga gak mau ketinggalan keren. Dong. Saya akan mencoba menulisi bulan Ramadhan. Setiap hari saya akan posting artikel dengan tema bebas. Ya, bebas saja lah. Bingung juga mau bikin kategori tema-nya. Di ARC Ramadhan ini, saya bebas menulis.

Tantangan menulis di Bulan Ramadhan

Ada yang mau ikutan? Tenang saja. Program one month khatam-mu tidak akan terbengkalai kok. Tantangan menulis ini cuma buat habit-habit-an saja. Yang jelas, ketika menulis sudah menjadi kesenangan, intuisi juga semakin tajam. Yang sederhana dapat didedah secara menarik. Tak perlu tema yang rumit. Yang menyehari-hari saja. Kalau mau semacam “mistik keseharian” ala Heidegger (?)

Itung-itung tafakur juga. Biasanya kan kalau baca al-Qur’an di bulan Ramadhan banyak merenungnya begitu. Tangkaplah renungan itu menjadi sebentuk wujud yang dapat didialektikakan bersama. Siapa tahu ketika dibaca dapat membuka pintu hidayah :mrgreen: Menjadi wasilah kebaikan, berpahala lhoo~

Atau Ramadhan ini momentumnya sering hadir di kajian, bukan? Maka alangkah menyenangkan bisa berbagi ilmu melalui postingan sederhana di blog. Lagipula, kalau keseringan mendengarkan tausyiah juga suka lupa kan? Nah, ikatlah memori itu dengan menuliskannya :mrgreen:

Yuk lah. Mulai berderap kepada kebermanfaatan. Bukan melulu pada menulis sih. Istilah “menulisi Ramadhan” hanya ungkapan penggerak gen kebaikan (*ceileh!) saja. Intinya, mari jalani bulan Ramadhan ini dengan suka cita, tanggung-jawab dan jangan lupa berbagi.

Mau bagi-bagi takjil buat saya, boleh~

Iyeay ❤ !

Sastra untuk Pendidikan

Menyoal Kualitas Pendidikan

LIS.TEN | pic via pinterest

Sesuatu yang telah jamak diketahui bahwa globalisasi yang kemudian memunculkan generasi materialis-konsumeris-individualis mengakibatkan nilai-nilai kehidupan dalam masyarakat makin terdistorsi. Solidaritas sosial makin rapuh, kekerasan sosial merebak, dan aspek-aspek kehidupan makin tergiring ke arah neoliberlisme. Menurut YB Mangunwijaya, dalam suasana inilah kemudian pendidikan dikemas sebagai komoditas dan pemerolehannya sebagai persaingan. Berbasiskan kecenderungan hasrat politik (berkuasa) dan ekonomi (keuntungan), substansi pendidikan filosofis tergeser kepada ancangan pragmatis. Akibatnya, banyak orang berpendidikan tetapi sesungguhnya tidak terlalu banyak menunjukkan kualitas keterdidikannya. Baca lebih lanjut

Konsisten Kapan-Kapan

kon.sis.ten | tetap, taat asas, ajek, sesuai, selaras

Diskusi sudah,

Di Ruang Serius Blogger Katakawan minggu lalu, kami berdiskusi mengenai bagaimana menjaga konsistensi menulis blog bagi blogger pemula. Di sana Om Ir, blogger yang terbilang aktif memosting artikel setiap hari membagikan beberapa tips dan kami terlibat diskusi secara  interaktif. Baca lebih lanjut

BAHASA : Hal Menyenangkan di Sekitar Kita

BAHASA | a large used language in the wolrd

Kepoin Alam Pikiran Teman

Suatu hari yang indah, saya merasa penasaran dengan skripsi yang sedang ditulis teman. Dia meneliti permasalahan code switching (pengalih-bahasaan : Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris) yang dilakukan seorang guru saat mengajar di kelas. Saya pun kepo dan bertanya ini-itu pada sang teman (untungnya dia bukan tipe orang BT-an seperti teman dialektik saya yang satu lagi :mrgreen: ) hingga mendapati saya skeptis dengan Fakultas Bahasa dan Sastra terkhusus jurusan Bahasa dan Sastra Inggris dimana sang teman kuliah.

Saya bilang, buat apa sih tahu berapa kali seseorang melakukan code switching dalam berbicara? Ada pengaruhnya kitu dalam kehidupan? Teman menjawab dengan baik tapi saya kurang puas. Biasa lah. Meski saya mudah bahagia, paradoksnya saya sulit dipuaskan (serakah? Well… a little bit. Pembawaan anak tunggal kayaknya).

Karena sifat “toleran” saya belum muncul juga, saya pun bertanya lebih jauh tentang motifnya belajar di FBS. Dia pun menjawab kalau dia bercita-cita mengambil scholarship master Linguistik di Edinburg (ya, di kamarnya terpasang bendera mini London).

Pendeknya, dia ingin jadi seorang Linguis. Baca lebih lanjut

Cinta yang meng.gong.gong/

guguk via Pinterest 

Mikaela, tahu tidak?
bahwa memiliki itu bukan Cinta, melainkan keserakahan
seperti anjing mewarisi tulang Tuannya

Mikaela Mikaela,
yang ini tahu juga, tidak?
kalau pengertian tak dikenal, maka Cinta hanya transaksi
seperti anjing mematuhi panggilan Tuannya. Tak ada makan, tak ada kibas ekor kesetiaan

Ahh Mikaela,
sedari tadi hanya aku yang bicara
sementara kau diam tidak tertawa
Aku seperti menggonggong saja

(Adibaa Ihsani, 1438 H)

Diriku yang ber.se.ra.kan/

fresh petal via pinterest 

Aku hilang, Tuhan
Separuh diriku merindukan kesempurnaan
sebagaimana tersabda dalam kalamMu
Juga sedikit rasaku akan hadirMu

Aku ingin mencari yang hilang itu, Tuhan
Izinkan kususun cinta di bumi
sebagaimana NabiMu misalkan
Juga sedikit inginku akan naluri kemanusiaan

Aku benar-benar merindukan yang hilang, Tuhan
Berkahilah takdirku agar diriku tidak berserakan
Kan kucoba rapatkan jarakku padaMu
agar pengharapan-pengharapan tidak mengecewakan

Aku hilang, Tuhan
Hilang dan berserakan
Aku ingin berjumpa denganMu, maka jumpai aku dalam pertemuan kami kemudian

(Adibaa Ihsani, 1438 H)

Aku Jatuh cin.ta/

tsubaki via pinterest

Tuhan,  hari ini aku jatuh cinta
Seperti kemarin  aku terbakar oleh apiMu
Seperti kemarinnya lagi aku tenggelam dalam sungaiMu
Seperti kemarin kemarinnya lagi aku tehempas oleh anginMu
Dan kemarin, kemarin, kemarin

Tuhan, hari ini aku jatuh cinta lagi
Dan sepertinya besok dan besok juga
Dalam kendara makhlukMu
Kemanusiaanku hanya buih
Hanya kesaksian yang kurang berada saja, kureguk segala nikmat akan perwujudanMu

Tuhan, yang membuatku jatuh cinta terus
Tak perlu kan aku sebimbang Ibrahim untuk menemukaMu?
atau berguru pada Khidir untuk mencecap hikmahMu?
atau kembali pada ratusan tahun kehidupan untuk berbaris di shaf pertama majlis utusan terakhirMu?

Disini, kucoba kujenguk kalbuku sendiri
Barangkali Engkau mau menyambutku.

(Abidaa Ihsani, 1438 H)

Kenangan Menulis dan Masa Depannya

Pic via : Pinterest

Saya gak tahu kapan tepatnya mulai kecanduan menulis. Yang jelas, hal itu bermula dari kedekatan saya dengan Bapak. Biasa lah. Anak cewek kan pas kecil lebih akrab sama Bapaknya (dan Bapak adalah orang yang paling asik untuk diajak berkonspirasi). Dengan Bapak lah saya belajar huruf-huruf, belajar menyanyi, menari, menggambar, kreativitas, mengenal tumbuhan dan binatang, mengenal keindahan-keindahan (sering diajakin jalan-jalan) dan akhirnya dibelikan berbagai bacaan, terutama majalah. Baca lebih lanjut

Indonesia (suruh) Membaca

beradu pikiran

Ada yang menarik dari ungkapan Seno Gumira Ajidarma dalam pidatonya di Bangkok saat penerimaan Hadiah Sastra Asia Tenggara berikut :

“Masyarakat kami adalah masyarakat yang hanya membaca untuk mencari alamat, membaca untuk tahu harga-harga, membaca untuk melihat lowongan kerja, membaca untuk menengok hasil pertandingan sepak bola, membaca karena ingin tahu berapa persen besar diskon obral di pusat perbelanjaan dan akhirnya membaca subtitle opera-opera sabun di TV untuk sekedar hiburan.

Sementara itu bagi lingkaran eksklusif kaum intelektual di negeri kami, apa yang disebut puisi, cerpen, atau novel barangkali hanya dianggap mainan remaja saja….”—(Anton Kurnia : 2016).

Baca lebih lanjut